Thursday, November 30, 2006

Buku-Buku……

Hehe… hari ini aku dapet kritik. Katanya tulisanku terlalu berat.. “Aku ga ngerti!” katanya. Yawdah, kali ini yang ringan aja dech. Critanya ni tentang buku.

Minat baca di keluargaku bisa dibilang cukup tinggi. Semuanya jadi ngiler, lupa diri dan waktu kalau udah megang buku bagus. Kenapa begitu? Mungkin saja semua itu terkait dengan pola pendidikan dan keadaan di keluargaku.

Dulu itu ya, waktu aku masih kecil dan belum sekolah, di rumahku ada yang namanya TV. Hehe.. tapi TV itu enggak banget dech! Kalo’ ga salah, antara tahun ‘93 - ‘94 kan udah ada RCTI, ANTV, dan lain-lain. Soalnya waktu aku ke rumah temenku, di sana udah ada saluran-saluran itu. Nah, TV di rumahku itu channelnya cuma satu. Kalo’ dah nyalain TV dan keluar gambar, ya udah, yang ditonton ya itu. Nah, gambarnya itu kalo’ nggak TPI ya TVRI. Pindah ke channel lain? Dipastikan bahwa kami akan menemukan acara ‘semut-semut masuk TV’. Heheh.. dengan demikian kawan-kawan, hingga anak-anak di keluargaku besar kayak gini, kami semua ga hobi nonton TV. Ada aja yang bisa dikerjakan selain nonton TV.

Pola pendidikan? Hehe.. ga tau juga nich. Yang jelas, seingatku ya.. kalo’ kami ulang tahun, hadiahnya pasti buku. Ga sembarang buku, bahkan kadang-kadang bisa dikatakan terlalu berat untuk anak-anak seumuran kami. Trus, ayahku kan sering pergi tuch… naaa… baliknya juga bawa buku. Dan aturan tak tertulis yang dengan sendirinya dipatuhi: bila seseorang dapet buku, maka anggota keluarga yang lain boleh membacanya. Jadinya, aku kelas 2 SD dah baca Sherlock Holmes, STOP, Malory Towers, dll. Kelas 4 SD, baca-baca petualangan-petualangan para pelaut macam Vasco da Gama, Amundsen, Christopher Colombus, dll. Kelas 6 SD bacaannya Tom Sawyer sampe’ Max Havelaar. Hehehe…. Satu lagi yang ditekanin, KOMIK adalah barang TERLARANG di rumah kami!!! Wah, ga pernah baca komik donk? Ga usah munafik dech, aku pernah baca komik juga kok. Minjemnya diam-diam, bacanya diam-diam juga. Caranya? Buka buku pelajaran, masukkan komik di dalamnya, dan nikmati. Wekeke… dan jika lupa dengan trik itu, kemudian terderngar pintu kamar terbuka, aku bakal cepet-cepet nyimpen itu komik di bawah bantal dan pura-pura tidur.Tongue out Hehehe..

Apa lagi? Oia, dulu kami langganan koran dan majalah banyak banget.

Koran              : Republika

Tabloid             : Adil, Tekad

Majalah            : Intisari, Hidayatullah, Amanah, Mentari Putra Harapan

Kekeke.. dan semuanya tuntas terbaca. Malah rebutan mbacanya.. tapi saat terjadi krisis moneter, satu per satu kami mengeliminasi bacaan-bacaan tersebutFrown. Hingga kini, Republika dan Hidayatullah lah yang masih bertahan.

Ngomong-ngomong tentang buku, aku ada pengalaman lucu (kalo ga jayus sich..Tongue out) tentang majalah Intisari.

*          *          *

Bulan itu, awal bulan… terdengar suara motor yang khas. Aku segera ceria, karena kutahu itu adalah tukang koran langganan keluarga kami. Dia pasti membawakan Intisari. Segeralah kusambut tukang koran itu. Yak benar..!! Setelah mengucapkan terima kasih dan menunggunya berlalu, aku segera masuk rumah dan membacanya. Mumpung lagi nggak ada orang, jadinya ga’ usah rebutan.

Tiba-tiba aku merasa sakit perut. Waduh, pengen boker nich! Padahal bacanya belum selesai. Gimana nich? Ntar kalo’ kutinggal majalahnya, trus kakakku pulang gimana? Pasti diambil tuch majalah n’ susah ngrebutnya kalo kakak belum selesai.  Disembunyikan? Ach! Penasaran ma artikel berikutnya nich. Yawdah, akhirnya kuputuskan untuk kubawa ke kamar mandi sekalian aja lah! Heheh..

Krik..krik.. asik nech, biar lagi boker tetep aja masih bisa baca. Sekalian aja abisin baca tuch majalah di dalam sono. Fiuh.. akhirnya selesai juga majalahnya.. hajatnya juga dah terpenuhi. Lalu kutaruh majalahnya di rak di kamar mandi yang sering buat naruh buku juga.. lalu beristinja’ dulu dech.

Tiba-tiba, terdengar suara bel berbunyi. “Ting.. tong.. ting.. tong… Assalamu ‘alaikum!!!”

SurprisedAku terkejut dan segera kusambar majalah dari rak yang letaknya tepat di atas bak mandi. Dan.. “Byuuur!!!” jatuh dech ke dalam bak…Sealed

Segera kuselamatkan majalahnya dan kubawa keluar. Huh…. kubuka pintu. Och, ternyata kakakku. Dia melihat majalah yang kubawa. Segera direbutnya majalah itu, “Majalah baru ini, dek?”

Undecided Iya,” jawabku cuek.

Lalu saat kakakku menyentuh halaman belakangnya..”Baru kok kriting gini?!!Yell Apa tadi hujan?” tanyanya..

“Kecebur bak mandi!!! Innocent” jawabku cuek sambil ngabur ke kamar.

*          *          *

Heheh…. yach, moga-moga tulisan ini cukup ringan yach! Meskipun panjangnya juga cukup (panjang). Makasih ya dah baca sampe’ selesai…Smile

Posted by re_here at 14:25:41 | Permalink | Comments (14)

Sunday, November 19, 2006

Hidup Bagai Air Mengalir

Orang sering salah kaprah tentang ungkapan itu. Dikiranya hidup bagai air mengalir itu hidup tanpa usaha? Berjalan begitu saja, seiring berlalunya waktu? BukaanYell.. bukan itu maksudnya. Perumpamaan hidup ini adalah seperti air yang mengalir.

Sesuai dengan hukum alam yang berlaku, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah (kecuali kalau ditarik pake’ pompa airTongue out). Dalam perjalanan itu, air telah melewati tempat-tempat yang berbeda. Artinya, semakin rendah tempat yang dicapai air itu, semakin banyak tempat yang telah dilaluinya. Apa maknanya dalam kehidupan? Dalam hidup ini, semakin kita berilmu, kita harus lebih rendah hati. Jangan sombonglah… karena semakin kita tahu, semakin banyak pula yang tidak kita ketahui.

Air mengalir dari hulu ke hilir. Tujuan akhir dari si air adalah laut. Dia bercita-cita untuk mencapai laut. Tapi di tengah-tengah perjalanannya menuju laut, banyak halangan rintangan menghadang. Ada yang membendung alirannya untuk persediaan air, ada yang membuat jalur baru untuknya ke sawah, ada yang mengarahkannya ke perumahan, ada yang menggunakannya untuk pembangkit listrik, dan lain sebagainya. Bila air ini tidak memiliki tenaga yang kuat, dia tak akan bisa mencapai tujuannya: laut. Tapi ada kalanya air yang berkecepatan tinggi tidak mencapai laut karena dibendung untuk keperluan tertentu. Begitu pula dengan hidup ini. Kita memiliki cita-cita dalam hidup yang berusaha kita raih. Namun di dalam perjalanan kita dalam meraih cita-cita, banyak halangan melintang. Ada yang berusaha membendung cita-cita kita, ada suatu hal yang membelokkan cita-cita semula, ada yang memanfaatkan cita-cita kita untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, manusia yang tidak memiliki tekad yang kuat akan berhenti di tengah-tengah perjalanannya meraih cita-cita. Kita harus memiliki tekad yang kuat dan berusaha semaksimal mungkin dalam meraih suatu tujuan. Tapi ada kalanya dengan tekad yang kuat masih belum bisa meraih cita-cita. Itulah, ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan kita. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam meraih suatu tujuan, namun berhasil atau tidaknya berada di tangan Allah. Namun jangan lupa, Allah memberikan sesuatu kepada kita sesuai dengan usaha kita. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha.

Begitulah..Hidup bagai air yang mengalir, bukan berarti kita mau saja dibelokkan kemana-mana, tak mau berusaha. Tapi kehidupan ini bagaikan perjalan air yang mengalir, penuh rintangan. Namun semakin banyak hal yang kita ketahui, semestinya kita semakin rendah hati. Tak perlu sombong.. begitulah alam memberikan hukumnya. Smile

Posted by re_here at 14:53:33 | Permalink | Comments (13)

Friday, November 10, 2006

Gunung Pun Berubah Warna

Salatiga.. ya Salatiga. Kota nan sejuk yang terkenal dengan panganan khas Enting-Enting Gepuk dan Keripik Paru ini berada di sekeliling gunung-gunung terkenal di Jawa. Ada Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Gajah Mungkur, bahkan Gunung Merapi. Pemandangan di sepanjang jalan kota ini hampir selalu dapat dinikmati dengan adanya gunung-gunung sebagai backgroundnya. Bila kita masuki jalan-jalan alternatif, di sana dapat pula kita lihat sawah-sawah di kaki gunung. Indahnya Salatigaku… memori indah kota kelahiranku.

Namun beberapa saat lalu, saat kukembali ke Salatiga dari perantauanku, kumelihat perubahan yang buatku meringis. Aku merasakan panasnya kota itu yang menyengat kulit. Kubertanya-tanya dalam hati, “Ada apa gerangan dengan kotaku tercinta ini?”. Pertanyaan itu tak pernah terjawab tuntas. Lalu kuberjalan-jalan mengelilingi kota mungil ini sambil melihat gunung-gunung yang pernah kulihat di Depok dan Jakarta. Saat itulah kumelihat hal yang kutakutkan sejak kumasih SMA.

Gunung-gunung itu, yang kukhawatirkan. Dulu saat kumasih kecil, yang kutahu hanyalah gunung berwarna biru. Begitu indah dipandang, menyegarkan mata, hati, dan pikiran. Hingga saat ku SMA, kulihat perubahan warna gunung yang selalu kulihat bila berangkat sekolah. Gunung itu berubah menjadi hijau tua di beberapa sisi. Sekilas tentu nampak indah, tapi menyakitkan hatiku saat itu, karena kutahu apa yang membuatnya nampak hijau tua. Ya, beberapa pohon di gunung itu telah ditebang hingga nampak lah celah-celah antar pohon, menandakan bahwa pepohonan di gunung sudah tak rapat lagi.

Di akhir masa-masa SMA, aku menjadi semakin sedih. Ingin rasanya berbuat sesuatu agar gunung-gunung itu tetap sedap dipandang. Karena pada saat itu gunung telah berubah lagi menjadi hijau muda. Mengapa? Ya, banyak pohon telah ditebang lagi dan dibuat persawahan. Hijau muda adalah warna dari petak-petak sawah itu. Tapi aku tak bisa berbuat apapun saat itu, karena aku harus meninggalkan kotaku tercinta itu untuk mencari ilmu di ibukota.

Beberapa bulan kuliah di kota seberang, kukembali lagi ke Salatiga saat lebaran. Gatal hatiku semakin terasa karena kini gunung telah berubah warna kembali. Coklat kini di beberapa sisi… Hatiku berteriak, “Kapan semua ini akan berhenti?!” tapi aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Akankah kumembeli berbagai macam bibit tumbuhan besar untuk kutanam di gunung-gunung itu? Seberapa banyak yang harus kubeli dan berapa lama waktu untuk mencapai petak-petak coklat itu dan menanamnya? Tak hanya satu sisi gunung, tapi banyak. Tak hanya satu gunung, tapi banyak. Bagaimana mengajak orang-orang untuk turut mem-biru-kan lagi gunung-gunung kita?

Hingga kini pun ku belum bisa berbuat apa-apa. Adakah yang ingin mengusulkan, apa yang bisa kuperbuat? Wahai teman-temanku yang telah berhasil, bukalah hatimu untuk turut mem-biru-kan gunung-gunung. Bila kau bekerja di bidang kehutanan, buatlah program pem-biru-an kembali gunung. Bila kau pecinta lingkungan, turut tanamilah lahan-lahan gundul di sekitarmu. Bila kau orang kaya, sumbangkan uangmu untuk negerimu. Ajaklah orang-orang untuk sadar lingkungan. Bila kau tak bisa apa-apa, berdoalah… dan inilah selemah-lemah iman.Lalu aku? Apa yang kulakukan? Yah….. aku belum tahu. Aku baru bisa menulis dan berdoa…..

“Celakalah orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya…”

Astaghfirullahal ‘adzim, jangan masukkan kami ke dalam golongan tersebut Ya Allah… Lindungi kami dari godaan setan yang terkutuk. Amin.
Posted by re_here at 09:57:15 | Permalink | Comments (9)

Tuesday, November 7, 2006

Life Is Beautiful

Pernah dengar judul film itu? Katanya sih mulai hot di awal ‘90 an. Tapi aku baru nonton malem minggu kemarin di ANTV.

Pertama ngelihat film itu, aku ngerasa ini Cuma film lucu biasa. Tapi semakin diikuti semakin ngerti aku dengan pelajaran yang bisa diambil dari film itu.

Film itu bercerita tentang sepasang suami istri beserta seorang anak yang ditangkap untuk dikarantina di semacam ‘camp konsentrasi NAZI’ ala Italia. Sang ayah sangatlah cerdik membuat suasana sedemikian rupa sehingga anaknya tidak merasakan kekejaman kekuasaan diktator saat itu. Dia membuat seolah-olah semua yang ada di dalam camp konsentrasi itu adalah permainan kejutan untuk anaknya. Sementara itu, dia juga tetap membuat istrinya bersemangat dengan cara-cara yang cerdik (camp pria dan wanita dipisah).

Memang film itu berakhir sedih dengan meninggalnya sang ayah dengan cara yang kejam. Tapi juga gembira karena sang anak kembali bertemu dengan ibunya. Benar-benar berakhir dengan mengharukan.

Setelah nonton film ini, aku ngerasa jadi ‘hidup’ lagi. Bagaimana kita menghadapi semua pahit getir kehidupan dengan cara-cara yang membuat kita menikmati hidup ini. Tak perlu berkeluh kesah, tak perlu takut, hadapi semuanya dengan optimis.

Film yang sangat bagus, menyaingi Beautiful Mind dalam daftar film favoritku
Posted by re_here at 07:55:11 | Permalink | Comments (6)

Thursday, November 2, 2006

Bahasa oh Bahasa

Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang sangat penting. Dengan bahasa, kita dapat menyampaikan apa yang maksudkan kepada orang lain. Sebaliknya, kita dapat mengerti pula apa yang disampaikan orang lain kepada kita.

Bahasa secara tidak langsung dapat memajukan teknologi suatu bangsa yang nantinya akan mempengaruhi tingkat ekonomi suatu bangsa. Bagaimana bisa? Sebagai contoh, teknologi saat ini dikuasai oleh bangsa-bangsa Amerika, Jepang, Perancis, dan Jerman. Nah, agar kita dapat mendapatkan pengetahuan tambahan (seperti prinsip kerja, cara kerja, asas yang digunakan, dsb) tentang produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan luar negeri, kita semestinya mengerti bahasa yang digunakan. Dalam hal ini, bahasa Inggris saja tidaklah cukup. Di Perancis, orang tidak akan membocorkan kinerja mereka dalam bahasa Inggris. Anda berbahasa Inggris? Lupakan keinginan Anda untuk mengetahui sesuatu yang penting dari perusahaan kami. Demikian pula dengan Jerman dan Jepang. Lebih-lebih di Jepang, penduduk Jepang benar-benar masih mempertahankan tradisi-tradisi Jepang dan mempergunakan bahasa Jepang dalam segala urusan kependidikannya. Dalam kata lain, semua yang datang ke Jepang harus mengerti dan bisa berbahasa Jepang. Bahasa Inggris tidak akan digunakan dalam percakapan antar bangsa di Jepang.

Apabila kita telah menguasai teknologi yang mereka kuasai, kita perlu mengembangkan teknologi tersebut, dan akhirnya kita harus memasarkan produk dari teknologi tersebut. Dengan penguasaan bahasa yang baik, kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai bangsa dengan bahasa mereka sehingga mereka akan lebih menghargai kita. Mereka juga lebih memahami keunggulan-keunggulan produk kita. Nah, kemampuan kita untuk bersosialisasi seperti itu akan menyukseskan pemasaran produk kita dan secara bertahap ekonomi negara kita akan semakin meningkat.

* * *

Ini ada cerita saat kakak iparku ingin berlebaran di Salatiga. Karena kami sekeluarga akan pergi ke luar kota di hari tibanya sang Kakak, dia transit dulu di Semarang. Dia jalan-jalan keliling kota Semarang, naik angkot ke Simpang Lima.

“Pak, kalau twenty-one(21) ada di mana ya?” tanya kakakku pada Pak Sopir.

“Wah, kalau twenty-one bukan di Simpang Lima Mbak! Twenty-one itu di Kalimas, jauh dari sini,” jawab Pak Sopir.

“Ooo… begitu ya Pak?”

“Iya, Mbak.. lagian kalau siang-siang gini tutup,” lanjut Pak Sopir “kan kalau Ramadhan gini diskotek bukanya malam aja…”

SurprisedHAAH???!! DISKOTEK????” seru kakakku kaget setengah mati.. “Wah, di Semarang itu twenty-one itu diskotek, toh?Undecided” pikir kakakku bingung.

“Wah… bukan, Pak! Bukan twenty-one diskotek, Pak… Saya nyari bioskop kok!” kata kakakku. Dan tahukah apa jawab Pak Sopirnya…

“Oalah…. Mbak!! Itu sih bukan twenty-one Mbak… itu sich dua satu……!Innocentkata Pak Sopir medhok.

“?????!!!????”

Hehehe… emang sih, bioskopnya kan tulisannya 21. Orang awam bacanya ya bukan twenty-one, tapi dua satu!Cool

Posted by re_here at 11:23:28 | Permalink | Comments (4)