Friday, November 10, 2006

Gunung Pun Berubah Warna

Salatiga.. ya Salatiga. Kota nan sejuk yang terkenal dengan panganan khas Enting-Enting Gepuk dan Keripik Paru ini berada di sekeliling gunung-gunung terkenal di Jawa. Ada Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Gajah Mungkur, bahkan Gunung Merapi. Pemandangan di sepanjang jalan kota ini hampir selalu dapat dinikmati dengan adanya gunung-gunung sebagai backgroundnya. Bila kita masuki jalan-jalan alternatif, di sana dapat pula kita lihat sawah-sawah di kaki gunung. Indahnya Salatigaku… memori indah kota kelahiranku.

Namun beberapa saat lalu, saat kukembali ke Salatiga dari perantauanku, kumelihat perubahan yang buatku meringis. Aku merasakan panasnya kota itu yang menyengat kulit. Kubertanya-tanya dalam hati, “Ada apa gerangan dengan kotaku tercinta ini?”. Pertanyaan itu tak pernah terjawab tuntas. Lalu kuberjalan-jalan mengelilingi kota mungil ini sambil melihat gunung-gunung yang pernah kulihat di Depok dan Jakarta. Saat itulah kumelihat hal yang kutakutkan sejak kumasih SMA.

Gunung-gunung itu, yang kukhawatirkan. Dulu saat kumasih kecil, yang kutahu hanyalah gunung berwarna biru. Begitu indah dipandang, menyegarkan mata, hati, dan pikiran. Hingga saat ku SMA, kulihat perubahan warna gunung yang selalu kulihat bila berangkat sekolah. Gunung itu berubah menjadi hijau tua di beberapa sisi. Sekilas tentu nampak indah, tapi menyakitkan hatiku saat itu, karena kutahu apa yang membuatnya nampak hijau tua. Ya, beberapa pohon di gunung itu telah ditebang hingga nampak lah celah-celah antar pohon, menandakan bahwa pepohonan di gunung sudah tak rapat lagi.

Di akhir masa-masa SMA, aku menjadi semakin sedih. Ingin rasanya berbuat sesuatu agar gunung-gunung itu tetap sedap dipandang. Karena pada saat itu gunung telah berubah lagi menjadi hijau muda. Mengapa? Ya, banyak pohon telah ditebang lagi dan dibuat persawahan. Hijau muda adalah warna dari petak-petak sawah itu. Tapi aku tak bisa berbuat apapun saat itu, karena aku harus meninggalkan kotaku tercinta itu untuk mencari ilmu di ibukota.

Beberapa bulan kuliah di kota seberang, kukembali lagi ke Salatiga saat lebaran. Gatal hatiku semakin terasa karena kini gunung telah berubah warna kembali. Coklat kini di beberapa sisi… Hatiku berteriak, “Kapan semua ini akan berhenti?!” tapi aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Akankah kumembeli berbagai macam bibit tumbuhan besar untuk kutanam di gunung-gunung itu? Seberapa banyak yang harus kubeli dan berapa lama waktu untuk mencapai petak-petak coklat itu dan menanamnya? Tak hanya satu sisi gunung, tapi banyak. Tak hanya satu gunung, tapi banyak. Bagaimana mengajak orang-orang untuk turut mem-biru-kan lagi gunung-gunung kita?

Hingga kini pun ku belum bisa berbuat apa-apa. Adakah yang ingin mengusulkan, apa yang bisa kuperbuat? Wahai teman-temanku yang telah berhasil, bukalah hatimu untuk turut mem-biru-kan gunung-gunung. Bila kau bekerja di bidang kehutanan, buatlah program pem-biru-an kembali gunung. Bila kau pecinta lingkungan, turut tanamilah lahan-lahan gundul di sekitarmu. Bila kau orang kaya, sumbangkan uangmu untuk negerimu. Ajaklah orang-orang untuk sadar lingkungan. Bila kau tak bisa apa-apa, berdoalah… dan inilah selemah-lemah iman.Lalu aku? Apa yang kulakukan? Yah….. aku belum tahu. Aku baru bisa menulis dan berdoa…..

“Celakalah orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya…”

Astaghfirullahal ‘adzim, jangan masukkan kami ke dalam golongan tersebut Ya Allah… Lindungi kami dari godaan setan yang terkutuk. Amin.
Posted by re_here at 09:57:15 | Permalink | Comments (9)