Friday, November 6, 2009

Menjadi yang Terasing

(Maaf ga diupload di FB, karena tadi tiba2 gagal masuk FB lagi walau dah pake ultrasurf. Jadi, di sini saja ya. Maaf)

Sebenarnya aku sempat merasa ragu-ragu untuk publish notes ini. Aku takut tulisan ini malah jadi boomerang bagiku. Tapi yah,, karena mungkin penting, karena kawan-kawan ingin mengetahuinya, yah.. Maafkan aku sebelumnya ya..

*             *             *

Baru kini aku merasakan keterasingan itu, kini saat aku memutuskan untuk mencoba bersabar meninggalkan hal-hal yang aku cintai. Kemarin dulu, orang-orang masih membiarkanku dengan penampilanku asalkan aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang masih tersenyum manis padaku karena aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang menyanjungku karena aku bersama-sama mereka dan berjuang bersama mereka. Kemarin dulu, aku menikmatinya dan bersama-sama mereka berjuang serta melakukan hal-hal yang kami cintai.

Sekarang, sungguh aku masih mencintai hal itu wahai kawan-kawan seperjuanganku. Aku juga masih menyukai kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Bagaimanapun, kalian adalah salah satu kenangan terindah yang pernah tertoreh dalam hidupku. Eratnya rasa kebersamaan dan seperjuangan. Pengertian dan komunikasi walaupun tidak terucap melalui kata-kata. Just understanding and do it. Do the best for the team. Aku pun masih ingin bermain-main dengan kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Namun tak lagi seperti dulu, tak lagi di depan khalayak. Aku malu wahai kawan. Tak patutlah diri ini beraksi di tengah khalayak seperti itu. Tak patut, wahai kawan. Mungkin aku masih mau untuk bermain jikalau kita bermain di tempat tertutup yang tak seorangpun lelaki melihat kita, wahai kawan.

Salahku memang karena tak dapat mengkomunikasikan hal tersebut jauh-jauh hari. Mungkin memang salahku pula aku belum berhasil melatih seseorang yang diharapkan dapat menggantikanku, dengan kemampuan yang setara pula denganku. Di masa-masa lalu pun tak sanggup aku keluar meski hanya untuk menonton saja, bukan bermain langsung. Mempersilahkan calon penggantiku untuk tampil. “Jangan, Fa! Memang dia akan jadi penggantimu, tapi jangan sekarang! Mumpung masih ada kamu, kamu yang harus main Fa! Ini pertandingan penting,” demikian selalu kalian katakan. Sekarang pun, kalian masih mengharapkanku. “Terakhir, Fa! Tahun terakhir! Kamu satu-satunya andalan kami. Pemain lain memang banyak, tapi tak ada untuk posisimu! Kalaupun ada, dia tidak jago!” begitu kalian membujukku. Tapi aku tak ingin lagi menunda untuk meninggalkannya wahai kawan. Karena aku tak tau kapan hidupku akan dihentikan. Sudah cukup beberapa tahun aku menundanya, pantang kutunda lagi. Bersyukur Allah masih memberikanku kesempatan untuk berbenah diri.

Berkali-kali kalian mencoba mengajakku melalui seseorang yang aku segani. Aku takut hatiku luluh ketika aku mencoba meladeni. Oleh Karenanya, maafkan aku yang memutuskan untuk tidak bicara wahai kawan. Aku tahu kalian tentu akan sedih, kesal, dan menyesalkan ketiadaanku di sana (maaf kalau ternyata aku Cuma GR). Dan akupun sedih jika melihat kalian dalam keadaan tidak bersemangat, sedih, dan kesal. Lebih-lebih jika aku yang membuat kalian seperti itu. Namun sekali lagi maaf ya, kawan.. aku tidak akan tampil lagi selama persyaratan tadi belum terpenuhi. Dan aku masih menyayangi kalian, kawan-kawanku.

Pun di saat-saat seperti ini, aku disibukkan oleh suatu pertanggungjawaban yang begitu menyita konsentrasi, waktu, tenaga, pikiran, kesabaran.. Lalu hal tersebut terasa begitu menekan karena kerumitan prosedural negara kita dan banyaknya gangguan yang mengajak kita pada ketidakjujuran. Demikian tidak jujurnya. Tidak wahai penasihat-penasihat kami. Walaupun apa yang akan kita tuntut adalah hak kita, tapi tidaklah kita dihalalkan untuk mengambilnya dengan jalan yang tidak haq. Biarlah, biar.. jika pada akhirnya tidak kami peroleh hak tersebut asalkan kami tidak terjerumus dalam lubang ketidakjujuran, kecurangan, dan kelicikan. Namun kami berdoa agar dapatlah hak tersebut kami peroleh dengan jalan-jalan yang diridhoi oleh sang Pencipta langit, bumi, dan apa-apa yang ada di dalamnya.

Di saat-saat seperti ini, aku merasa memerlukan suatu dukungan. Tapi aku tak bisa mengharapkan hal tersebut dari manusia. Memang sedih rasanya ketika seseorang yang kauharap akan memahami kondisimu dan mendukungmu malah meninggalkanmu. Aku juga merasakannya. Oleh karena itu, dalam keterasingan ini, hanya Allah sajalah tempatku bernaung. Dia yang tak akan pernah membuatku kecewa.

Ya hayyu, ya qoyyum.. birohmatika astaghits, ashlihli sya’ni kullah. Wa la takilni ila nafsi, thorfata ‘ain…

Posted by re_here at 15:18:18 | Permalink | Comments (10)

Tuesday, April 29, 2008

TMII (bagian 2): Museum Keprajuritan Indonesia

Puas menikmati berbagai kerajinan, aku keluar dari Pusat Industri Seni dan Kriya. Shalat Jumat masih belum usai, aku pun memutuskan untuk mengelilingi bagian depan Taman Mini yang tadinya hanya kami lewati. Aku memasuki sasana-sasana yang tadi terlihat oleh kami. Di dalam sasana-sasana tersebut, dijual beberapa makanan khas daerah tertentu. Ada pula potongan-potongan kayu yang dijual. Unik, potongan-potongan kayu! Saat kulihat dengan lebih teliti, ternya potongan-potongan kayu tersebut adalah kayu-kayu dari pohon yang berbeda. Ada pohon jati, mahoni, cendana, dan lain-lain. Kayu-kayu tadi di-pack dalam sebuah wadah yang cantik. Aku membayangkan, berapa banyakkah souvenir-souvenir tadi diproduksi? Bila ternyata souvenir tersebut diproduksi secara massal, tentulah nyata perbuatan manusia yang membuat kerusakan di muka bumi.

Berkeliling dengan berjala kaki ternyata cukup melelahkan. Aku memutuskan untuk menuju ke “Mini Borobudur” yang terletak di depan masjid mini “Pangeran Diponegoro”, tempat di mana Ansyah dan Daus menunaikan shalat jumat. Melihat miniatur dan membaca sejarah candi itu membuat anganku akan masa lalu melambung. Hal itu membuatku semakin bangga menjadi orang Indonesia. Karya itu menunjukkan betapa tingginya peradaban manusia Indonesia di masa lalu. Betapa cerdas, kreatif, dan tingginya jiwa sen mereka (sayangnya, mengapa mereka menyembah selain kepada Allah???). Bila nenek moyang bangsa Indonesia saja bisa sehebat itu, mestinya kita bisa menjadi bangsa yang hebat pula. Andaikan saja kita mau sadar untuk terus menggali dan mengoptimalkan potensi diri kita.

Hmmm, shalat Jumat telah usai. Kini tiba giliranku untuk menunaikan shalat Dzuhur. Ansyah dan Daus akan menungguku di Pusat Industri Seni dan Kriya.

* * *

Aku kembali bergabung dengan Ansyah dan Daus. Kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Keprajuritan. Dengan tiket masuk seharga Rp1500,00, kami dapat menikmati berbagai diorama dan miniatur senjata-senjta yang pernah digunakan bangsa Indonesia untuk mengusir penjjah. Museum ini sangatlah gagah karena wujudnya merupakan sebuah miniatur benteng pertahanan berbentuk segi lima. Nuansa militer dapat sangat kita rasakan dalam museum tersebut.

Museum Keprajuritan teletak di dekat Museum Transportasi Indonesia. Oleh karenanya, kami sempat pula memasuki dua buah kapal. Suasana di dalam kapal mengingatkan kami akan film-film bajak laut. Untuk sesaat, kami berkhayal menjadi segerombolan bajak laut yang gagah.

Satu hal yang unik adalah kedua kapal tadi dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung. Kami iseng meloncat-loncat sejenak sehinga jembatan pun bergoyang bergelombang. Kami harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh ke dalam air. Kemudian saat kami tiba di tempat yang baku, kami masih merasakan senssasi bergoyang-goyang sampai-sampai kami berbikir bahwa tempat kami berpijak memang bergoyang - tapi tentu saja tidak :D.

Puas bermain menjadi bajak laut, kami menuruni kapal menuju halaman Museum Keprajuritan. Di depan musemum yang gagah itu, berkibar Sang Merah Putih dengan penuh wibawa. Kibarannya anggun mencerminkan kemenangan yang kita raih sehingga ia dapat berkibar dengan tenang. Didukung suasana sekitar museum yang sepi, dihembus angin yang sepoi-sepoi, kami semua terdiam. Termenung kami melihat jayanya sang Merah Putih berkibar. Refleks, aku mengangkat tangan melakukan posisi hormat. Tindakan yang juga diikuti oleh Ansyah dan Daus.

“Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela

Sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah slama-lamanya….”

—to be continued

Posted by re_here at 09:09:51 | Permalink | Comments (6)

Thursday, April 10, 2008

TMII (Bagian 1): “Kereta Api Mini” dan “Pusat Industri Seni dan Kriya”

  Pada hari Jumat (5/4) yang lalu, aku berjalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama dua orang temanku, Ansyah dan daus. Senangnya…. Perjalanan (atau lebih tepatnya tamasya) ini tidak menjadi perjalanan yang sia-sia belaka. Aku merasa mendapatkan banyak wawasan. Apalagi kedua temanku adalah teman-teman yang mengasyikkan untuk diajak diskusi.

Kami tiba di TMII sekitar pukul 10.30 WIB. Kami masuk melalui gerbang utama dengan dibebankan bea Rp9.000,00. Bingung hendak menentukan bagian mana dulu yang ingin dikunjungi, kami pun berjalan tak tentu arah. Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti di dekat kami.

Mas-mas dan mbak! Naik yuk, kita keliling-keliling dulu,” demikian kata kedua penumpang mobil tersebut. Tampaknya mereka berdua adalah petugas khusus TMII yang memang bertugas memandu para pengunjung.

Ansyah, Daus, dan aku saling pandang. Setelah sedikit mempertimbangkan, kami memutuskan untuk naik. Ternyata mobil tersebut menuju Stasiun Kereta Api Mini. Di atas mobil, kami ditarik uang sebesar Rp5.000,00 untuk memperoleh tiket kereta.

Kami tiba di stasiun tak lama kemudian. Kami segera naik ke atas kereta yang berjalan tak lama kemudian. Kereta itu perlahan-lahan membawa kami berkeliling TMII. Saat itulah kami melihat, menyaksikan, karya-karya yang mengagumkan.

Kami menyaksikan miniatur berbaghai macam kebudayaan yang ada di Indesia, teknologi-teknologi yang dikembangkan di Indonesia, sejarah Indonesia, serta kekayaan alam yang ada di Indonesia (untuk yang satu ini, bukan miniatur yah! Lebih tepat dikatakan sebagai sampel). Ada Museum Keprajuritan, Taman Burung, Taman Bunga, Rumah-Rumah Adat Daerah, Insektarium, dan masih banyak yang lainnya. Seluruh miniatur tersebut sangatlah menakjubkan. Meskipun namanya miniatur, jangan dibayangkan seperti maket rumah-rumahan kecil di dalam kotak kaca. Miniatur ini cukup besar sehingga lekuk setiap miniatur sangat merepresentasikan benda aslinya. Bahkan untuk miniatur-miniatur bangunan dan alat transportasi, Anda dapat memasukinya. Satu hal yang terlintas dalam pikiran kami saat berkeliling adalah, “Wow! Ini tempat rekreasi yang edukatif sekali!”

Usai bekeliiling naik kereta api, kami kembali diturunkan di satasiun. Di stasiun, mbak-mbak yang tadi mengantar kami segera menyambut. Salah satu dari mereka kembali mengantar kami berkeliling, naik mobil, ke tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh kereta api. Kali ini kami tidak ditarik bayaran.

Apa yang kami lihat dari dalam mobil tidak kalah menakjubkan dengan apa yang telah kami lihat sebelumnya. Bahkan aku menemukan sebuah tempat yang tampaknya akan kukunjungi suatu hari nanti: Pasar Buku Langka (dasar kutu buku Tongue out).

Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Telah dekat waktunya untuk menunaikan shalat Jumat. Kami pun minta diturunkan di sebuah miniatur masjid yang uniknya benar-benar difungsikan selayaknya masjid. Sementara menunggu Ansyah dan Daus menunaikan shalat Jumat, aku berjalan-jalan ke Pusat Industri Seni dan Kriya Indonesia. Menakjubkan! Berbagai karya budaya dari berbagai daerah di Indonesia dapat ditemui di sana. Dari bali, Jawa Tengah, Sulawesi, Kalimantan, Andalas, bahkan Papua, dapat diperoleh di tempat tersebut. Jadi, bila Anda ingin menipu (Tongue out) teman Anda dengan mengatakan pernah berkunjung ke suatu daerah di Indonesia, Anda dapat datang ke tempat ini. Dengan membelikan kerajinan khas daerah tersebut, teman Anda pasti akan percaya Cool.

—to be continued

Posted by re_here at 15:47:56 | Permalink | No Comments »