Entah, sudah lama rasanya aku tidak menulis dengan segenap hatiku. Menulis dengan serius, menulis dengan perenungan yang dalam, menulis dengan sepenuh hati. Akibatnya, tulisan yang tercipta pun hanyalah sebagai tulisan untuk bersenang-senang, menceritakan apa lahirnya, tanpa didahului perenungan yang dalam. Mood untuk menulis pun menurun dengan sangat drastic. Malam ini, aku beritikad untuk kembali mengisi blog ini. Blog yang beberapa tahun ini terabaikan olehku.

Aku laksana seorang pengembara di tengah padang pasir yang kehausan. Haus sekali, ingin mendapatkan air segar sebanyak mungkin. Jikalau ada seteguk bahkan setetes air segar, niscaya akan segera terserap ia masuk ke dalam mulutku, terserap oleh lidahku, terasa segarnya dalam tubuhku, dan akan terus dan terus aku ingin memuaskan dahagaku. Begitulah hausnya aku untuk mencari setitik ilmu yang bermanfaat. Untuk akhiratku, untuk duniaku, untuk akhiratku…

Mata ini begitu liar ketika melihat sebuah buku yang di dalamnya akan kudapati ilmu yang bermanfaat, dengan segera jiwa dan raga ini memakannya dengan rakus. Lapar, haus, tak puas akan apa yang telah didapat, ingin terus menambahnya setiap saat. Tak segan kurogohkan uang dari saku untuk ilmu itu, ilmu yang bermanfaat. Tapi seringkali, saat habis uang itu, masih belum puas ilmu itu terpenuhi. Membaca cuma-cuma di toko pun menjadi salah satu pilihan.

Beberapa pekan yang lalu, seorang saudari mengajakku ke suatu tempat untuk suatu urusan. Urusan itu membawa kami ke tempat yang lain lagi, suatu tempat yang membuatku sangat terpesona dan ingin kembali lagi ke sana. Suatu rumah, seperti rumah pada umumnya.

Kami membuka pagar, melewati teras, dan memasuki rumah. Ruang tamu dengan beberapa kursi dan meja terhubung dengan sebuah ruang makan dengan isi yang membuat air liurku tak tertahankan. Teringat akan lapar dan dahagaku. Betapa tidak, sekeliling ruang makan itu dipenuhi akan rak-rak yang penuh akan buku-buku yang akan memenuhi lapar dan dahagaku. Berkali-kali aku menelan ludah. Dari setiap buku yang teratur dan rapi itu, baru beberapa saja yang pernah kucicipi dan kucerna dengan porsi utuhnya. Masih banyak yang belum pernah kulahap, bahkan sekedar mencicipi. Air liurku benar-benar “menetes”, dan berkali-kali aku menelan ludah…

Ya Allah, aku begitu senang berada di rumah itu. Ingin rasanya aku segera kembali ke sana, memakan makanan jiwa yang terhidang nan menggugah selera setiap saat, berdiskusi dengan orang-orang yang insya Allah akan semakin mengenyangkanku, menghisap setiap tetes air ilmu semampu yang aku bisa… bukan sekedar memandangnya dengan penuh rasa ingin seperti kesempatan yang tak lama itu.