TMII (bagian 2): Museum Keprajuritan Indonesia
Puas menikmati berbagai kerajinan, aku keluar dari Pusat Industri Seni dan Kriya. Shalat Jumat masih belum usai, aku pun memutuskan untuk mengelilingi bagian depan Taman Mini yang tadinya hanya kami lewati. Aku memasuki sasana-sasana yang tadi terlihat oleh kami. Di dalam sasana-sasana tersebut, dijual beberapa makanan khas daerah tertentu. Ada pula potongan-potongan kayu yang dijual. Unik, potongan-potongan kayu! Saat kulihat dengan lebih teliti, ternya potongan-potongan kayu tersebut adalah kayu-kayu dari pohon yang berbeda. Ada pohon jati, mahoni, cendana, dan lain-lain. Kayu-kayu tadi di-pack dalam sebuah wadah yang cantik. Aku membayangkan, berapa banyakkah souvenir-souvenir tadi diproduksi? Bila ternyata souvenir tersebut diproduksi secara massal, tentulah nyata perbuatan manusia yang membuat kerusakan di muka bumi.
Berkeliling dengan berjala kaki ternyata cukup melelahkan. Aku memutuskan untuk menuju ke "Mini Borobudur" yang terletak di depan masjid mini "Pangeran Diponegoro", tempat di mana Ansyah dan Daus menunaikan shalat jumat. Melihat miniatur dan membaca sejarah candi itu membuat anganku akan masa lalu melambung. Hal itu membuatku semakin bangga menjadi orang Indonesia. Karya itu menunjukkan betapa tingginya peradaban manusia Indonesia di masa lalu. Betapa cerdas, kreatif, dan tingginya jiwa sen mereka (sayangnya, mengapa mereka menyembah selain kepada Allah???). Bila nenek moyang bangsa Indonesia saja bisa sehebat itu, mestinya kita bisa menjadi bangsa yang hebat pula. Andaikan saja kita mau sadar untuk terus menggali dan mengoptimalkan potensi diri kita.
Hmmm, shalat Jumat telah usai. Kini tiba giliranku untuk menunaikan shalat Dzuhur. Ansyah dan Daus akan menungguku di Pusat Industri Seni dan Kriya.
* * *

Satu hal yang unik adalah kedua kapal tadi dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung. Kami iseng meloncat-loncat sejenak sehinga jembatan pun bergoyang bergelombang. Kami harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh ke dalam air. Kemudian saat kami tiba di tempat yang baku, kami masih merasakan senssasi bergoyang-goyang sampai-sampai kami berbikir bahwa tempat kami berpijak memang bergoyang - tapi tentu saja tidak :D.
Puas bermain menjadi bajak laut, kami menuruni kapal menuju halaman Museum Keprajuritan. Di depan musemum yang gagah itu, berkibar Sang Merah Putih dengan penuh wibawa. Kibarannya anggun mencerminkan kemenangan yang kita raih sehingga ia dapat berkibar dengan tenang. Didukung suasana sekitar museum yang sepi, dihembus angin yang sepoi-sepoi, kami semua terdiam. Termenung kami melihat jayanya sang Merah Putih berkibar. Refleks, aku mengangkat tangan melakukan posisi hormat. Tindakan yang juga diikuti oleh Ansyah dan Daus.

Sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah slama-lamanya...."

).
.






. Hingga kini, Republika dan Hidayatullah lah yang masih bertahan.
Aku terkejut dan segera kusambar majalah dari rak yang letaknya tepat di atas bak mandi. Dan.. "Byuuur!!!" jatuh dech ke dalam bak...
Iya," jawabku cuek.
Apa tadi hujan?" tanyanya..
" jawabku cuek sambil ngabur ke kamar.
