Sunday, March 23, 2008

Bila Harus Memilih

Dua tahun hidup di perantauan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan sehari-hari. Di kota besar, banyak tawaran yang menarik untuk diambil. Saking banyaknya, pengennya diambil semuanya. Tapi tidak bisa demikian, pilihan harus ditetapkan. Aku butuh banyak share dengan yang lebih senior tentang menentukan suatu pilihan. Dari banyaknya saran, ada beberapa yang sangat mengena di hatiku.
Pertama, dari seorang kakak yang telah lama kukagumi (6 tahun sebelum aku kenal betulan ma dia, bo! Tongue out). Beliau menyarankan agar aku membuat analisis SWOT (strenghts, weaknessess, oportunities, threats). Dari situ, kita bisa melihat, kita tuh cocok buat pilihan yang mana.



Bila masih bingung, masih dari kakak yang sama, kita harus memilih di mana kita dapat memberikan manfaat lebih banyak. Jadi dalam menentukan suatu pilihan, tidak melulu kita memikirkan manfaat yang akan kita peroleh. Kita juga harus memikirkan, apakah manfaat yang dapat kita berikan dengan menetapkan pilihan tersebut? Memang benar sih, bukankah manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain?

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah di tanya oleh seseorang : “Ya Rasulullah manusia yang bagaimana yang paling di cintai oleh Allah ? “Lalu beliau menjawab : “Manusia yang paling di cintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling di cintai Allah Azza Wa Jalla adalah kebahagian yang kamu masukkan pada seorang muslim, kamu hilangkan darinya kesusahannya, atau kamu bayarkan utangnya, atau kamu tangkal kelaparan darinya. Dan aku berjalan bersama seseorang dalam suatu kebutuhan itu lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid ini yaitu madjid madinah, selama satu bulan. ….. “
( Shahih At-Targhib wa At-Tarhib No. 2623)


Terakhir, dari seorang kakak kelas (dua angkatan di atasku). Dalam menentukan suatu pilihan, niatkan seluruhnya hanya karena Allah. Jadikanlah setiap langkahmu dalam kebaikan itu sebagai dakwah di jalan Allah.  Jangan pernah takut akan rintangan yang akan kauhadapi. Yakinlah, karena Allah telah menjanjikan dalam firmanNYA:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ


“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
(QS. Muhammad: 7)

Posted by re_here at 09:07:17 | Permalink | Comments (3)

Monday, March 10, 2008

Saat Kulihat Bintang

Aku masih tak bisa menghilangkan kekagumanku tiap kali memandang ke langit malam. Gugusan bintang selalu membuat hatiku tergetar. Betapa indah ciptaan-Nya yang berkelip di malam hari. Betapa mereka yang bertebaran di langit selalu menjadi misteri bagi manusia di bumi. Dari langit, dapat kaulihat betapa terbatasnya pikiran manusia. Manusia yang tak kan pernah tuntas mengupas rahasia langit. Tapi mengapa manusia sering menjadi sombong akan pengetahuannya?

Dari bintang-bintang nan cantik itu, dapat kautemukan berbagai informasi yang sangat mengagumkan. Menunjukkan betapa bergunanya bintang-bintang itu bagi kehidupan manusia. Tapi mengapa manusia sering bersikap egois? Tak jarang hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya, tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain? Pernahkah kita berpikir untuk menjadi orang yang bermanfaat? Apa langkah yang telah kita tempuh untuk mewujudkannya? Kemudian seberapa lurus dan tulus niat kita?

Lihatlah bintang-bintang itu memberikan petunjuk tentang arah, musim, waktu, dan sebagainya. Tidakkah kaulihat kebesaran-Nya dalam gugus bintang itu? Betapa Dia Maha Pandai mengatur posisi bintang-bintang itu sehingga membuat mereka berguna bagi kita? Tidakkah kaulihat betapa rumit penciptaan-Nya? Mungkinkah semua itu berasal dari ketidaksengajaan?

Siapakah yang menjaga mereka tetap pada formasinya? Siapakah yang menahan mereka agar tak berjatuhan dan menghancurkan dunia? Apa jadinya bila mereka semua bertabrakan dan meledak? Apa yang terjadi bila semuanya diredupkan sinarnya dan kau berada dalam kegelapan? Akankah kita bisa hidup tanpa penciptaan bintang? Siapakah yang berkuasa untuk menciptakan bintang?

Lalu masihkah kita menyangkal keberadaan-Nya? Bukankah masih banyak ayat-ayatNya yang bertebaran di muka bumi? Mengapa kita masih meragukan-Nya? Betapa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Posted by re_here at 10:27:14 | Permalink | Comments (7)

Thursday, March 6, 2008

Apa Kata Orang Tuamu?

Hhhh… kenapa ya akhir-akhir ini aku rajin banget belajar? (hueee… narsis Tongue out) Ga tahu juga ya, rasanya kalo’ ga belajar itu aneh banget. Bab demi bab “Intel Microprosessor” yang pada awalnya bikin aku mabok (karena full teori), akhirnya kulalap juga. Begitu juga “Electric Circuit Analysis” yang dulunya paling enak buat bantal, sekarang jadi rajin kubaca. “Engineering Electromagnetics”? Ga ketinggalan juga. Ada apa gerangan ini? Ya, mudah-mudahan ini adalah sesuatu yang baik.

Sekarang aku ga pengen nyeritain tentang buku-buku yang akhir-akhir ini rajin kubaca itu. Aku cuma pengen cerita tentang sebuah pengalaman masa kecilku yang sangat menyentuh si Aku Kecil. Kiranya pengalaman itu turut membentuk kepribadianku juga.

======

Pernah suatu ketika, di masa aku kecil, aku mengambil sepotong roti dan menggigitnya sedikit. Sebelum roti itu habis, aku melemparnya ke lantai. Tentu saja si Aku Kecil tidak berniat untuk memakannya lagi.

Pernah juga, aku mengambil sebuah kroket kentang. Dasar deh, anak kecil ga tahu makanan enak. Dilemparlah sang kroket ke kebun. Tapi sekarang, membuang makanan adalah hal yang sangat kuhindari. Makan pun harus habis sampai butir-butir terakhir. Malah, kalau lagi baik hati, aku juga ikut membantu kalau temanku ga mampu menghabiskan makanannya. Laughing

Apa yang membuatku berubah sedemikan rupa?

Saat aku kecil, ketika melihatku melakukan aksi buang itu, ibuku berkata “Aduuuh, jangan dibuang begitu. Kasihan. Coba kalau kamu bisa mengerti bahasa roti. Waktu kamu membuangnya, dia menangis lho! Katanya ‘Huuu…huu.. kenapa aku dibuang? Aku kan ga salah apa-apa..‘.”

Si Aku Kecil jadi terharu. Menangis dan mengambil kembali makanan yang dibuangnya.

Bukan cuma masalah makanan. Ibu juga mengatakan hal yang serupa bila aku melempar-lempar buku ke lantai. Sampai sekarang, aku jadi sangat mencintai buku.

======

Ternyata, ucapan sederhana orang tua yang dapat merebut perasaan anak, dapat membentuk kepribadian yang sangat kuat terkait dengan konteks ucapannya. Ada juga nih, cerita temanku tentang temannya. Sebut saja si A.

Pada saat si A masih kecil, dia selalu enggan merapikan kembali mainannya. Saat itu ibunya berkata “Ayo, diberesin mainannya kalau sudah selesai!”

Apa kata si A?

“Ah, ga usah Bu! Buat apa diberesin, nanti juga bakal berantakan lagi.”

Ibunya tak berkata apa-apa hingga tiba saatnya si A untuk makan.

“Bu, lapar nih. Mau makan…”

Sebelum sang Ibu menyiapkan makanan, sang Ayah berkata “Ga usah dikasih makan, Bu! Buat apa dikasih makan, nanti juga bakal lapar lagi.”

Si A terhentak. Perasaannya yang masih bersih tentu saja dapat mengambil pesan moral dari kejadian itu. Dia pun segera membersihkan mainannya. Sejak saat itu, ia juga tak pernah meninggalkan mainannya dalam keadaan berantakan

Posted by re_here at 11:28:41 | Permalink | Comments (2)