Kalau Harus Menulis
Saya pernah bercita-cita menjadi seorang penulis. Untuk menuju ke sana, saya pun rajin berlatih menulis. Saat kelas 6 SD, saya mempunyai buku khusus tempat menuangkan apa yang ada di dalam pikiran saya. Pada umumnya, tulisan-tulisan yang saya tulis berbentuk opini ataupun artikel bebas. Ditulis dengan pensil dengan huruf tegak bersambung dan pertama kali selalu dibaca oleh teman sebangku saya, Ardian. (Ardian, how r u?? )
Gairah menulis saya didukung dengan bacaan yang dijejalkan ke otak saya. Yah, kebanyakan buku-buku yang diberikan oleh ayah dan kakak-kakak saya kepada saya adalah buku-buku tentang agama, ilmu pengetahuan, dan juga majalah-majalah. Majalah-majalahnya juga bergenre sama, pengetahuan popular dan agama. Saat itu, ada Intisari, Hidayatullah, dan El-Fata.
Saat SMP, saya masih menulis tapi lebih ringan. Yah, memasuki masa remaja, masa bingung-bingungnya. Saya menuliskan pengalaman-pengalaman dan apa yang saya pikirkan di buku harian. Ya, menulis buku harian. Kegiatan yang terus dilakukan sampai kuliah (tapi sekarang sih nggak..). Entah ini suatu hal yang baik atau tidak, saya sering merenungkan apa yang terjadi dalam hidup saya. Terlebih lagi setelah menuliskannya dalam bentuk tulisan. Memikirkannya dengan sangat mendalam. Sampai-sampai saya merasa ada loncatan-loncatan pikiran yang mendesak-desak. Loncatan-loncatan pikiran ini menuntut untuk disalurkan ke berbagai hal.
Penyaluran atas loncatan-loncatan pikiran ini bisa ke banyak hal. Olahraga, menulis, meneror (ga baik ya, neror orang pake’ puisi tanpa nama yang jelas), makan, belajar, tidur… Yah, macam-macam. Tentang terror tadi, saya serasa menjadi seorang lain. Ini benar-benar tidak baik, saya kecanduan bacaan psikologis. Cerita-cerita psikolog tentang anak-anak yang diasuhnya. Buku-bukunya Torrey Hayden itulah..
Tapi dengan terror tadi, saya mendapat inspirasi untuk menulis. Sebuah cerita pendek yang diilhami dari sebuah kisah nyata. Ya, kisah tentang terror tadi. Ah, cerita itu kemudian saya kirimkan ke sebuah sayembara dan berhasil merebut hati para juri. Saat itu saya senang sekali. Seorang anak kelas 2 SMA mendapatkan uang Rp1,500,000.00 atas tulisan hasil loncatan-loncatan pikirannya yang aneh. Meski kemudian uang itu dipotong pajak penghasilan dan dipotong pihak sekolah. Tapi saya cukup senang. Alhamdulillah.. bisa kenal dengan siswa-siswa yang hobi nulis juga dari kota tetangga (Dini Nur Latifah, where r u? Tampaknya masih eksis nulis nih Dini ini..)
Hff, sebenarnya apa inti dari tulisan ini? Sebenarnya, dari tadi saya ingin share tentang motivasi yang pernah diberikan oleh seorang guru bahasa Indonesia di SMA saya (Bu Us, apa kabar?) kaitannya dalam membuat tulisan. Saya lupa bagaimana tepatnya sih, tapi intinya begini:
“Kalau tidak ada bahan tapi terus menulis, maka tulisan itu banyak bohongnya. Kalau bahan masih ada tapi berhenti menulis, maka tulisan itu banyak bolongnya.”
Jadi, ayo banyak-banyak menambah bahan agar kita dapat terus menulis dan tulisan kita ada isinya!
Nah, di suasana Syawal ini aku ngucapin:
“
aku bengong tuch. Kok gini sih jawabannya? Memangnya kakak laki-lakiku satu-satunya itu juga sedang dalam kemalasan tingkat tinggi? Kok klop banget sih? Jadi kujawablah pesan itu