Friday, October 30, 2009

Mari Menjaga Kesehatan

Semester ini, aku merasa waktu berjalan semakin cepat saja. Sepertinya tak akan cukup waktu tersebut untuk menyelesaikan setiap tugas dan pekerjaan. Baru melakukan beberapa pekerjaan saja, tiba-tiba waktu sudah berlalu sedemikian cepatnya. Menyelesaikan pekerjaan menjelang deadline menjadi suatu tren baru dalam hidupku. Seminggu berlalu rasanya seperti sekejap saja. Tiba-tiba, wew sudah akhir pekan saja! Dan sekejap lagi, wew sudah hari Senin lagi!

Cepatnya waktu berlalu sering diimbangi dengan mengurangi waktu tidur dengan dampak yang bermacam-macam. Dari kadang-kadang bangun kesiangan, bangun dengan ga fresh (pegel-pegel), pusing, ngantuk, dan kadang-kadang juga sakit. Mengenai sakit ini, aku mengakui bahwa mungkin juga karena kesalahanku. Pada suatu malam menjelang ujian, aku belajar hingga larut. Rasanya ingin tidak tidur saja saat itu. Kalaupun tidur, jangan lama-lama deh. Alhasil, malam itu, aku sukses belajar sampai larut sekali dan tertidur di lantai. Padahal saat itu sedang musim penghujan, hawa malam agak-agak “semribit”.

Keesokan paginya, saat terbangun.. Aku merasakan dalam rongga dadaku terasa sangat lembab, batuk pun tak tertahankan. Hiiy, jadi agak-agak takut kalau flek-nya kambuh. Seketika itu juga aku bertekad, ga lagi-lagi deh sengaja tidur di lantai ubin selama masih bisa tidur di tempat tidur. Apalagi kalau ga pakai alas kaya’ waktu itu. Cari penyakit aja… sebelum apapun yang ditakutkan terjadi, aku segera menelan kapsul-kapsul habatussauda dengan rajinnya. Semoga cepat sembuh, Nak!

Beberapa hari yang lalu, aku kembali begadang untuk mengerjakan suatu urusan. Kalau pusing karena penatnya pekerjaan, rehat dulu. Rehatnya ngemil or nge-game (aduh, Nak.. jangan menyia-nyiakan waktumu untuk nge-game forever! Kalau sekali-sekali, boleh ga ya?). Agak fresh, lanjut lagi kerjanya. Begitu seterusnya hingga tak terasa sudah lewat tengah malam. Yah, kira-kira jam setengah 2 malam, kupaksa diriku untuk rela tidur.

Sekitar 4 jam kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang bergetar-getar. Ternyata ada telepon dari my mom. Alhamdulillah, jadinya bangun jugalah diriku.. Ga terlalu kesiangan, insya Allah. Dalam telepon, ibu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Mengingatkanku ‘tuk tak lupa makan. “Makan tapi jangan sekedar kenyang! Makan makanan yang bergizi. Tambah dengan minum suplemen.”

Jleb, jleb.. makanan yang bergizi ya? Huks, huks.. akhir-akhir ni aku sering makan makanan tak bergizi. Fhh, ini tidak boleh dibiarkan. Jangan-jangan tidak optimalnya kerja akhir-akhir ini juga karena kurangnya asupan dari makanan yang bergizi? Baiklah, mari kita kembali ke pola makan yang sehat. Semoga dengannya akan terbentuk juga pola hidup yang sehat. Tak lupa untuk terus berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar senantiasa melindungi diri kita.

* * *

“Allohumma ‘afini fi badani, Allohumma ‘afini fi sam’i, Allohumma ‘afini fi bashori. La ilaha illa anta. Allohumma inni a’udzubika minal kufri wak faqri, wa a’udzubika minal ‘adzabil qobr. La ilaha illa anta.”

“Ya, Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. AKu berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau.”

(Dikutip “Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu Menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih” yang disusun oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas . Hadits hasan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.7-1), Abu Dawud (no. 5090), dan Ahmad (V/42) dari Abu Bakrah radhiyallohu ‘anhu. Lihat Shahih al-Adabil Mufrad (no.539)).

Posted by re_here at 22:35:37 | Permalink | Comments (10)

Tuesday, October 27, 2009

Kalau Harus Menulis

Saya pernah bercita-cita menjadi seorang penulis. Untuk menuju ke sana, saya pun rajin berlatih menulis. Saat kelas 6 SD, saya mempunyai buku khusus tempat menuangkan apa yang ada di dalam pikiran saya. Pada umumnya, tulisan-tulisan yang saya tulis berbentuk opini ataupun artikel bebas. Ditulis dengan pensil dengan huruf tegak bersambung dan pertama kali selalu dibaca oleh teman sebangku saya, Ardian. (Ardian, how r u?? :) )

Gairah menulis saya didukung dengan bacaan yang dijejalkan ke otak saya. Yah, kebanyakan buku-buku yang diberikan oleh ayah dan kakak-kakak saya kepada saya adalah buku-buku tentang agama, ilmu pengetahuan, dan juga majalah-majalah. Majalah-majalahnya juga bergenre sama, pengetahuan popular dan agama. Saat itu, ada Intisari, Hidayatullah, dan El-Fata.

Saat SMP, saya masih menulis tapi lebih ringan. Yah, memasuki masa remaja, masa bingung-bingungnya. Saya menuliskan pengalaman-pengalaman dan apa yang saya pikirkan di buku harian. Ya, menulis buku harian. Kegiatan yang terus dilakukan sampai kuliah (tapi sekarang sih nggak..). Entah ini suatu hal yang baik atau tidak, saya sering merenungkan apa yang terjadi dalam hidup saya. Terlebih lagi setelah menuliskannya dalam bentuk tulisan. Memikirkannya dengan sangat mendalam. Sampai-sampai saya merasa ada loncatan-loncatan pikiran yang mendesak-desak. Loncatan-loncatan pikiran ini menuntut untuk disalurkan ke berbagai hal.

Penyaluran atas loncatan-loncatan pikiran ini bisa ke banyak hal. Olahraga, menulis, meneror (ga baik ya, neror orang pake’ puisi tanpa nama yang jelas), makan, belajar, tidur… Yah, macam-macam. Tentang terror tadi, saya serasa menjadi seorang lain. Ini benar-benar tidak baik, saya kecanduan bacaan psikologis. Cerita-cerita psikolog tentang anak-anak yang diasuhnya. Buku-bukunya Torrey Hayden itulah..

Tapi dengan terror tadi, saya mendapat inspirasi untuk menulis. Sebuah cerita pendek yang diilhami dari sebuah kisah nyata. Ya, kisah tentang terror tadi. Ah, cerita itu kemudian saya kirimkan ke sebuah sayembara dan berhasil merebut hati para juri. Saat itu saya senang sekali. Seorang anak kelas 2 SMA mendapatkan uang Rp1,500,000.00 atas tulisan hasil loncatan-loncatan pikirannya yang aneh. Meski kemudian uang itu dipotong pajak penghasilan dan dipotong pihak sekolah. Tapi saya cukup senang. Alhamdulillah.. bisa kenal dengan siswa-siswa yang hobi nulis juga dari kota tetangga (Dini Nur Latifah, where r u? Tampaknya masih eksis nulis nih Dini ini..)

Hff, sebenarnya apa inti dari tulisan ini? Sebenarnya, dari tadi saya ingin share tentang motivasi yang pernah diberikan oleh seorang guru bahasa Indonesia di SMA saya (Bu Us, apa kabar?) kaitannya dalam membuat tulisan. Saya lupa bagaimana tepatnya sih, tapi intinya begini:

“Kalau tidak ada bahan tapi terus menulis, maka tulisan itu banyak bohongnya. Kalau bahan masih ada tapi berhenti menulis, maka tulisan itu banyak bolongnya.”

Jadi, ayo banyak-banyak menambah bahan agar kita dapat terus menulis dan tulisan kita ada isinya!

Posted by re_here at 19:34:44 | Permalink | Comments (4)

Thursday, October 22, 2009

Lapar dan Haus

Entah, sudah lama rasanya aku tidak menulis dengan segenap hatiku. Menulis dengan serius, menulis dengan perenungan yang dalam, menulis dengan sepenuh hati. Akibatnya, tulisan yang tercipta pun hanyalah sebagai tulisan untuk bersenang-senang, menceritakan apa lahirnya, tanpa didahului perenungan yang dalam. Mood untuk menulis pun menurun dengan sangat drastic. Malam ini, aku beritikad untuk kembali mengisi blog ini. Blog yang beberapa tahun ini terabaikan olehku.

Aku laksana seorang pengembara di tengah padang pasir yang kehausan. Haus sekali, ingin mendapatkan air segar sebanyak mungkin. Jikalau ada seteguk bahkan setetes air segar, niscaya akan segera terserap ia masuk ke dalam mulutku, terserap oleh lidahku, terasa segarnya dalam tubuhku, dan akan terus dan terus aku ingin memuaskan dahagaku. Begitulah hausnya aku untuk mencari setitik ilmu yang bermanfaat. Untuk akhiratku, untuk duniaku, untuk akhiratku…

Mata ini begitu liar ketika melihat sebuah buku yang di dalamnya akan kudapati ilmu yang bermanfaat, dengan segera jiwa dan raga ini memakannya dengan rakus. Lapar, haus, tak puas akan apa yang telah didapat, ingin terus menambahnya setiap saat. Tak segan kurogohkan uang dari saku untuk ilmu itu, ilmu yang bermanfaat. Tapi seringkali, saat habis uang itu, masih belum puas ilmu itu terpenuhi. Membaca cuma-cuma di toko pun menjadi salah satu pilihan.

Beberapa pekan yang lalu, seorang saudari mengajakku ke suatu tempat untuk suatu urusan. Urusan itu membawa kami ke tempat yang lain lagi, suatu tempat yang membuatku sangat terpesona dan ingin kembali lagi ke sana. Suatu rumah, seperti rumah pada umumnya.

Kami membuka pagar, melewati teras, dan memasuki rumah. Ruang tamu dengan beberapa kursi dan meja terhubung dengan sebuah ruang makan dengan isi yang membuat air liurku tak tertahankan. Teringat akan lapar dan dahagaku. Betapa tidak, sekeliling ruang makan itu dipenuhi akan rak-rak yang penuh akan buku-buku yang akan memenuhi lapar dan dahagaku. Berkali-kali aku menelan ludah. Dari setiap buku yang teratur dan rapi itu, baru beberapa saja yang pernah kucicipi dan kucerna dengan porsi utuhnya. Masih banyak yang belum pernah kulahap, bahkan sekedar mencicipi. Air liurku benar-benar “menetes”, dan berkali-kali aku menelan ludah…

Ya Allah, aku begitu senang berada di rumah itu. Ingin rasanya aku segera kembali ke sana, memakan makanan jiwa yang terhidang nan menggugah selera setiap saat, berdiskusi dengan orang-orang yang insya Allah akan semakin mengenyangkanku, menghisap setiap tetes air ilmu semampu yang aku bisa… bukan sekedar memandangnya dengan penuh rasa ingin seperti kesempatan yang tak lama itu.

Posted by re_here at 10:44:13 | Permalink | Comments (6)