Wednesday, November 11, 2009

Remuk Redam

Wahai shahabat, kita ini sama-sama orang yang terasing
Mengapalah kita mesti lebih mengasingkan diri lagi?
Tidakkah cukup keterasingan ini menyatukan hati-hati kita?
Dan aku sangat menyayangimu dalam keterasingan ini

Marilah kita lebur ego-ego kita, wahai shahabat
Bukalah pintu maaf di hati-hati kita
Saling memaafkan serta memberikan kesempatan
Untuk saling memperbaiki diri

Sungguh diri ini bukanlah manusia yang sempurna
Yang tak luput dari khilaf dan kesalahanan
Yang seringkali tak kuat pula menahan gundahnya beban hati
Yang sering tak kuat menahan mata agar tak menangis

Kuyakin engkaupun bukan manusia yang sempurna
Lantas mengapakah kesombongan muncul di hati-hati kita, wahai shahabat?
Bagian diri yang manakah yang patut untuk kita sombongkan?

Tersenyumlah, wahai shahabat
Sambutlah uluran tangan yang terbuka
Saling menebar salam di antara kita
Saling mengingatkan dan mendoakan
Semoga cinta ini bersemi karena cinta kepada Allah

by me
Depok, 11 November 2009

(bagian akhir dari sebuah torehan utuh)

Posted by re_here at 20:55:49 | Permalink | Comments (9)

Friday, October 30, 2009

Mari Menjaga Kesehatan

Semester ini, aku merasa waktu berjalan semakin cepat saja. Sepertinya tak akan cukup waktu tersebut untuk menyelesaikan setiap tugas dan pekerjaan. Baru melakukan beberapa pekerjaan saja, tiba-tiba waktu sudah berlalu sedemikian cepatnya. Menyelesaikan pekerjaan menjelang deadline menjadi suatu tren baru dalam hidupku. Seminggu berlalu rasanya seperti sekejap saja. Tiba-tiba, wew sudah akhir pekan saja! Dan sekejap lagi, wew sudah hari Senin lagi!

Cepatnya waktu berlalu sering diimbangi dengan mengurangi waktu tidur dengan dampak yang bermacam-macam. Dari kadang-kadang bangun kesiangan, bangun dengan ga fresh (pegel-pegel), pusing, ngantuk, dan kadang-kadang juga sakit. Mengenai sakit ini, aku mengakui bahwa mungkin juga karena kesalahanku. Pada suatu malam menjelang ujian, aku belajar hingga larut. Rasanya ingin tidak tidur saja saat itu. Kalaupun tidur, jangan lama-lama deh. Alhasil, malam itu, aku sukses belajar sampai larut sekali dan tertidur di lantai. Padahal saat itu sedang musim penghujan, hawa malam agak-agak “semribit”.

Keesokan paginya, saat terbangun.. Aku merasakan dalam rongga dadaku terasa sangat lembab, batuk pun tak tertahankan. Hiiy, jadi agak-agak takut kalau flek-nya kambuh. Seketika itu juga aku bertekad, ga lagi-lagi deh sengaja tidur di lantai ubin selama masih bisa tidur di tempat tidur. Apalagi kalau ga pakai alas kaya’ waktu itu. Cari penyakit aja… sebelum apapun yang ditakutkan terjadi, aku segera menelan kapsul-kapsul habatussauda dengan rajinnya. Semoga cepat sembuh, Nak!

Beberapa hari yang lalu, aku kembali begadang untuk mengerjakan suatu urusan. Kalau pusing karena penatnya pekerjaan, rehat dulu. Rehatnya ngemil or nge-game (aduh, Nak.. jangan menyia-nyiakan waktumu untuk nge-game forever! Kalau sekali-sekali, boleh ga ya?). Agak fresh, lanjut lagi kerjanya. Begitu seterusnya hingga tak terasa sudah lewat tengah malam. Yah, kira-kira jam setengah 2 malam, kupaksa diriku untuk rela tidur.

Sekitar 4 jam kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang bergetar-getar. Ternyata ada telepon dari my mom. Alhamdulillah, jadinya bangun jugalah diriku.. Ga terlalu kesiangan, insya Allah. Dalam telepon, ibu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Mengingatkanku ‘tuk tak lupa makan. “Makan tapi jangan sekedar kenyang! Makan makanan yang bergizi. Tambah dengan minum suplemen.”

Jleb, jleb.. makanan yang bergizi ya? Huks, huks.. akhir-akhir ni aku sering makan makanan tak bergizi. Fhh, ini tidak boleh dibiarkan. Jangan-jangan tidak optimalnya kerja akhir-akhir ini juga karena kurangnya asupan dari makanan yang bergizi? Baiklah, mari kita kembali ke pola makan yang sehat. Semoga dengannya akan terbentuk juga pola hidup yang sehat. Tak lupa untuk terus berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar senantiasa melindungi diri kita.

* * *

“Allohumma ‘afini fi badani, Allohumma ‘afini fi sam’i, Allohumma ‘afini fi bashori. La ilaha illa anta. Allohumma inni a’udzubika minal kufri wak faqri, wa a’udzubika minal ‘adzabil qobr. La ilaha illa anta.”

“Ya, Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. AKu berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau.”

(Dikutip “Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu Menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih” yang disusun oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas . Hadits hasan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.7-1), Abu Dawud (no. 5090), dan Ahmad (V/42) dari Abu Bakrah radhiyallohu ‘anhu. Lihat Shahih al-Adabil Mufrad (no.539)).

Posted by re_here at 22:35:37 | Permalink | Comments (10)

Tuesday, October 27, 2009

Kalau Harus Menulis

Saya pernah bercita-cita menjadi seorang penulis. Untuk menuju ke sana, saya pun rajin berlatih menulis. Saat kelas 6 SD, saya mempunyai buku khusus tempat menuangkan apa yang ada di dalam pikiran saya. Pada umumnya, tulisan-tulisan yang saya tulis berbentuk opini ataupun artikel bebas. Ditulis dengan pensil dengan huruf tegak bersambung dan pertama kali selalu dibaca oleh teman sebangku saya, Ardian. (Ardian, how r u?? :) )

Gairah menulis saya didukung dengan bacaan yang dijejalkan ke otak saya. Yah, kebanyakan buku-buku yang diberikan oleh ayah dan kakak-kakak saya kepada saya adalah buku-buku tentang agama, ilmu pengetahuan, dan juga majalah-majalah. Majalah-majalahnya juga bergenre sama, pengetahuan popular dan agama. Saat itu, ada Intisari, Hidayatullah, dan El-Fata.

Saat SMP, saya masih menulis tapi lebih ringan. Yah, memasuki masa remaja, masa bingung-bingungnya. Saya menuliskan pengalaman-pengalaman dan apa yang saya pikirkan di buku harian. Ya, menulis buku harian. Kegiatan yang terus dilakukan sampai kuliah (tapi sekarang sih nggak..). Entah ini suatu hal yang baik atau tidak, saya sering merenungkan apa yang terjadi dalam hidup saya. Terlebih lagi setelah menuliskannya dalam bentuk tulisan. Memikirkannya dengan sangat mendalam. Sampai-sampai saya merasa ada loncatan-loncatan pikiran yang mendesak-desak. Loncatan-loncatan pikiran ini menuntut untuk disalurkan ke berbagai hal.

Penyaluran atas loncatan-loncatan pikiran ini bisa ke banyak hal. Olahraga, menulis, meneror (ga baik ya, neror orang pake’ puisi tanpa nama yang jelas), makan, belajar, tidur… Yah, macam-macam. Tentang terror tadi, saya serasa menjadi seorang lain. Ini benar-benar tidak baik, saya kecanduan bacaan psikologis. Cerita-cerita psikolog tentang anak-anak yang diasuhnya. Buku-bukunya Torrey Hayden itulah..

Tapi dengan terror tadi, saya mendapat inspirasi untuk menulis. Sebuah cerita pendek yang diilhami dari sebuah kisah nyata. Ya, kisah tentang terror tadi. Ah, cerita itu kemudian saya kirimkan ke sebuah sayembara dan berhasil merebut hati para juri. Saat itu saya senang sekali. Seorang anak kelas 2 SMA mendapatkan uang Rp1,500,000.00 atas tulisan hasil loncatan-loncatan pikirannya yang aneh. Meski kemudian uang itu dipotong pajak penghasilan dan dipotong pihak sekolah. Tapi saya cukup senang. Alhamdulillah.. bisa kenal dengan siswa-siswa yang hobi nulis juga dari kota tetangga (Dini Nur Latifah, where r u? Tampaknya masih eksis nulis nih Dini ini..)

Hff, sebenarnya apa inti dari tulisan ini? Sebenarnya, dari tadi saya ingin share tentang motivasi yang pernah diberikan oleh seorang guru bahasa Indonesia di SMA saya (Bu Us, apa kabar?) kaitannya dalam membuat tulisan. Saya lupa bagaimana tepatnya sih, tapi intinya begini:

“Kalau tidak ada bahan tapi terus menulis, maka tulisan itu banyak bohongnya. Kalau bahan masih ada tapi berhenti menulis, maka tulisan itu banyak bolongnya.”

Jadi, ayo banyak-banyak menambah bahan agar kita dapat terus menulis dan tulisan kita ada isinya!

Posted by re_here at 19:34:44 | Permalink | Comments (4)

Thursday, October 22, 2009

Lapar dan Haus

Entah, sudah lama rasanya aku tidak menulis dengan segenap hatiku. Menulis dengan serius, menulis dengan perenungan yang dalam, menulis dengan sepenuh hati. Akibatnya, tulisan yang tercipta pun hanyalah sebagai tulisan untuk bersenang-senang, menceritakan apa lahirnya, tanpa didahului perenungan yang dalam. Mood untuk menulis pun menurun dengan sangat drastic. Malam ini, aku beritikad untuk kembali mengisi blog ini. Blog yang beberapa tahun ini terabaikan olehku.

Aku laksana seorang pengembara di tengah padang pasir yang kehausan. Haus sekali, ingin mendapatkan air segar sebanyak mungkin. Jikalau ada seteguk bahkan setetes air segar, niscaya akan segera terserap ia masuk ke dalam mulutku, terserap oleh lidahku, terasa segarnya dalam tubuhku, dan akan terus dan terus aku ingin memuaskan dahagaku. Begitulah hausnya aku untuk mencari setitik ilmu yang bermanfaat. Untuk akhiratku, untuk duniaku, untuk akhiratku…

Mata ini begitu liar ketika melihat sebuah buku yang di dalamnya akan kudapati ilmu yang bermanfaat, dengan segera jiwa dan raga ini memakannya dengan rakus. Lapar, haus, tak puas akan apa yang telah didapat, ingin terus menambahnya setiap saat. Tak segan kurogohkan uang dari saku untuk ilmu itu, ilmu yang bermanfaat. Tapi seringkali, saat habis uang itu, masih belum puas ilmu itu terpenuhi. Membaca cuma-cuma di toko pun menjadi salah satu pilihan.

Beberapa pekan yang lalu, seorang saudari mengajakku ke suatu tempat untuk suatu urusan. Urusan itu membawa kami ke tempat yang lain lagi, suatu tempat yang membuatku sangat terpesona dan ingin kembali lagi ke sana. Suatu rumah, seperti rumah pada umumnya.

Kami membuka pagar, melewati teras, dan memasuki rumah. Ruang tamu dengan beberapa kursi dan meja terhubung dengan sebuah ruang makan dengan isi yang membuat air liurku tak tertahankan. Teringat akan lapar dan dahagaku. Betapa tidak, sekeliling ruang makan itu dipenuhi akan rak-rak yang penuh akan buku-buku yang akan memenuhi lapar dan dahagaku. Berkali-kali aku menelan ludah. Dari setiap buku yang teratur dan rapi itu, baru beberapa saja yang pernah kucicipi dan kucerna dengan porsi utuhnya. Masih banyak yang belum pernah kulahap, bahkan sekedar mencicipi. Air liurku benar-benar “menetes”, dan berkali-kali aku menelan ludah…

Ya Allah, aku begitu senang berada di rumah itu. Ingin rasanya aku segera kembali ke sana, memakan makanan jiwa yang terhidang nan menggugah selera setiap saat, berdiskusi dengan orang-orang yang insya Allah akan semakin mengenyangkanku, menghisap setiap tetes air ilmu semampu yang aku bisa… bukan sekedar memandangnya dengan penuh rasa ingin seperti kesempatan yang tak lama itu.

Posted by re_here at 10:44:13 | Permalink | Comments (6)

Tuesday, April 29, 2008

TMII (bagian 2): Museum Keprajuritan Indonesia

Puas menikmati berbagai kerajinan, aku keluar dari Pusat Industri Seni dan Kriya. Shalat Jumat masih belum usai, aku pun memutuskan untuk mengelilingi bagian depan Taman Mini yang tadinya hanya kami lewati. Aku memasuki sasana-sasana yang tadi terlihat oleh kami. Di dalam sasana-sasana tersebut, dijual beberapa makanan khas daerah tertentu. Ada pula potongan-potongan kayu yang dijual. Unik, potongan-potongan kayu! Saat kulihat dengan lebih teliti, ternya potongan-potongan kayu tersebut adalah kayu-kayu dari pohon yang berbeda. Ada pohon jati, mahoni, cendana, dan lain-lain. Kayu-kayu tadi di-pack dalam sebuah wadah yang cantik. Aku membayangkan, berapa banyakkah souvenir-souvenir tadi diproduksi? Bila ternyata souvenir tersebut diproduksi secara massal, tentulah nyata perbuatan manusia yang membuat kerusakan di muka bumi.

Berkeliling dengan berjala kaki ternyata cukup melelahkan. Aku memutuskan untuk menuju ke “Mini Borobudur” yang terletak di depan masjid mini “Pangeran Diponegoro”, tempat di mana Ansyah dan Daus menunaikan shalat jumat. Melihat miniatur dan membaca sejarah candi itu membuat anganku akan masa lalu melambung. Hal itu membuatku semakin bangga menjadi orang Indonesia. Karya itu menunjukkan betapa tingginya peradaban manusia Indonesia di masa lalu. Betapa cerdas, kreatif, dan tingginya jiwa sen mereka (sayangnya, mengapa mereka menyembah selain kepada Allah???). Bila nenek moyang bangsa Indonesia saja bisa sehebat itu, mestinya kita bisa menjadi bangsa yang hebat pula. Andaikan saja kita mau sadar untuk terus menggali dan mengoptimalkan potensi diri kita.

Hmmm, shalat Jumat telah usai. Kini tiba giliranku untuk menunaikan shalat Dzuhur. Ansyah dan Daus akan menungguku di Pusat Industri Seni dan Kriya.

* * *

Aku kembali bergabung dengan Ansyah dan Daus. Kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Keprajuritan. Dengan tiket masuk seharga Rp1500,00, kami dapat menikmati berbagai diorama dan miniatur senjata-senjta yang pernah digunakan bangsa Indonesia untuk mengusir penjjah. Museum ini sangatlah gagah karena wujudnya merupakan sebuah miniatur benteng pertahanan berbentuk segi lima. Nuansa militer dapat sangat kita rasakan dalam museum tersebut.

Museum Keprajuritan teletak di dekat Museum Transportasi Indonesia. Oleh karenanya, kami sempat pula memasuki dua buah kapal. Suasana di dalam kapal mengingatkan kami akan film-film bajak laut. Untuk sesaat, kami berkhayal menjadi segerombolan bajak laut yang gagah.

Satu hal yang unik adalah kedua kapal tadi dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung. Kami iseng meloncat-loncat sejenak sehinga jembatan pun bergoyang bergelombang. Kami harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh ke dalam air. Kemudian saat kami tiba di tempat yang baku, kami masih merasakan senssasi bergoyang-goyang sampai-sampai kami berbikir bahwa tempat kami berpijak memang bergoyang - tapi tentu saja tidak :D.

Puas bermain menjadi bajak laut, kami menuruni kapal menuju halaman Museum Keprajuritan. Di depan musemum yang gagah itu, berkibar Sang Merah Putih dengan penuh wibawa. Kibarannya anggun mencerminkan kemenangan yang kita raih sehingga ia dapat berkibar dengan tenang. Didukung suasana sekitar museum yang sepi, dihembus angin yang sepoi-sepoi, kami semua terdiam. Termenung kami melihat jayanya sang Merah Putih berkibar. Refleks, aku mengangkat tangan melakukan posisi hormat. Tindakan yang juga diikuti oleh Ansyah dan Daus.

“Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela

Sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah slama-lamanya….”

—to be continued

Posted by re_here at 09:09:51 | Permalink | Comments (6)

Thursday, April 10, 2008

TMII (Bagian 1): “Kereta Api Mini” dan “Pusat Industri Seni dan Kriya”

  Pada hari Jumat (5/4) yang lalu, aku berjalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama dua orang temanku, Ansyah dan daus. Senangnya…. Perjalanan (atau lebih tepatnya tamasya) ini tidak menjadi perjalanan yang sia-sia belaka. Aku merasa mendapatkan banyak wawasan. Apalagi kedua temanku adalah teman-teman yang mengasyikkan untuk diajak diskusi.

Kami tiba di TMII sekitar pukul 10.30 WIB. Kami masuk melalui gerbang utama dengan dibebankan bea Rp9.000,00. Bingung hendak menentukan bagian mana dulu yang ingin dikunjungi, kami pun berjalan tak tentu arah. Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti di dekat kami.

Mas-mas dan mbak! Naik yuk, kita keliling-keliling dulu,” demikian kata kedua penumpang mobil tersebut. Tampaknya mereka berdua adalah petugas khusus TMII yang memang bertugas memandu para pengunjung.

Ansyah, Daus, dan aku saling pandang. Setelah sedikit mempertimbangkan, kami memutuskan untuk naik. Ternyata mobil tersebut menuju Stasiun Kereta Api Mini. Di atas mobil, kami ditarik uang sebesar Rp5.000,00 untuk memperoleh tiket kereta.

Kami tiba di stasiun tak lama kemudian. Kami segera naik ke atas kereta yang berjalan tak lama kemudian. Kereta itu perlahan-lahan membawa kami berkeliling TMII. Saat itulah kami melihat, menyaksikan, karya-karya yang mengagumkan.

Kami menyaksikan miniatur berbaghai macam kebudayaan yang ada di Indesia, teknologi-teknologi yang dikembangkan di Indonesia, sejarah Indonesia, serta kekayaan alam yang ada di Indonesia (untuk yang satu ini, bukan miniatur yah! Lebih tepat dikatakan sebagai sampel). Ada Museum Keprajuritan, Taman Burung, Taman Bunga, Rumah-Rumah Adat Daerah, Insektarium, dan masih banyak yang lainnya. Seluruh miniatur tersebut sangatlah menakjubkan. Meskipun namanya miniatur, jangan dibayangkan seperti maket rumah-rumahan kecil di dalam kotak kaca. Miniatur ini cukup besar sehingga lekuk setiap miniatur sangat merepresentasikan benda aslinya. Bahkan untuk miniatur-miniatur bangunan dan alat transportasi, Anda dapat memasukinya. Satu hal yang terlintas dalam pikiran kami saat berkeliling adalah, “Wow! Ini tempat rekreasi yang edukatif sekali!”

Usai bekeliiling naik kereta api, kami kembali diturunkan di satasiun. Di stasiun, mbak-mbak yang tadi mengantar kami segera menyambut. Salah satu dari mereka kembali mengantar kami berkeliling, naik mobil, ke tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh kereta api. Kali ini kami tidak ditarik bayaran.

Apa yang kami lihat dari dalam mobil tidak kalah menakjubkan dengan apa yang telah kami lihat sebelumnya. Bahkan aku menemukan sebuah tempat yang tampaknya akan kukunjungi suatu hari nanti: Pasar Buku Langka (dasar kutu buku Tongue out).

Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Telah dekat waktunya untuk menunaikan shalat Jumat. Kami pun minta diturunkan di sebuah miniatur masjid yang uniknya benar-benar difungsikan selayaknya masjid. Sementara menunggu Ansyah dan Daus menunaikan shalat Jumat, aku berjalan-jalan ke Pusat Industri Seni dan Kriya Indonesia. Menakjubkan! Berbagai karya budaya dari berbagai daerah di Indonesia dapat ditemui di sana. Dari bali, Jawa Tengah, Sulawesi, Kalimantan, Andalas, bahkan Papua, dapat diperoleh di tempat tersebut. Jadi, bila Anda ingin menipu (Tongue out) teman Anda dengan mengatakan pernah berkunjung ke suatu daerah di Indonesia, Anda dapat datang ke tempat ini. Dengan membelikan kerajinan khas daerah tersebut, teman Anda pasti akan percaya Cool.

—to be continued

Posted by re_here at 15:47:56 | Permalink | No Comments »

Sunday, March 23, 2008

Bila Harus Memilih

Dua tahun hidup di perantauan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan sehari-hari. Di kota besar, banyak tawaran yang menarik untuk diambil. Saking banyaknya, pengennya diambil semuanya. Tapi tidak bisa demikian, pilihan harus ditetapkan. Aku butuh banyak share dengan yang lebih senior tentang menentukan suatu pilihan. Dari banyaknya saran, ada beberapa yang sangat mengena di hatiku.
Pertama, dari seorang kakak yang telah lama kukagumi (6 tahun sebelum aku kenal betulan ma dia, bo! Tongue out). Beliau menyarankan agar aku membuat analisis SWOT (strenghts, weaknessess, oportunities, threats). Dari situ, kita bisa melihat, kita tuh cocok buat pilihan yang mana.



Bila masih bingung, masih dari kakak yang sama, kita harus memilih di mana kita dapat memberikan manfaat lebih banyak. Jadi dalam menentukan suatu pilihan, tidak melulu kita memikirkan manfaat yang akan kita peroleh. Kita juga harus memikirkan, apakah manfaat yang dapat kita berikan dengan menetapkan pilihan tersebut? Memang benar sih, bukankah manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain?

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah di tanya oleh seseorang : “Ya Rasulullah manusia yang bagaimana yang paling di cintai oleh Allah ? “Lalu beliau menjawab : “Manusia yang paling di cintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling di cintai Allah Azza Wa Jalla adalah kebahagian yang kamu masukkan pada seorang muslim, kamu hilangkan darinya kesusahannya, atau kamu bayarkan utangnya, atau kamu tangkal kelaparan darinya. Dan aku berjalan bersama seseorang dalam suatu kebutuhan itu lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid ini yaitu madjid madinah, selama satu bulan. ….. “
( Shahih At-Targhib wa At-Tarhib No. 2623)


Terakhir, dari seorang kakak kelas (dua angkatan di atasku). Dalam menentukan suatu pilihan, niatkan seluruhnya hanya karena Allah. Jadikanlah setiap langkahmu dalam kebaikan itu sebagai dakwah di jalan Allah.  Jangan pernah takut akan rintangan yang akan kauhadapi. Yakinlah, karena Allah telah menjanjikan dalam firmanNYA:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ


“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
(QS. Muhammad: 7)

Posted by re_here at 09:07:17 | Permalink | Comments (3)

Monday, March 10, 2008

Saat Kulihat Bintang

Aku masih tak bisa menghilangkan kekagumanku tiap kali memandang ke langit malam. Gugusan bintang selalu membuat hatiku tergetar. Betapa indah ciptaan-Nya yang berkelip di malam hari. Betapa mereka yang bertebaran di langit selalu menjadi misteri bagi manusia di bumi. Dari langit, dapat kaulihat betapa terbatasnya pikiran manusia. Manusia yang tak kan pernah tuntas mengupas rahasia langit. Tapi mengapa manusia sering menjadi sombong akan pengetahuannya?

Dari bintang-bintang nan cantik itu, dapat kautemukan berbagai informasi yang sangat mengagumkan. Menunjukkan betapa bergunanya bintang-bintang itu bagi kehidupan manusia. Tapi mengapa manusia sering bersikap egois? Tak jarang hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya, tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain? Pernahkah kita berpikir untuk menjadi orang yang bermanfaat? Apa langkah yang telah kita tempuh untuk mewujudkannya? Kemudian seberapa lurus dan tulus niat kita?

Lihatlah bintang-bintang itu memberikan petunjuk tentang arah, musim, waktu, dan sebagainya. Tidakkah kaulihat kebesaran-Nya dalam gugus bintang itu? Betapa Dia Maha Pandai mengatur posisi bintang-bintang itu sehingga membuat mereka berguna bagi kita? Tidakkah kaulihat betapa rumit penciptaan-Nya? Mungkinkah semua itu berasal dari ketidaksengajaan?

Siapakah yang menjaga mereka tetap pada formasinya? Siapakah yang menahan mereka agar tak berjatuhan dan menghancurkan dunia? Apa jadinya bila mereka semua bertabrakan dan meledak? Apa yang terjadi bila semuanya diredupkan sinarnya dan kau berada dalam kegelapan? Akankah kita bisa hidup tanpa penciptaan bintang? Siapakah yang berkuasa untuk menciptakan bintang?

Lalu masihkah kita menyangkal keberadaan-Nya? Bukankah masih banyak ayat-ayatNya yang bertebaran di muka bumi? Mengapa kita masih meragukan-Nya? Betapa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Posted by re_here at 10:27:14 | Permalink | Comments (7)

Thursday, March 6, 2008

Apa Kata Orang Tuamu?

Hhhh… kenapa ya akhir-akhir ini aku rajin banget belajar? (hueee… narsis Tongue out) Ga tahu juga ya, rasanya kalo’ ga belajar itu aneh banget. Bab demi bab “Intel Microprosessor” yang pada awalnya bikin aku mabok (karena full teori), akhirnya kulalap juga. Begitu juga “Electric Circuit Analysis” yang dulunya paling enak buat bantal, sekarang jadi rajin kubaca. “Engineering Electromagnetics”? Ga ketinggalan juga. Ada apa gerangan ini? Ya, mudah-mudahan ini adalah sesuatu yang baik.

Sekarang aku ga pengen nyeritain tentang buku-buku yang akhir-akhir ini rajin kubaca itu. Aku cuma pengen cerita tentang sebuah pengalaman masa kecilku yang sangat menyentuh si Aku Kecil. Kiranya pengalaman itu turut membentuk kepribadianku juga.

======

Pernah suatu ketika, di masa aku kecil, aku mengambil sepotong roti dan menggigitnya sedikit. Sebelum roti itu habis, aku melemparnya ke lantai. Tentu saja si Aku Kecil tidak berniat untuk memakannya lagi.

Pernah juga, aku mengambil sebuah kroket kentang. Dasar deh, anak kecil ga tahu makanan enak. Dilemparlah sang kroket ke kebun. Tapi sekarang, membuang makanan adalah hal yang sangat kuhindari. Makan pun harus habis sampai butir-butir terakhir. Malah, kalau lagi baik hati, aku juga ikut membantu kalau temanku ga mampu menghabiskan makanannya. Laughing

Apa yang membuatku berubah sedemikan rupa?

Saat aku kecil, ketika melihatku melakukan aksi buang itu, ibuku berkata “Aduuuh, jangan dibuang begitu. Kasihan. Coba kalau kamu bisa mengerti bahasa roti. Waktu kamu membuangnya, dia menangis lho! Katanya ‘Huuu…huu.. kenapa aku dibuang? Aku kan ga salah apa-apa..‘.”

Si Aku Kecil jadi terharu. Menangis dan mengambil kembali makanan yang dibuangnya.

Bukan cuma masalah makanan. Ibu juga mengatakan hal yang serupa bila aku melempar-lempar buku ke lantai. Sampai sekarang, aku jadi sangat mencintai buku.

======

Ternyata, ucapan sederhana orang tua yang dapat merebut perasaan anak, dapat membentuk kepribadian yang sangat kuat terkait dengan konteks ucapannya. Ada juga nih, cerita temanku tentang temannya. Sebut saja si A.

Pada saat si A masih kecil, dia selalu enggan merapikan kembali mainannya. Saat itu ibunya berkata “Ayo, diberesin mainannya kalau sudah selesai!”

Apa kata si A?

“Ah, ga usah Bu! Buat apa diberesin, nanti juga bakal berantakan lagi.”

Ibunya tak berkata apa-apa hingga tiba saatnya si A untuk makan.

“Bu, lapar nih. Mau makan…”

Sebelum sang Ibu menyiapkan makanan, sang Ayah berkata “Ga usah dikasih makan, Bu! Buat apa dikasih makan, nanti juga bakal lapar lagi.”

Si A terhentak. Perasaannya yang masih bersih tentu saja dapat mengambil pesan moral dari kejadian itu. Dia pun segera membersihkan mainannya. Sejak saat itu, ia juga tak pernah meninggalkan mainannya dalam keadaan berantakan

Posted by re_here at 11:28:41 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, February 5, 2008

Waspada!!!

Hmm… tempat ibadah aja ga aman ya. Hari ini tas sobatku ilang beserta isinya di tempat ibadah. Waktu liburan, laptop temanku ilang di tempat ibadah juga. Yang kebangetan, waktu temenku tidur di tempat ibadah, kacamata yang lagi dipakainya ilang! (Kalo’ yang terakhir ni mau kasihan tapi pengen ketawa. Kacamata gitu loh…..Cool)

Ga semua tempat ibadah sich. Lebih tepatnya tempat ibadah di lingkungan perkuliahanku yang tercinta. Sebenernya yang ditekanin bukan di tempat ibadahnya, di kantin juga rawan kok. Cuma yang  bisa diambil hikmahnya, waspada donk! “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat jahat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan,” gitu kata Bang Napi. Perkecillah kesempatan bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan. Dalam kasus tadi, mbok ya bila ingin meninggalkan barang, titipkanlah pada orang yang dapat dipercaya. Bila ternyata tak ada orang yang dapat dipercaya, bawalah barangmu ke manapun kamu pergi. Gituuu….. (Kalau mau ninggalin, biasanya itu kaus kaki. Terserah deh kalau ada yang berminat ma kaus kakiku. Tongue out).

Posted by re_here at 13:26:45 | Permalink | Comments (6)