Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang sangat penting. Dengan bahasa, kita dapat menyampaikan apa yang maksudkan kepada orang lain. Sebaliknya, kita dapat mengerti pula apa yang disampaikan orang lain kepada kita.

Bahasa secara tidak langsung dapat memajukan teknologi suatu bangsa yang nantinya akan mempengaruhi tingkat ekonomi suatu bangsa. Bagaimana bisa? Sebagai contoh, teknologi saat ini dikuasai oleh bangsa-bangsa Amerika, Jepang, Perancis, dan Jerman. Nah, agar kita dapat mendapatkan pengetahuan tambahan (seperti prinsip kerja, cara kerja, asas yang digunakan, dsb) tentang produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan luar negeri, kita semestinya mengerti bahasa yang digunakan. Dalam hal ini, bahasa Inggris saja tidaklah cukup. Di Perancis, orang tidak akan membocorkan kinerja mereka dalam bahasa Inggris. Anda berbahasa Inggris? Lupakan keinginan Anda untuk mengetahui sesuatu yang penting dari perusahaan kami. Demikian pula dengan Jerman dan Jepang. Lebih-lebih di Jepang, penduduk Jepang benar-benar masih mempertahankan tradisi-tradisi Jepang dan mempergunakan bahasa Jepang dalam segala urusan kependidikannya. Dalam kata lain, semua yang datang ke Jepang harus mengerti dan bisa berbahasa Jepang. Bahasa Inggris tidak akan digunakan dalam percakapan antar bangsa di Jepang.

Apabila kita telah menguasai teknologi yang mereka kuasai, kita perlu mengembangkan teknologi tersebut, dan akhirnya kita harus memasarkan produk dari teknologi tersebut. Dengan penguasaan bahasa yang baik, kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai bangsa dengan bahasa mereka sehingga mereka akan lebih menghargai kita. Mereka juga lebih memahami keunggulan-keunggulan produk kita. Nah, kemampuan kita untuk bersosialisasi seperti itu akan menyukseskan pemasaran produk kita dan secara bertahap ekonomi negara kita akan semakin meningkat.

* * *

Ini ada cerita saat kakak iparku ingin berlebaran di Salatiga. Karena kami sekeluarga akan pergi ke luar kota di hari tibanya sang Kakak, dia transit dulu di Semarang. Dia jalan-jalan keliling kota Semarang, naik angkot ke Simpang Lima.

“Pak, kalau twenty-one(21) ada di mana ya?” tanya kakakku pada Pak Sopir.

“Wah, kalau twenty-one bukan di Simpang Lima Mbak! Twenty-one itu di Kalimas, jauh dari sini,” jawab Pak Sopir.

“Ooo… begitu ya Pak?”

“Iya, Mbak.. lagian kalau siang-siang gini tutup,” lanjut Pak Sopir “kan kalau Ramadhan gini diskotek bukanya malam aja…”

SurprisedHAAH???!! DISKOTEK????” seru kakakku kaget setengah mati.. “Wah, di Semarang itu twenty-one itu diskotek, toh?Undecided” pikir kakakku bingung.

“Wah… bukan, Pak! Bukan twenty-one diskotek, Pak… Saya nyari bioskop kok!” kata kakakku. Dan tahukah apa jawab Pak Sopirnya…

“Oalah…. Mbak!! Itu sih bukan twenty-one Mbak… itu sich dua satu……!Innocentkata Pak Sopir medhok.

“?????!!!????”

Hehehe… emang sih, bioskopnya kan tulisannya 21. Orang awam bacanya ya bukan twenty-one, tapi dua satu!Cool