Wednesday, October 18, 2006

Lailatul Qodar

Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat didambakan oleh setiap muslim. (Beribadah di) malam itu nilainya lebih baik dari (beribadah selama) 1000 bulan. Bila kita berhasil mendapatkan malam itu, amalan kita akan terjamin selama 11 bulan ke depan. Usaha yang keras dan istiqomah diperlukan untuk mendapatkannya. Sangat beruntunglah kita bila lingkungan begitu mendukung kita ‘tuk mendapatkannya. Seperti saat sang belahan hati mengirimkan pesan singkat

 

Ayo…. i’tikaf… ra turu wae….! eman2 lailatulqodare nak dilewatke… ayo…

(Ayo….i’tikaf… jangan tidur melulu! Sayang bila melewatkan lailatul qodar… ayo…)

 

Namun apa daya.. mata melirik jam digital di handphone… “Hmmm… setengah dua?” mata pun terpejam kembali. Betapa bodohnya manusia ini. Bagaimana bila malam itu benar-benar lailatul qodar? Betapa ruginya manusia ini.

Hati manusia ini kembali terbuka, matanya juga ikut terbuka. “Hm… pukul tiga?” Dirinya mulai terjaga. Tidur? Lalilatul qadar? Dirinya gelisah, bagimana jika malam itu benar-benar lailatul qadar? Dirinya segera bangkit dan mencuci muka. Segera ia bersahur dan kembali ke kamar. Diambilnya air wudhu, ditunaikannya shalat malam.

Lailatul qadar… mungkinkah kan ia dapatkan? Sementara dalam shalatnya:

Rakaat 1: Ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladhdhooooolliiin… Amiin…

*waduh.. paper filsafat belum kelar!*

Rakaat 2: Qul huwallahu ahad…

*eh, proposal laptop di-acc ga ya?*

Rakaat 3: Qul yaa… ayyuhal kaafiruun…

*buseeett… pagi-pagi nyetel TV keras-keras*

begitu seterusnya..

 

Astaghfirullahal ‘adziimm.. Ya Allah, berikanlah nilai kebaikan pada usaha keras manusi ini untuk khusyu’.. meski sering gagal di tengah jalan. Seandainya malam itu adalah lailatul qadar, perkenankanlah manusia kerdil ini masuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntug. Seandainya pun bukan, manusia ini kan selalu mengharapkan kehadirannya, Insya Allah.

 

Depok, 16 Oktober 2006

Posted by re_here at 10:52:46 | Permalink | No Comments »

Suasana Hujan

Hari ini hujan turun di UI-Depok

Nggak deras sih, tapi lumayan gedehe sich…

Lagi-lagi persaanku melambung nich..

~          ~          ~

Entah mengapa, aku nggak tahu

Aku begitu menyukai suasana hujan

Bukan hujannya, tapi suasananya

Begitu hening, diiring suara air jatuh dari langit

Rasanya begitu damai

Pun udara jadi bersih

Pikiran terasa tenang nan jernih

~          ~          ~

Suasana hujan, bukan hujan

Terbayang kududuk di Rotunda Teknik

Angin berhembus sepoi-sepoi

Daun-daun bergemerisik

Pelan-pelan jatuh berguguran

Saat itulah damai pun terasa

Mau ngapa-ngapain juga enak

Baca buku bikin ide tercipta

Dengerin musik klasik juga ngrasuk ke dalam jiwa

~          ~          ~

Suasana hujan pun terasa tatkala

Kudengar surat-surat cinta

Dari Allah Tuhanku dilantunkan

Dengan bacaan nan tartil

Sejuk rasanya, buatku termenung

Merefleksikan makna kehidupan

~          ~          ~

Semua ini bukan puisi

Pun bukan permainan kata

Ini hanyalah goresan pena

(tapi akhirnya diketik juga…)

 

 

Depok, 15 Oktober 2006

Posted by re_here at 10:31:45 | Permalink | Comments (4)