Setelah beberapa minggu mengalami kemacetan berpikir untuk menulis, aku memutuskan untuk mengenyahkan kemacetan itu - bagaimanapun caranya.
Kepada para pengunjung yang belum mengikuti tulisan-tulisanku yang sebelumnya, mohon maaf bila ada tulisan yang tidak terbaca dengan jelas karena warnanya. Soalnya kemarin layoutnya habis kurombak dan tulisan-tulisanku yang lain belum diedit lagi. 
OK, untuk memulai tulisan baru di bulan Oktober, kumulai dengan yang ringan saja yach! Yuk, siap kan? AKu mau cerita tentang aku dan sahabatku. Semoga dapat kita ambil pelajaran yang berharga dari tulisan ini.
* * *
Kami kenal secara tak sengaja saat kelas X (1 SMA). Saat itu kami berada di kafilah yang sama dalam kegiatan Mujahadah. Tapi ya… kenalannya Cuma sampai di situ. Setelah itu kami jarang ketemu karena beda kelas dan kelas kami cukup jauh.
Di kelas XI, kami juga masih jarang bertemu. Seingatku, kami sering bertemu secara tidak sengaja di perpustakaan. Tapi karena kami nggak kenal-kenal banget, jadinya ya …cuma senyum-senyum aja.
Nah, di kelas XI ini kebetulan aku jadi anggota BPH MPK alias Badan Pengurus Harian Musyawarah Perwakilan Kelas. Jabatan ini membuatku berwenang untuk secara diam-diam mengikuti kegiatan yang diadakan oleh organisasi-organisasi di bawah MPK - dalam rangka mengawasi dan mengevaluasi. Makanya aku gunakan wewengang itu, termasuk di PMR (sahabatku ikut organisasi ini).
Aku jadi sering ketemu ama anak-anak PMR yang asyik-asyik. Aku jadi sering ngobrol sama mereka, ikut kegiatan-kegiatan yang mereka adakan, bercanda bersama, dan sebagainya. Saling menggoda adalah salah satu rutinitas kami. Kebetulan ada seorang anak PMR yang wajahnya mirip dengan aku (atau aku yang mirip dia ya…??
). Jadilah anak-anak PMR menggodaku habis-habisan, termasuk sahabatku itu.
Di sinilah awalnya aku memperhatikan sahabatku. Bagiku dia adalah seorang yang unik, cerdas, sabar, dan penyayang. Sementara aku membutuhkan orang yang mau mengajariku, memahamiku, dan menyayangiku. Aku merasa menemukan orang yang cocok.
Aku mulai memberiknya kado saat ia berulang tahun, mengunjungi rumahnya, mengunjungi kelasnya, pulang bersamanya, bermain bersama kawan-kawannya, dan sebagainya. Teman-teman yang lain nampaknya merasakan juga kedekatanku dengannya dan berpikir bahwa aku mulai bersahabat dengannya. Aku pun merasa demikian, aku menganggapnya sebagai sahabatku.
* * *
Seiring waktu berlalu, persahabatan kami terus berjalan. Banyak hal yang telah kami lalui bersama hingga tibalah kami di suatu titik… di mana persahabatan kami mancapai titik kritisnya… di mana tak satu pun dari kami yang mau mengalah…. di mana begitu sering kami mengorbankan perasaan kami masing-masing… untuk mempertahankan prinsip, sementara yang lain tetap berjuang untuk mendapatkan apa yang dimau.
Teman-teman di sekitar kami pun mulai melihat gelagat yang tidak baik. Mereka yang sering berkumpul dengan sahabatku merasa tidak enak bila bertemu denganku. Sebaliknya, teman-temanku pun merasa risih bila harus bertemu dengan sahabatku. Sungguh, masa-masa itu sangatlah tidak enak dan sangat mengguncang jiwaku saat di SMA.
Tapi aku tak pernah putus asa. Aku selalu mengejar sahabatku untuk memperbaiki hubungan kami (iih.. bahasanya ga enak ya? Kesannya maksa…
). Tapi begitulah, perstiwa demi pertiwa berlalu sampai kini pun aku masih tak mengerti bagaimana hal itu terjadi. Satu hal yang pasti, kini kami bersabat dengan eratnya. Aku tak tahu bagaimana hl ini bisa terjadi. Aku begitu penasaran hingga aku bertanya padanya,
Eh.. dulu kita kan hampir-hampir nggak bisa disatukan ya.. tapi kok kita sekarang bisa bersahabat sedemikian eratnya sich? Memangnya dulu kita ngapain kok sampai bisa baikan lagi?
Dan jawaban yang kudapatkan sangatlah bijak dan memang kurasakan kebenarannya
Mungkin karena kita dulu saling memaafkan dan saling memberi kesempatan untuk berubah.
* * *
Ah, sahabatku tercinta
Hanya satu yang kutahu
Kaulah sahabat terbaik
Yang pernah kumiliki
Ku ingin segera pulang, hai sahabat..
‘tuk habiskan libur nan indah
lebaran kali ini, hai sahabat..
bersamamu…