$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
Pada hari Jumat (5/4) yang lalu, aku berjalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama dua orang temanku, Ansyah dan daus. Senangnya…. Perjalanan (atau lebih tepatnya tamasya) ini tidak menjadi perjalanan yang sia-sia belaka. Aku merasa mendapatkan banyak wawasan. Apalagi kedua temanku adalah teman-teman yang mengasyikkan untuk diajak diskusi.
Kami tiba di TMII sekitar pukul 10.30 WIB. Kami masuk melalui gerbang utama dengan dibebankan bea Rp9.000,00. Bingung hendak menentukan bagian mana dulu yang ingin dikunjungi, kami pun berjalan tak tentu arah. Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti di dekat kami.
“Mas-mas dan mbak! Naik yuk, kita keliling-keliling dulu,” demikian kata kedua penumpang mobil tersebut. Tampaknya mereka berdua adalah petugas khusus TMII yang memang bertugas memandu para pengunjung.
Ansyah, Daus, dan aku saling pandang. Setelah sedikit mempertimbangkan, kami memutuskan untuk naik. Ternyata mobil tersebut menuju Stasiun Kereta Api Mini. Di atas mobil, kami ditarik uang sebesar Rp5.000,00 untuk memperoleh tiket kereta.
Kami tiba di stasiun tak lama kemudian. Kami segera naik ke atas kereta yang berjalan tak lama kemudian. Kereta itu perlahan-lahan membawa kami berkeliling TMII. Saat itulah kami melihat, menyaksikan, karya-karya yang mengagumkan.
Kami menyaksikan miniatur berbaghai macam kebudayaan yang ada di Indesia, teknologi-teknologi yang dikembangkan di Indonesia, sejarah Indonesia, serta kekayaan alam yang ada di Indonesia (untuk yang satu ini, bukan miniatur yah! Lebih tepat dikatakan sebagai sampel). Ada Museum Keprajuritan, Taman Burung, Taman Bunga, Rumah-Rumah Adat Daerah, Insektarium, dan masih banyak yang lainnya. Seluruh miniatur tersebut sangatlah menakjubkan. Meskipun namanya miniatur, jangan dibayangkan seperti maket rumah-rumahan kecil di dalam kotak kaca. Miniatur ini cukup besar sehingga lekuk setiap miniatur sangat merepresentasikan benda aslinya. Bahkan untuk miniatur-miniatur bangunan dan alat transportasi, Anda dapat memasukinya. Satu hal yang terlintas dalam pikiran kami saat berkeliling adalah, “Wow! Ini tempat rekreasi yang edukatif sekali!”
Usai bekeliiling naik kereta api, kami kembali diturunkan di satasiun. Di stasiun, mbak-mbak yang tadi mengantar kami segera menyambut. Salah satu dari mereka kembali mengantar kami berkeliling, naik mobil, ke tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh kereta api. Kali ini kami tidak ditarik bayaran.
Apa yang kami lihat dari dalam mobil tidak kalah menakjubkan dengan apa yang telah kami lihat sebelumnya. Bahkan aku menemukan sebuah tempat yang tampaknya akan kukunjungi suatu hari nanti: Pasar Buku Langka (dasar kutu buku
).
Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Telah dekat waktunya untuk menunaikan shalat Jumat. Kami pun minta diturunkan di sebuah miniatur masjid yang uniknya benar-benar difungsikan selayaknya masjid. Sementara menunggu Ansyah dan Daus menunaikan shalat Jumat, aku berjalan-jalan ke Pusat Industri Seni dan Kriya Indonesia. Menakjubkan! Berbagai karya budaya dari berbagai daerah di Indonesia dapat ditemui di sana. Dari bali, Jawa Tengah, Sulawesi, Kalimantan, Andalas, bahkan Papua, dapat diperoleh di tempat tersebut. Jadi, bila Anda ingin menipu (
) teman Anda dengan mengatakan pernah berkunjung ke suatu daerah di Indonesia, Anda dapat datang ke tempat ini. Dengan membelikan kerajinan khas daerah tersebut, teman Anda pasti akan percaya
.
—to be continued
Leave a Reply