Selamat Tinggal Pluto (ToT)
Dari SD hingga beruban kayak sekarang, kita diajarkan bahwa tata surya kita yang berada di Galaksi Bimasakti ini memiliki 9 planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Pluto merupakan planet terkecil dari urutan tersebut. Tapi seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, makin banyak benda-benda angkasa yang ditemukan. Salah satunya ada UB13 atau Xena yang disebut-sebut sebagai planet ke-10.
Selain itu, ditemukan juga banyak benda-benda angkasa lain yang ukurannya besar. Hal ini membuat kesolidan Pluto sebagai planet diragukan dan definisi planet semakin kacau. Oleh
karenanya, Perkumpulan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) berupaya membahas topik ini dalam sidang umumnya. Akhirnya, badan yang berdiri sejak 1919 dan mengadakan umum setiap tiga tahun sakali ini mengambil keputusan bersejarah. Sidang Umum IAU ke-26 kemarin tanggal 25 Agustus 2006 yang berlangsung di Praha, Republik Ceko, melalui voting, disepakati bahwa Pluto bukan lagi disebut sebagai planet.
Dalam pertemuan ini, batasan-batasan suatu benda angkasa agar dapat disebut sebagai planet juga lebih dispesifikkan. Di antaranya ia mempunya massa yang membuatnya cukup untuk menahan gravitasinya sendiri sehingga tidak runtuh, orbitnya tak terpengaruh oleh benda angkasa lain, serta ia haruslah bukan satelit (benda angkasa yang mengorbit planet).Planet haruslah sebuah objek dominan di areanya.
Dalam kasus Pluto, berawal dari ditemukannya teleskop-teleskop yang makin canggih. Salah satu teleskop mutakhir ini adalah teleskop Hubble yang terkenal, menemukan banyak keganjilan pada Pluto.
Memang benar, Pluto beredar di garis orbit. Tapi belakangan, lewat ketajaman lensa teleskop dan metode kuantitasi mutakhir, diketahui bahwa — pada suatu titik — orbit Pluto ternyata ‘berselingkuh’ dengan orbit Neptunus. Ini yang membuat Pluto berbeda dengan ke-8 planet lainnya. Ia tidak benar-benar independen saat mengitari matahari. Hal ini menjadikan Pluto bukanlah benda yang dominan di areanya. Selain itu, massa Pluto yang kecil membuatnya tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori planet.
* * *
Keputusan ini tentu banyak menimbulkan pro dan kontra. Kontra yang terjadi antara lain terlihat pada diri Patricia Tombaugh (93 tahun, janda mendiang penemu Pluto, Clyde Tombaugh) dan juga Mike Brown (astronom senior California Institute of Technology yang menemukan Xena). Xena, benda langit menyerupai Pluto yang disebut-sebut sebagai planet ke-10. Terdepaknya Pluto, berarti pula tertolaknya lamaran Xena sebagai planet. NASA pun juga kecolongan karena tahun ini adalah tahun ke-9 diluncurkannya pesawat ruang angkasa NASA menuju Pluto. Misi ini menelan biaya 700 juta dolar (7 triliun rupiah). Tapi meskipun telah dihasilkan keputusan tersebut, penelitian ke Pluto akan tetap dilanjutkan.
Bagaimana menurut Anda tentang keputusan ini?
(berbagai sumber)
Gludhak.. apa nggak nggondhuk aku?! Ok, kita lupakan masalah ini. Toh saat kakakku bilang gitu aku masih bayi, jadinya udah lupa.


