Friday, November 6, 2009

Menjadi yang Terasing

(Maaf ga diupload di FB, karena tadi tiba2 gagal masuk FB lagi walau dah pake ultrasurf. Jadi, di sini saja ya. Maaf)

Sebenarnya aku sempat merasa ragu-ragu untuk publish notes ini. Aku takut tulisan ini malah jadi boomerang bagiku. Tapi yah,, karena mungkin penting, karena kawan-kawan ingin mengetahuinya, yah.. Maafkan aku sebelumnya ya..

*             *             *

Baru kini aku merasakan keterasingan itu, kini saat aku memutuskan untuk mencoba bersabar meninggalkan hal-hal yang aku cintai. Kemarin dulu, orang-orang masih membiarkanku dengan penampilanku asalkan aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang masih tersenyum manis padaku karena aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang menyanjungku karena aku bersama-sama mereka dan berjuang bersama mereka. Kemarin dulu, aku menikmatinya dan bersama-sama mereka berjuang serta melakukan hal-hal yang kami cintai.

Sekarang, sungguh aku masih mencintai hal itu wahai kawan-kawan seperjuanganku. Aku juga masih menyukai kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Bagaimanapun, kalian adalah salah satu kenangan terindah yang pernah tertoreh dalam hidupku. Eratnya rasa kebersamaan dan seperjuangan. Pengertian dan komunikasi walaupun tidak terucap melalui kata-kata. Just understanding and do it. Do the best for the team. Aku pun masih ingin bermain-main dengan kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Namun tak lagi seperti dulu, tak lagi di depan khalayak. Aku malu wahai kawan. Tak patutlah diri ini beraksi di tengah khalayak seperti itu. Tak patut, wahai kawan. Mungkin aku masih mau untuk bermain jikalau kita bermain di tempat tertutup yang tak seorangpun lelaki melihat kita, wahai kawan.

Salahku memang karena tak dapat mengkomunikasikan hal tersebut jauh-jauh hari. Mungkin memang salahku pula aku belum berhasil melatih seseorang yang diharapkan dapat menggantikanku, dengan kemampuan yang setara pula denganku. Di masa-masa lalu pun tak sanggup aku keluar meski hanya untuk menonton saja, bukan bermain langsung. Mempersilahkan calon penggantiku untuk tampil. “Jangan, Fa! Memang dia akan jadi penggantimu, tapi jangan sekarang! Mumpung masih ada kamu, kamu yang harus main Fa! Ini pertandingan penting,” demikian selalu kalian katakan. Sekarang pun, kalian masih mengharapkanku. “Terakhir, Fa! Tahun terakhir! Kamu satu-satunya andalan kami. Pemain lain memang banyak, tapi tak ada untuk posisimu! Kalaupun ada, dia tidak jago!” begitu kalian membujukku. Tapi aku tak ingin lagi menunda untuk meninggalkannya wahai kawan. Karena aku tak tau kapan hidupku akan dihentikan. Sudah cukup beberapa tahun aku menundanya, pantang kutunda lagi. Bersyukur Allah masih memberikanku kesempatan untuk berbenah diri.

Berkali-kali kalian mencoba mengajakku melalui seseorang yang aku segani. Aku takut hatiku luluh ketika aku mencoba meladeni. Oleh Karenanya, maafkan aku yang memutuskan untuk tidak bicara wahai kawan. Aku tahu kalian tentu akan sedih, kesal, dan menyesalkan ketiadaanku di sana (maaf kalau ternyata aku Cuma GR). Dan akupun sedih jika melihat kalian dalam keadaan tidak bersemangat, sedih, dan kesal. Lebih-lebih jika aku yang membuat kalian seperti itu. Namun sekali lagi maaf ya, kawan.. aku tidak akan tampil lagi selama persyaratan tadi belum terpenuhi. Dan aku masih menyayangi kalian, kawan-kawanku.

Pun di saat-saat seperti ini, aku disibukkan oleh suatu pertanggungjawaban yang begitu menyita konsentrasi, waktu, tenaga, pikiran, kesabaran.. Lalu hal tersebut terasa begitu menekan karena kerumitan prosedural negara kita dan banyaknya gangguan yang mengajak kita pada ketidakjujuran. Demikian tidak jujurnya. Tidak wahai penasihat-penasihat kami. Walaupun apa yang akan kita tuntut adalah hak kita, tapi tidaklah kita dihalalkan untuk mengambilnya dengan jalan yang tidak haq. Biarlah, biar.. jika pada akhirnya tidak kami peroleh hak tersebut asalkan kami tidak terjerumus dalam lubang ketidakjujuran, kecurangan, dan kelicikan. Namun kami berdoa agar dapatlah hak tersebut kami peroleh dengan jalan-jalan yang diridhoi oleh sang Pencipta langit, bumi, dan apa-apa yang ada di dalamnya.

Di saat-saat seperti ini, aku merasa memerlukan suatu dukungan. Tapi aku tak bisa mengharapkan hal tersebut dari manusia. Memang sedih rasanya ketika seseorang yang kauharap akan memahami kondisimu dan mendukungmu malah meninggalkanmu. Aku juga merasakannya. Oleh karena itu, dalam keterasingan ini, hanya Allah sajalah tempatku bernaung. Dia yang tak akan pernah membuatku kecewa.

Ya hayyu, ya qoyyum.. birohmatika astaghits, ashlihli sya’ni kullah. Wa la takilni ila nafsi, thorfata ‘ain…

Posted by re_here at 15:18:18 | Permalink | Comments (10)

Thursday, October 22, 2009

Lapar dan Haus

Entah, sudah lama rasanya aku tidak menulis dengan segenap hatiku. Menulis dengan serius, menulis dengan perenungan yang dalam, menulis dengan sepenuh hati. Akibatnya, tulisan yang tercipta pun hanyalah sebagai tulisan untuk bersenang-senang, menceritakan apa lahirnya, tanpa didahului perenungan yang dalam. Mood untuk menulis pun menurun dengan sangat drastic. Malam ini, aku beritikad untuk kembali mengisi blog ini. Blog yang beberapa tahun ini terabaikan olehku.

Aku laksana seorang pengembara di tengah padang pasir yang kehausan. Haus sekali, ingin mendapatkan air segar sebanyak mungkin. Jikalau ada seteguk bahkan setetes air segar, niscaya akan segera terserap ia masuk ke dalam mulutku, terserap oleh lidahku, terasa segarnya dalam tubuhku, dan akan terus dan terus aku ingin memuaskan dahagaku. Begitulah hausnya aku untuk mencari setitik ilmu yang bermanfaat. Untuk akhiratku, untuk duniaku, untuk akhiratku…

Mata ini begitu liar ketika melihat sebuah buku yang di dalamnya akan kudapati ilmu yang bermanfaat, dengan segera jiwa dan raga ini memakannya dengan rakus. Lapar, haus, tak puas akan apa yang telah didapat, ingin terus menambahnya setiap saat. Tak segan kurogohkan uang dari saku untuk ilmu itu, ilmu yang bermanfaat. Tapi seringkali, saat habis uang itu, masih belum puas ilmu itu terpenuhi. Membaca cuma-cuma di toko pun menjadi salah satu pilihan.

Beberapa pekan yang lalu, seorang saudari mengajakku ke suatu tempat untuk suatu urusan. Urusan itu membawa kami ke tempat yang lain lagi, suatu tempat yang membuatku sangat terpesona dan ingin kembali lagi ke sana. Suatu rumah, seperti rumah pada umumnya.

Kami membuka pagar, melewati teras, dan memasuki rumah. Ruang tamu dengan beberapa kursi dan meja terhubung dengan sebuah ruang makan dengan isi yang membuat air liurku tak tertahankan. Teringat akan lapar dan dahagaku. Betapa tidak, sekeliling ruang makan itu dipenuhi akan rak-rak yang penuh akan buku-buku yang akan memenuhi lapar dan dahagaku. Berkali-kali aku menelan ludah. Dari setiap buku yang teratur dan rapi itu, baru beberapa saja yang pernah kucicipi dan kucerna dengan porsi utuhnya. Masih banyak yang belum pernah kulahap, bahkan sekedar mencicipi. Air liurku benar-benar “menetes”, dan berkali-kali aku menelan ludah…

Ya Allah, aku begitu senang berada di rumah itu. Ingin rasanya aku segera kembali ke sana, memakan makanan jiwa yang terhidang nan menggugah selera setiap saat, berdiskusi dengan orang-orang yang insya Allah akan semakin mengenyangkanku, menghisap setiap tetes air ilmu semampu yang aku bisa… bukan sekedar memandangnya dengan penuh rasa ingin seperti kesempatan yang tak lama itu.

Posted by re_here at 10:44:13 | Permalink | Comments (6)

Sunday, March 23, 2008

Bila Harus Memilih

Dua tahun hidup di perantauan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan sehari-hari. Di kota besar, banyak tawaran yang menarik untuk diambil. Saking banyaknya, pengennya diambil semuanya. Tapi tidak bisa demikian, pilihan harus ditetapkan. Aku butuh banyak share dengan yang lebih senior tentang menentukan suatu pilihan. Dari banyaknya saran, ada beberapa yang sangat mengena di hatiku.
Pertama, dari seorang kakak yang telah lama kukagumi (6 tahun sebelum aku kenal betulan ma dia, bo! Tongue out). Beliau menyarankan agar aku membuat analisis SWOT (strenghts, weaknessess, oportunities, threats). Dari situ, kita bisa melihat, kita tuh cocok buat pilihan yang mana.



Bila masih bingung, masih dari kakak yang sama, kita harus memilih di mana kita dapat memberikan manfaat lebih banyak. Jadi dalam menentukan suatu pilihan, tidak melulu kita memikirkan manfaat yang akan kita peroleh. Kita juga harus memikirkan, apakah manfaat yang dapat kita berikan dengan menetapkan pilihan tersebut? Memang benar sih, bukankah manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain?

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah di tanya oleh seseorang : “Ya Rasulullah manusia yang bagaimana yang paling di cintai oleh Allah ? “Lalu beliau menjawab : “Manusia yang paling di cintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling di cintai Allah Azza Wa Jalla adalah kebahagian yang kamu masukkan pada seorang muslim, kamu hilangkan darinya kesusahannya, atau kamu bayarkan utangnya, atau kamu tangkal kelaparan darinya. Dan aku berjalan bersama seseorang dalam suatu kebutuhan itu lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid ini yaitu madjid madinah, selama satu bulan. ….. “
( Shahih At-Targhib wa At-Tarhib No. 2623)


Terakhir, dari seorang kakak kelas (dua angkatan di atasku). Dalam menentukan suatu pilihan, niatkan seluruhnya hanya karena Allah. Jadikanlah setiap langkahmu dalam kebaikan itu sebagai dakwah di jalan Allah.  Jangan pernah takut akan rintangan yang akan kauhadapi. Yakinlah, karena Allah telah menjanjikan dalam firmanNYA:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ


“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
(QS. Muhammad: 7)

Posted by re_here at 09:07:17 | Permalink | Comments (3)

Monday, March 10, 2008

Saat Kulihat Bintang

Aku masih tak bisa menghilangkan kekagumanku tiap kali memandang ke langit malam. Gugusan bintang selalu membuat hatiku tergetar. Betapa indah ciptaan-Nya yang berkelip di malam hari. Betapa mereka yang bertebaran di langit selalu menjadi misteri bagi manusia di bumi. Dari langit, dapat kaulihat betapa terbatasnya pikiran manusia. Manusia yang tak kan pernah tuntas mengupas rahasia langit. Tapi mengapa manusia sering menjadi sombong akan pengetahuannya?

Dari bintang-bintang nan cantik itu, dapat kautemukan berbagai informasi yang sangat mengagumkan. Menunjukkan betapa bergunanya bintang-bintang itu bagi kehidupan manusia. Tapi mengapa manusia sering bersikap egois? Tak jarang hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya, tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain? Pernahkah kita berpikir untuk menjadi orang yang bermanfaat? Apa langkah yang telah kita tempuh untuk mewujudkannya? Kemudian seberapa lurus dan tulus niat kita?

Lihatlah bintang-bintang itu memberikan petunjuk tentang arah, musim, waktu, dan sebagainya. Tidakkah kaulihat kebesaran-Nya dalam gugus bintang itu? Betapa Dia Maha Pandai mengatur posisi bintang-bintang itu sehingga membuat mereka berguna bagi kita? Tidakkah kaulihat betapa rumit penciptaan-Nya? Mungkinkah semua itu berasal dari ketidaksengajaan?

Siapakah yang menjaga mereka tetap pada formasinya? Siapakah yang menahan mereka agar tak berjatuhan dan menghancurkan dunia? Apa jadinya bila mereka semua bertabrakan dan meledak? Apa yang terjadi bila semuanya diredupkan sinarnya dan kau berada dalam kegelapan? Akankah kita bisa hidup tanpa penciptaan bintang? Siapakah yang berkuasa untuk menciptakan bintang?

Lalu masihkah kita menyangkal keberadaan-Nya? Bukankah masih banyak ayat-ayatNya yang bertebaran di muka bumi? Mengapa kita masih meragukan-Nya? Betapa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Posted by re_here at 10:27:14 | Permalink | Comments (7)

Thursday, March 6, 2008

Apa Kata Orang Tuamu?

Hhhh… kenapa ya akhir-akhir ini aku rajin banget belajar? (hueee… narsis Tongue out) Ga tahu juga ya, rasanya kalo’ ga belajar itu aneh banget. Bab demi bab “Intel Microprosessor” yang pada awalnya bikin aku mabok (karena full teori), akhirnya kulalap juga. Begitu juga “Electric Circuit Analysis” yang dulunya paling enak buat bantal, sekarang jadi rajin kubaca. “Engineering Electromagnetics”? Ga ketinggalan juga. Ada apa gerangan ini? Ya, mudah-mudahan ini adalah sesuatu yang baik.

Sekarang aku ga pengen nyeritain tentang buku-buku yang akhir-akhir ini rajin kubaca itu. Aku cuma pengen cerita tentang sebuah pengalaman masa kecilku yang sangat menyentuh si Aku Kecil. Kiranya pengalaman itu turut membentuk kepribadianku juga.

======

Pernah suatu ketika, di masa aku kecil, aku mengambil sepotong roti dan menggigitnya sedikit. Sebelum roti itu habis, aku melemparnya ke lantai. Tentu saja si Aku Kecil tidak berniat untuk memakannya lagi.

Pernah juga, aku mengambil sebuah kroket kentang. Dasar deh, anak kecil ga tahu makanan enak. Dilemparlah sang kroket ke kebun. Tapi sekarang, membuang makanan adalah hal yang sangat kuhindari. Makan pun harus habis sampai butir-butir terakhir. Malah, kalau lagi baik hati, aku juga ikut membantu kalau temanku ga mampu menghabiskan makanannya. Laughing

Apa yang membuatku berubah sedemikan rupa?

Saat aku kecil, ketika melihatku melakukan aksi buang itu, ibuku berkata “Aduuuh, jangan dibuang begitu. Kasihan. Coba kalau kamu bisa mengerti bahasa roti. Waktu kamu membuangnya, dia menangis lho! Katanya ‘Huuu…huu.. kenapa aku dibuang? Aku kan ga salah apa-apa..‘.”

Si Aku Kecil jadi terharu. Menangis dan mengambil kembali makanan yang dibuangnya.

Bukan cuma masalah makanan. Ibu juga mengatakan hal yang serupa bila aku melempar-lempar buku ke lantai. Sampai sekarang, aku jadi sangat mencintai buku.

======

Ternyata, ucapan sederhana orang tua yang dapat merebut perasaan anak, dapat membentuk kepribadian yang sangat kuat terkait dengan konteks ucapannya. Ada juga nih, cerita temanku tentang temannya. Sebut saja si A.

Pada saat si A masih kecil, dia selalu enggan merapikan kembali mainannya. Saat itu ibunya berkata “Ayo, diberesin mainannya kalau sudah selesai!”

Apa kata si A?

“Ah, ga usah Bu! Buat apa diberesin, nanti juga bakal berantakan lagi.”

Ibunya tak berkata apa-apa hingga tiba saatnya si A untuk makan.

“Bu, lapar nih. Mau makan…”

Sebelum sang Ibu menyiapkan makanan, sang Ayah berkata “Ga usah dikasih makan, Bu! Buat apa dikasih makan, nanti juga bakal lapar lagi.”

Si A terhentak. Perasaannya yang masih bersih tentu saja dapat mengambil pesan moral dari kejadian itu. Dia pun segera membersihkan mainannya. Sejak saat itu, ia juga tak pernah meninggalkan mainannya dalam keadaan berantakan

Posted by re_here at 11:28:41 | Permalink | Comments (2)

Sunday, November 19, 2006

Hidup Bagai Air Mengalir

Orang sering salah kaprah tentang ungkapan itu. Dikiranya hidup bagai air mengalir itu hidup tanpa usaha? Berjalan begitu saja, seiring berlalunya waktu? BukaanYell.. bukan itu maksudnya. Perumpamaan hidup ini adalah seperti air yang mengalir.

Sesuai dengan hukum alam yang berlaku, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah (kecuali kalau ditarik pake’ pompa airTongue out). Dalam perjalanan itu, air telah melewati tempat-tempat yang berbeda. Artinya, semakin rendah tempat yang dicapai air itu, semakin banyak tempat yang telah dilaluinya. Apa maknanya dalam kehidupan? Dalam hidup ini, semakin kita berilmu, kita harus lebih rendah hati. Jangan sombonglah… karena semakin kita tahu, semakin banyak pula yang tidak kita ketahui.

Air mengalir dari hulu ke hilir. Tujuan akhir dari si air adalah laut. Dia bercita-cita untuk mencapai laut. Tapi di tengah-tengah perjalanannya menuju laut, banyak halangan rintangan menghadang. Ada yang membendung alirannya untuk persediaan air, ada yang membuat jalur baru untuknya ke sawah, ada yang mengarahkannya ke perumahan, ada yang menggunakannya untuk pembangkit listrik, dan lain sebagainya. Bila air ini tidak memiliki tenaga yang kuat, dia tak akan bisa mencapai tujuannya: laut. Tapi ada kalanya air yang berkecepatan tinggi tidak mencapai laut karena dibendung untuk keperluan tertentu. Begitu pula dengan hidup ini. Kita memiliki cita-cita dalam hidup yang berusaha kita raih. Namun di dalam perjalanan kita dalam meraih cita-cita, banyak halangan melintang. Ada yang berusaha membendung cita-cita kita, ada suatu hal yang membelokkan cita-cita semula, ada yang memanfaatkan cita-cita kita untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, manusia yang tidak memiliki tekad yang kuat akan berhenti di tengah-tengah perjalanannya meraih cita-cita. Kita harus memiliki tekad yang kuat dan berusaha semaksimal mungkin dalam meraih suatu tujuan. Tapi ada kalanya dengan tekad yang kuat masih belum bisa meraih cita-cita. Itulah, ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan kita. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam meraih suatu tujuan, namun berhasil atau tidaknya berada di tangan Allah. Namun jangan lupa, Allah memberikan sesuatu kepada kita sesuai dengan usaha kita. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha.

Begitulah..Hidup bagai air yang mengalir, bukan berarti kita mau saja dibelokkan kemana-mana, tak mau berusaha. Tapi kehidupan ini bagaikan perjalan air yang mengalir, penuh rintangan. Namun semakin banyak hal yang kita ketahui, semestinya kita semakin rendah hati. Tak perlu sombong.. begitulah alam memberikan hukumnya. Smile

Posted by re_here at 14:53:33 | Permalink | Comments (13)

Friday, November 10, 2006

Gunung Pun Berubah Warna

Salatiga.. ya Salatiga. Kota nan sejuk yang terkenal dengan panganan khas Enting-Enting Gepuk dan Keripik Paru ini berada di sekeliling gunung-gunung terkenal di Jawa. Ada Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Gajah Mungkur, bahkan Gunung Merapi. Pemandangan di sepanjang jalan kota ini hampir selalu dapat dinikmati dengan adanya gunung-gunung sebagai backgroundnya. Bila kita masuki jalan-jalan alternatif, di sana dapat pula kita lihat sawah-sawah di kaki gunung. Indahnya Salatigaku… memori indah kota kelahiranku.

Namun beberapa saat lalu, saat kukembali ke Salatiga dari perantauanku, kumelihat perubahan yang buatku meringis. Aku merasakan panasnya kota itu yang menyengat kulit. Kubertanya-tanya dalam hati, “Ada apa gerangan dengan kotaku tercinta ini?”. Pertanyaan itu tak pernah terjawab tuntas. Lalu kuberjalan-jalan mengelilingi kota mungil ini sambil melihat gunung-gunung yang pernah kulihat di Depok dan Jakarta. Saat itulah kumelihat hal yang kutakutkan sejak kumasih SMA.

Gunung-gunung itu, yang kukhawatirkan. Dulu saat kumasih kecil, yang kutahu hanyalah gunung berwarna biru. Begitu indah dipandang, menyegarkan mata, hati, dan pikiran. Hingga saat ku SMA, kulihat perubahan warna gunung yang selalu kulihat bila berangkat sekolah. Gunung itu berubah menjadi hijau tua di beberapa sisi. Sekilas tentu nampak indah, tapi menyakitkan hatiku saat itu, karena kutahu apa yang membuatnya nampak hijau tua. Ya, beberapa pohon di gunung itu telah ditebang hingga nampak lah celah-celah antar pohon, menandakan bahwa pepohonan di gunung sudah tak rapat lagi.

Di akhir masa-masa SMA, aku menjadi semakin sedih. Ingin rasanya berbuat sesuatu agar gunung-gunung itu tetap sedap dipandang. Karena pada saat itu gunung telah berubah lagi menjadi hijau muda. Mengapa? Ya, banyak pohon telah ditebang lagi dan dibuat persawahan. Hijau muda adalah warna dari petak-petak sawah itu. Tapi aku tak bisa berbuat apapun saat itu, karena aku harus meninggalkan kotaku tercinta itu untuk mencari ilmu di ibukota.

Beberapa bulan kuliah di kota seberang, kukembali lagi ke Salatiga saat lebaran. Gatal hatiku semakin terasa karena kini gunung telah berubah warna kembali. Coklat kini di beberapa sisi… Hatiku berteriak, “Kapan semua ini akan berhenti?!” tapi aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Akankah kumembeli berbagai macam bibit tumbuhan besar untuk kutanam di gunung-gunung itu? Seberapa banyak yang harus kubeli dan berapa lama waktu untuk mencapai petak-petak coklat itu dan menanamnya? Tak hanya satu sisi gunung, tapi banyak. Tak hanya satu gunung, tapi banyak. Bagaimana mengajak orang-orang untuk turut mem-biru-kan lagi gunung-gunung kita?

Hingga kini pun ku belum bisa berbuat apa-apa. Adakah yang ingin mengusulkan, apa yang bisa kuperbuat? Wahai teman-temanku yang telah berhasil, bukalah hatimu untuk turut mem-biru-kan gunung-gunung. Bila kau bekerja di bidang kehutanan, buatlah program pem-biru-an kembali gunung. Bila kau pecinta lingkungan, turut tanamilah lahan-lahan gundul di sekitarmu. Bila kau orang kaya, sumbangkan uangmu untuk negerimu. Ajaklah orang-orang untuk sadar lingkungan. Bila kau tak bisa apa-apa, berdoalah… dan inilah selemah-lemah iman.Lalu aku? Apa yang kulakukan? Yah….. aku belum tahu. Aku baru bisa menulis dan berdoa…..

“Celakalah orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya…”

Astaghfirullahal ‘adzim, jangan masukkan kami ke dalam golongan tersebut Ya Allah… Lindungi kami dari godaan setan yang terkutuk. Amin.
Posted by re_here at 09:57:15 | Permalink | Comments (9)

Tuesday, November 7, 2006

Life Is Beautiful

Pernah dengar judul film itu? Katanya sih mulai hot di awal ‘90 an. Tapi aku baru nonton malem minggu kemarin di ANTV.

Pertama ngelihat film itu, aku ngerasa ini Cuma film lucu biasa. Tapi semakin diikuti semakin ngerti aku dengan pelajaran yang bisa diambil dari film itu.

Film itu bercerita tentang sepasang suami istri beserta seorang anak yang ditangkap untuk dikarantina di semacam ‘camp konsentrasi NAZI’ ala Italia. Sang ayah sangatlah cerdik membuat suasana sedemikian rupa sehingga anaknya tidak merasakan kekejaman kekuasaan diktator saat itu. Dia membuat seolah-olah semua yang ada di dalam camp konsentrasi itu adalah permainan kejutan untuk anaknya. Sementara itu, dia juga tetap membuat istrinya bersemangat dengan cara-cara yang cerdik (camp pria dan wanita dipisah).

Memang film itu berakhir sedih dengan meninggalnya sang ayah dengan cara yang kejam. Tapi juga gembira karena sang anak kembali bertemu dengan ibunya. Benar-benar berakhir dengan mengharukan.

Setelah nonton film ini, aku ngerasa jadi ‘hidup’ lagi. Bagaimana kita menghadapi semua pahit getir kehidupan dengan cara-cara yang membuat kita menikmati hidup ini. Tak perlu berkeluh kesah, tak perlu takut, hadapi semuanya dengan optimis.

Film yang sangat bagus, menyaingi Beautiful Mind dalam daftar film favoritku
Posted by re_here at 07:55:11 | Permalink | Comments (6)

Thursday, November 2, 2006

Bahasa oh Bahasa

Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang sangat penting. Dengan bahasa, kita dapat menyampaikan apa yang maksudkan kepada orang lain. Sebaliknya, kita dapat mengerti pula apa yang disampaikan orang lain kepada kita.

Bahasa secara tidak langsung dapat memajukan teknologi suatu bangsa yang nantinya akan mempengaruhi tingkat ekonomi suatu bangsa. Bagaimana bisa? Sebagai contoh, teknologi saat ini dikuasai oleh bangsa-bangsa Amerika, Jepang, Perancis, dan Jerman. Nah, agar kita dapat mendapatkan pengetahuan tambahan (seperti prinsip kerja, cara kerja, asas yang digunakan, dsb) tentang produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan luar negeri, kita semestinya mengerti bahasa yang digunakan. Dalam hal ini, bahasa Inggris saja tidaklah cukup. Di Perancis, orang tidak akan membocorkan kinerja mereka dalam bahasa Inggris. Anda berbahasa Inggris? Lupakan keinginan Anda untuk mengetahui sesuatu yang penting dari perusahaan kami. Demikian pula dengan Jerman dan Jepang. Lebih-lebih di Jepang, penduduk Jepang benar-benar masih mempertahankan tradisi-tradisi Jepang dan mempergunakan bahasa Jepang dalam segala urusan kependidikannya. Dalam kata lain, semua yang datang ke Jepang harus mengerti dan bisa berbahasa Jepang. Bahasa Inggris tidak akan digunakan dalam percakapan antar bangsa di Jepang.

Apabila kita telah menguasai teknologi yang mereka kuasai, kita perlu mengembangkan teknologi tersebut, dan akhirnya kita harus memasarkan produk dari teknologi tersebut. Dengan penguasaan bahasa yang baik, kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai bangsa dengan bahasa mereka sehingga mereka akan lebih menghargai kita. Mereka juga lebih memahami keunggulan-keunggulan produk kita. Nah, kemampuan kita untuk bersosialisasi seperti itu akan menyukseskan pemasaran produk kita dan secara bertahap ekonomi negara kita akan semakin meningkat.

* * *

Ini ada cerita saat kakak iparku ingin berlebaran di Salatiga. Karena kami sekeluarga akan pergi ke luar kota di hari tibanya sang Kakak, dia transit dulu di Semarang. Dia jalan-jalan keliling kota Semarang, naik angkot ke Simpang Lima.

“Pak, kalau twenty-one(21) ada di mana ya?” tanya kakakku pada Pak Sopir.

“Wah, kalau twenty-one bukan di Simpang Lima Mbak! Twenty-one itu di Kalimas, jauh dari sini,” jawab Pak Sopir.

“Ooo… begitu ya Pak?”

“Iya, Mbak.. lagian kalau siang-siang gini tutup,” lanjut Pak Sopir “kan kalau Ramadhan gini diskotek bukanya malam aja…”

SurprisedHAAH???!! DISKOTEK????” seru kakakku kaget setengah mati.. “Wah, di Semarang itu twenty-one itu diskotek, toh?Undecided” pikir kakakku bingung.

“Wah… bukan, Pak! Bukan twenty-one diskotek, Pak… Saya nyari bioskop kok!” kata kakakku. Dan tahukah apa jawab Pak Sopirnya…

“Oalah…. Mbak!! Itu sih bukan twenty-one Mbak… itu sich dua satu……!Innocentkata Pak Sopir medhok.

“?????!!!????”

Hehehe… emang sih, bioskopnya kan tulisannya 21. Orang awam bacanya ya bukan twenty-one, tapi dua satu!Cool

Posted by re_here at 11:23:28 | Permalink | Comments (4)

Wednesday, October 18, 2006

Lailatul Qodar

Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat didambakan oleh setiap muslim. (Beribadah di) malam itu nilainya lebih baik dari (beribadah selama) 1000 bulan. Bila kita berhasil mendapatkan malam itu, amalan kita akan terjamin selama 11 bulan ke depan. Usaha yang keras dan istiqomah diperlukan untuk mendapatkannya. Sangat beruntunglah kita bila lingkungan begitu mendukung kita ‘tuk mendapatkannya. Seperti saat sang belahan hati mengirimkan pesan singkat

 

Ayo…. i’tikaf… ra turu wae….! eman2 lailatulqodare nak dilewatke… ayo…

(Ayo….i’tikaf… jangan tidur melulu! Sayang bila melewatkan lailatul qodar… ayo…)

 

Namun apa daya.. mata melirik jam digital di handphone… “Hmmm… setengah dua?” mata pun terpejam kembali. Betapa bodohnya manusia ini. Bagaimana bila malam itu benar-benar lailatul qodar? Betapa ruginya manusia ini.

Hati manusia ini kembali terbuka, matanya juga ikut terbuka. “Hm… pukul tiga?” Dirinya mulai terjaga. Tidur? Lalilatul qadar? Dirinya gelisah, bagimana jika malam itu benar-benar lailatul qadar? Dirinya segera bangkit dan mencuci muka. Segera ia bersahur dan kembali ke kamar. Diambilnya air wudhu, ditunaikannya shalat malam.

Lailatul qadar… mungkinkah kan ia dapatkan? Sementara dalam shalatnya:

Rakaat 1: Ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladhdhooooolliiin… Amiin…

*waduh.. paper filsafat belum kelar!*

Rakaat 2: Qul huwallahu ahad…

*eh, proposal laptop di-acc ga ya?*

Rakaat 3: Qul yaa… ayyuhal kaafiruun…

*buseeett… pagi-pagi nyetel TV keras-keras*

begitu seterusnya..

 

Astaghfirullahal ‘adziimm.. Ya Allah, berikanlah nilai kebaikan pada usaha keras manusi ini untuk khusyu’.. meski sering gagal di tengah jalan. Seandainya malam itu adalah lailatul qadar, perkenankanlah manusia kerdil ini masuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntug. Seandainya pun bukan, manusia ini kan selalu mengharapkan kehadirannya, Insya Allah.

 

Depok, 16 Oktober 2006

Posted by re_here at 10:52:46 | Permalink | No Comments »