Kuliah Nano-Nano

4 Feb 2010 Pengalaman

Apa yang teman-teman pikirkan jika membaca judul tulisan ini? Apa isi tulisan yang sekiranya akan teman-teman baca di sini? Kuliah nano-nano.. Hmm, kuliah yang campur aduk kaya’ permen nano-nano. Atau ikut kuliah sambil makan permen nano-nano? Atau kuliah yang dosennya kayak nano-karno? Yak, kita ikuti saja tulisan ini.

Nah, kawan-kawan.. sebenarnya saya ga terlalu suka dengan kegiatan yang namanya programming. Huff, sebenarnya bukannya tidak suka sih, tapi pernah ada pengalaman buruk dengan programming. Begitulah.. dari pengalaman buruk tadi, saya jadi agak-agak malas dengan yang namanya programming. Akan tetapi, ternyata hidup saya tidak bisa jauh dari programming.

Waktu mengambil kuliah Robotika, saya kira kami akan mempelajari rangkaian-rangkaian yang efektif untuk membuat sebuah robot yang OK punya. Seperti macam-macam driver yang memungkinkan untuk menghasilkan gerak yang memuaskan, macam-macam rangkaian sensor, dan sebagainya. Yah, intinya tentang rangkaian-rangkaian aplikatif yang dapat dipergunakan untuk membentuk sebuah robot. Ternyata, kuliah ini belajar tentang coding robot. Ga ada sama sekali pelajaran tentang rangkaian. Yah, saya masih mencoba senang dengan kuliah ini. Saya mencoba untuk coding dengan sungguh-sungguh. Tapi buruknya pengalaman dan penghargaan membuat saya jadi malas berurusan lagi dengan programming.

Walaupun begitu, tampaknya saya ditakdirkan untuk tidak jauh dari dunia programming. Skripsi saya full programming!! Ough.. karena ini final project, saya benar-benar lebih mengerahkan tenaga untuk mempelajari program orang lain, menganalisis fungsi setiap perintah dalam program tersebut, dan kemudian mengaplikasikan ide-ide baru ke program tersebut. Akhirnya, sedikit banyak saya mulai terbiasa dengan tekanan programming.

Semester ini saya mengambil sebuah mata kuliah yang merupakan mata kuliah baru di DTE UI, yaitu mata kuliah nanoteknologi. Biar gampang nyebutnya, kami sebut sebagai kuliah nano.Mata kuliah baru, otomatis belum ada silabus yang jelas. Saya pun mengambilnya karena sedikit banyak saya cukup tertarik dengan dunia elektronika. Apalagi, selain kuliah-kuliah peminatan control alias kendali, saya juga banyak mengambil mata kuliah peminatan elektronika. Jadi yaaa, sedikit banyak ada jugalah dasar-dasar peminatan elektronika.

Pada umumnya, kuliah-kuliah elektronika cukup diminati oleh mahasiswa elektro UI angkatan saya. Banyak hal-hal menyenangkan yang kami peroleh di sana. Oleh karena itu, saya cukup kaget saat melihat bahwa kuliah nanoteknologi diselenggarakan di kelas A103. A103 adalah kelas dengan kapasitas kecil. Dan ternyataaaaa…… yang mengambil kuliah ini cuma 18 orang! Jangan bilang kalau kali ini saya kembali menjadi satu-satunya wanita di kelas (waktu kelas Robotika, saya satu-satunya wanita di kelas tersebut T_T). Alhamdulillah, ada 1 orang kawan wanita lagi yang mengambil kuliah nanoteknologi.

Saat pertemuan pertama, pak dosen nanoteknologi datang sangat awal. Bahkan lebih awal dari saya. Kelas benar-benar masih kosong. Pertemuan pertama ini juga ga singkat, benar-benar sampai jam berakhirnya kuliah. Tidak kurang satu menitpun. Fufufufu.. Lalu apa yang ingin saya ceritakan? Begini, si Bapak berkata begini:

“Nah, dengan demikian, nanoteknologi bergerak di dalam ukuran nano ya.. ukuran yang sangat kecil. Ga kelihatan secara kasat mata. Jadi untuk melakukan praktikum pun susah kan ya? Oleh karena itu, untuk mempraktekan komputasi berukuran nano dan memahami tentang nanoteknologi, kita akan menggunakan pemrograman.”

Ah, ya! Pemrograman! Sekali lagi, saya masuk ke dunia programming. Subhanalloh…

Yah, tapi saya rasanya sudah ga terlalu alergi lagi sama programming. Mudah-mudahan seperti itu ya..

Semangat, programming! Fight-oh… Oh! Os!

***

Kata mutiara dari Pak Profesor pembimbing skripsi saya: “Kamu nurut saja sama profesor kamu. Meski kamu merasa tidak bisa, ikuti saja apa kata profesor kamu. Yakinlah, profesor kamu tahu seberapa potensi kamu, apa yang bisa kamu kerjakan. Bahkan kadang-kadang, profesor kamu malah lebih tau tentang potensi kamu dari kamu sendiri.”

(Kadang-kadang saya penasaran.. sebenarnya, bagaimana potensi dan kemampuan saya menurut profesor saya? Tapi saya tidak pernah menanyakan hal tersebut).

Perkataan serupa dikatakan oleh pak dosen nanoteknologi: “Anda harus percaya diri dan mandiri. Yakinlah, kalau dosen memberikan tugas pada Anda, maka tugas tersebut pasti dapat Anda kerjakan.”

Change my Theme

1 Feb 2010 Ada Aja yang Ditulis

Setelah kurang lebih 10 bulan menggunakan theme pegunungan, saya ingin kembali ke hal-hal yang simpel saja. Saya ingin blog ini kelihatan simpel saja. Oleh karena itu, saya coba pilih theme saat ini sebagai background blog ini. Mudah-mudahan mudah diterima oleh mata dan loadingnya tidak lama. Hehe..

Hari ini sebenarnya agak-agak gilo. Besok harus ketemu dosen pembimbing untuk progress report skripsi dan presentasi lagi. Tadi siang, saya sudah utak-atik listing program untuk skripsi di laptop saya. Sepertinya untuk metode yang saya gunakan saat ini, akan memakan waktu komputasi yang cukup lama. Oleh karena itu, saya meninggalkan laptop saya dalam keadaan menyala dan proses komputasi tetap berjalan. Saya meninggalkan laptop saya dan pergi ke sebuah tempat yang dapat menyegarkan sisi ruhaniah saya. Sebuah majelis tempat belajar akan dien yang lurus, membahas sebuah kitab tauhid. Berharap, saat saya kembali nanti, proses komputasi telah selesai dengan memuaskan.

Nyatanya, sepulang dari majelis tadi, saya tidak langsung kembali ke kamar. Saya makan dulu, makan malam. Nasi goreng ayam dengan tambahan bumbu kecap inggris dan potongan cabe rawit hijau nan lezat. Hmm… Lantas, setelah makan, saya masih tidak langsung pulang ke kamar. Saya mampir ngenet dulu, huhuhu…Di sini, saya ganti theme blog ini. Saya cukup suka melihat tampilan blog yang sekarang ini. Hehe, senyum-senyum geje nih : ).

Nah, sudah-sudah. Rasanya sudah cukup dulu. Ni belum bikin presentasi dan laporan untuk menghadapi Pak Profesor beok nih. OK! Ganbatte kudasai! : )

Cerita Panjang

28 Jan 2010 Merenung, Perjalanan

Hari ini cukup menyenangkan untuk saya. Hari ini, yang menghantui saya sejak sepekan sebelumnya, berakhir dengan baik. Ya, menghantui, lantaran saya diminta oleh pembimbing skripsi saya untuk menghadap bersama teman-teman saya yang satu bimbingan dengan beliau juga. Kami diminta untuk memperhatikan presentasi tesis-tesis mahasiswa s2 bimbingan beliau dan ternyata ditambah dengan bonus presentasi skripsi putra beliau yang sedang menyelesaikan final projectnya sekarang. Terdengar biasa saja mungkin: memperhatikan presentasi. Tapi jangan salah, yang bikin saya deg-degan adalah karena saya tahu beliau pasti juga menanyakan progress kami semua. Hatta yang tidak presentasi. Yah, ketar-ketir karena selama liburan rasanya malas sekali membuka listing program untuk mengutak-atiknya. Saya pun hanya beberapa kali saat liburan membuka listing program untuk skripsi saya, namun tidak mengutak-atiknya. Hanya memberikan komentar-komentar untuk setiap perintah yang ada untuk meyakinkan diri bahwa saya cukup mengerti akan setiap baris perintah yang ada di dalam listing program.

Tadi malam, sehari sebelum hari ini, saya diminta seorang kawan untuk menonton film horor di kamarnya. Memang agak menggelikan. Seseorang yang tidak kuat lihat film seram, tapi penasaran akan sebuah film horor yang mungkin tak asing lagi di telinga kita: “The Ring O”. Saya agak bimbang, tapi akhirnya saya memutuskan untuk menemaninya. Toh saya sudah menguprek-uprek listing program skripsi sejak sore. Mungkin film horor bisa sedikit membuat saya tertawa, hahaha.. Dan ternyata memang ada juga adegan-adegan lucu di “The Ring O” (menurut saya lho, haha..). Akhirnya saya kembali ke kamar saya menjelang tengah malam. Mandi dulu (tapi bukan mandi kembang : D), lalu kembali nguprek-uprek listing program. Sampai jam satu lewat baru tidur dan bangun lagi sekitar jam 3 pagi. Habis selesai rutinitas setelah subuh, kembali saya menguprek-uprek listing program untuk skripsi.

Saat-saat yang dinantikan pun tiba, pukul 13.00. Saya bersama teman 1 bimbingan tiba di laboratorium Teknik Kendali untuk memperhatikan presentasi-presentasi tesis. Dan benarlah apa yang saya perkirakan, Profesorku tercinta bertanya padaku “Gimana pekerjaan kamu?” Hehe, untung sebelumnya saya sudah benar-benar nguprek-uprek programnya. Jadi sedikit-sedikit ada sajalah yang bisa dilaporkan. Bukan profesorku namanya kalau membiarkan mahasiswanya begitu saja, beliau berkata “Kalau begitu, hari ini kamu presentasi juga ya!”

Dhoeeenng!! Tidaak, kalau itu tidak deh. “Ah, tidak Pak. Belum siap-siap”
Ya sudah, akhirnya presentasi yang ditunggu-tunggu terlaksana juga. Mendengarkan dan menanya-nanyai dan saling tukar pikiran. Akhirnya selesai juga semua presentasi dan diskusi resmi selama tiga jam lebih beberapa menit. Kirain dah selesai, eh si Bapak nanyain lagi “Ya, kamu presentasi juga deh ya!”
Saya tertawa, dan akhirnya saya sepakat untuk cerita-cerita saja tentang apa yang saya pahami. Jadi timbullah diskusi yang kembali hangat dalam forum. Papan tulis lab Kendali pun puas kami coret-coret bersama. Hihihi..

Akhirnya, saya bisa juga keluar dari lab dengan hati gembira. Turun ke lantai dua (lab Kendali di lantai 4), saya bertemu kawan-kawan wanita satu angkatan di elektro. Ramailah kami karenanya. Pakai acara main lempar tangkap segala lantaran mereka bawa bola, souvenir dari workshop software apa softskill apa gitu. Kayanya sih nyambung sama skripsi mereka juga. Dan setelah sholat ashar, saya numpang di mobil seorang kawan saya tadi sampai ke Gerbang Utama (Gerbatama) UI.

Yah, yah.. ngapain saya ke Gerbatama? Hoo, ada titipan dari senior yang dah kerja untuk beli sesuatu. Yah, begitulah. Habis dari Gerbatama, saya akan melanjutkan perjalanan ke daerah Pondok Cina-Margonda untuk keperluan itu juga. Wah, ternyata tiba-tiba hujan deras! Saking derasnya, daripada kebasahan walau pakai payung, saya pun mampir ke Gramedia Depok. Dan ceritanya mulai dari sini (Wah, ternyata dari tadi belum mulai cerita ya? Hahaha, sabar ya…)

***


Sudah berapa lama ya saya ga main ke Gramedia Depok? Sampai sudah lupa kapan terakhir kali ke sana. Kini, saat saya kembali menginjakkan kaki ke toko buku besar tersebut, saya kembali merasakan hawa toko buku yang menyenangkan. Saya naik ke lantai dua, tempat di mana buku-buku dijual. Dan rasanya, menyenangkan.. Walau hanya sendirian. Sekilas saya melihat buku baru yang dipajang di dekat kasir, saya tertarik dengan sebuah buku karena pengarangnya: Mitch Albom. Saya teringat, saya pernah membaca sebuah karyanya yang paling terkenal: “Tuesday with Morie”.  Selasa bersama Morie. Kisah Albom yang menemani seorang Morie setiap Selasa. Morie, seseorang yang sangat terpelajar, berpengetahuan luas, bijaksana, akan tetapi ditimpa penyakit yang sangat parah yang membuatnya bergantung pada kursi roda dan hampir-hampir tak bisa bergerak dan sulit untuk bicara. Yah, semacam stroke dan komplikasi gitu deh. Tapi dalam keadaan demikian, pemikirannya sangat bijak dan menyentuh hati Albom. Kali ini, buku karya Mitch Albom kembali diterbitkan: “Have a Little Faith”. Cerita tentang Albom yang berkenalan dengan seorang pendeta, yang membuat Albom kembali merasakan suasana religius. Hal yang sudah lama ditinggalkannya. Yaaah, saya belum baca buku ini sih. Baru baca review di sampulnya. Jadi belum bisa cerita banyak. Yang jelas, saya kembali melanjutkan petualangan di rak-rak buku Gramedia Depok.

Saya menuju rak buku-buku web dan multimedia dan mulai membaca-baca beberapa buku menarik di sana. Lumayanlah, sambil menunggu hujan reda, bisa mencuri ilmu di toko buku. Hehehe.. Beberapa buku saya katamkan di tempat, lalu saya kembali melanjutkan perjalanan ke rak lain. Melewati rak-rak novel, tidak ada yang menarik saya. Sampai di rak-rak komik, hmmm… ada komik Tin-Tin yang tidak tersegel. Tapi saya melewatinya begitu saja. Sedang malas baca komik. Sampai di rak komik dewasa, saya berhenti. Saya melihat ada komik “Team Medical Dragon”. Hmmm, ini komik bagus juga. Sayang ga ada jilid yang lebih baru lagi. Komik ini menceritakan dunia medis di Jepang. Lumayan dapat banyak ilmu lho dari komik ini. Ya sudah kalau tidak ada yang baru. Saya sempat melirik beberapa judul lain seperti “Fight Ippo”, “Miiko”, dan “King of Sweet”. Tapi semuanya tidak saya sambangi, apalagi memang tidak bisa dibaca karena masih disegel rapat.

Akhirnya, tibalah saya di rak majalah-majalah. Dan saya melihat tumpukan “National Geographic” yang baru maupun yang bekas. Banyak yang tidak tersegel! Mata saya berbinar.. Huhuhu, dulu saya sayang sekali dengan majalah ini meski saya tidak setuju dengan ideologinya yang mendukung Darwinisme. Tapi sebagai majalah yang banyak mengulas tentang alam dan IPTEK, saya sayang sekali pada majalah ini. Dan karena harganya cukup mahal, maka saya merawat majalah ini baik-baik jika mampu membelinya. Nah, tadi saya sampai “ndeprok” di toko buku seperti halnya orang-orang lain yang baca gratisan.. untuk baca majalah ini.
Begitu mengambil sebuah majalah “National Geographic”, saya terhanyut di dalamnya. Pohon-pohon yang menjulang tinggi sampai 106 meter di California, ikan-ikan besar pemangsa mackerel, daya tahan manusia yang luar biasa, kapal-kapal yang karam, satwa-satwa liar yang menurut saya sangat menggemaskan, dan lain-lain. Anak alam, saya suka sekali dengan alam. Itulah mengapa, akhir-akhir ini saya jadi kembali sering berjalan kaki sambil menikmati alam UI yang masih berhutan-hutan. Sendiri saja. Rasanya tenang. Mengagumi keindahan dan keagungan sang Pencipta atas segala ciptaannya, merasakan lembutnya angin yang menampar-nampar kulit muka ketika saya berjalan, nostalgia perjalanan bersama sahabat, menghilangkan kepenatan pikiran, menyegarkan pikiran dan badan, dan sebagainya…. Rasanya damai. Meski hanya sendiri. Damainya alam yang tenang nan disibukkan atas dzikir-dzikir setiap makhluk dengan bahasanya masing-masing. Saya pun menyelesaikan majalah tadi dengan tenang.

Setelah selesai, saya menengok ke luar melalui jendela toko. Nampak langit mulai gelap dan hujan telah berhenti.Sebentar lagi pasti maghrib dah. Saya pun keluar dari Gramedia Depok dan menuju ke sebuah toko untuk membeli beberapa barang titipan. Usai membeli barang-barang tersebut, terdengarlah adzan maghrib. Alhamdulillah. Kebetulan di bawah toko tempat saya membeli barang-barang tadi, ada warung sate Padang yang terkenal enak di lingkungan UI. Mampirlah saya ke sana, makan setengah porsi (soalnya 1 porsinya mahal) sate padang ditambah satu kotak teh botol sosro. Alhamdulillah, enak dan kenyang. Lalu saya berjalan menuju kampus UI dan memutuskan pergi ke Masjid UI untuk sholat Maghrib di sana.

Perjalanan hari ini menyenangkan bagi saya. Usai sholat maghrib, tiba saatnya untuk pulang ke kos. Saya pun berjalan dari Masjid UI ke halte Fakultas Psikologi. Kembali menikmati alam selama perjalanan itu, lalu duduk tenang menanti bus kampus di halte Fakultas Psikologi. Tak lama kemudian, bus kampus tiba dan saya kembali ke Desa Kukusan, di mana kos saya berada.

*maaf kl panjang dan cuma cerita yang panjang. lama ga posting nih.. hehe..
gambar Gramedia Depok diambil dari link ini

bintang merah

8 Dec 2009 1

dunia ini selalu berubah bukan? ada pertemuan, ada pula perpisahan. bahkan di antara dua sahabat erat yang saling menyayangi karena Penciptanya. dua orang sahabat yang dipertemukan dalam manisnya iman. namun tetap saja perpisahan tetap saja akan terjadi, perpisahan secara fisis. akan tetapi, mereka berharap, perpisahan tersebut hanyalah sementara. bagaimanapun, mereka telah mengikat janji. mereka berjanji tak akan pernah mau mengalah dalam kebaikan. biarpun mereka akan berpisah dengan pahitnya dalam kehidupan di dunia ini, mereka berharap akan kembali bertemu di garis akhir. di mana segala sesuatu telah dijanjikan dan pasti ditepati, di garis akhir itu. mereka berharap agar dapatlah bertemu kembali di sana dalam keadaan yang baik. dalam keadaan sebagai orang-orang yang beruntung.

di suatu malam, seseorang di antara mereka duduk sendiri di alam terbuka memandangi langit luas. langit yang mendung namun tak menghalangi para bintang untuk beraksi memperlihatkan sinarnya. dalam heningnya malam, bergumamlah ia: “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Sungguh Maha Suci Engkau, jauhkanlah kami dari siksa neraka.”

pandangannya tak lepas dari langit, menunggu pesanan makanannya tiba. ternyata langit masih indah meski mendung. tiba-tiba video rekaman masa lalu serasa diputar di layar kepalanya dan ia teringat akan sahabatnya. kenangan-kenangan yang pernah mereka habiskan bersama. kata demi kata pun tertuliskan tanpa henti, hingga sampailah yang ia tuju..

***

sendiri kududuk di bawah naungan langit malam nan luas ditaburi gemerlap bintang. aku tau pasti indah nyatanya pemandangan itu nampak jikalau tak kabur pandangan mata ini namun kubertahan. kucoba tatap mereka sebagaimana dulu sering kulakukan. semakin jelas mata mengindera dan kulihat satu berwarna merah. kenangan melanda. teringatlah aku, ia adalah bintangmu…

***

jangan, jangan protes. sudah tentu bintang-bintang itu milik Allah subhanahu wa ta’ala. ia adalah bintangmu.. di sini maksudnya adalah bintang yang disukai sang sahabat. sahabat, yang sangat ia sayangi.

(gambar diambil dari sini.. pernah jadi background di blog multiplyku lho… : ) )

Senang Jika …

3 Dec 2009 Pengalaman

Hehe, ditodong kak Tuteh untuk updet. Hmm, tulisan banyak sih, tapi bingung mana yang mau dipublish. Yasudah, akhirnya terpilihlah tulisan di bawah ini ditulis tanggal 21 November 2009. Kalau ga salah, waktu itu habis presentasi di depan dosen tentang VLSI. Sekelompok ma kawan-kawanku yang lucu dan baik dan unik dan bisa membuat keadaan serius jadi santai, bikin ga stress :) . Kondisi yang menyenangkan bukan, daripada membuat kondisi yang santai jadi serius nan tertekan bikin stress yang membuat jadi ga nafsu makan meski pengen makan. Haiah2, malah ngelantur ga nyambung ma tulisan yang akan dipublish. Yawdah, dinikmati saja tulisannya ya. Saatnya serius :D

***

Apa sih yang membuat kawan-kawan merasa senang di dunia ini? Di antara banyak kebahagiaan dunia, dalam hidup bermasyarakat, apa yang membuatmu merasa senang? Kalau saya, saya merasa sangat senang tatkala saya menyadari bahwa keberadaan saya bermanfaat bagi lingkungan saya. Senangnya jika kita tidak dianggap sebagai parasit yang merugikan, bahkan kita dapat bemanfaat bagi lingkungan.

Sebuah contoh simple dari sebuah kehidupan sebagai pelajar, tentu kita tak lepas dari sebuah kerja kelompok. Ada kalanya pengajar memberikan kita tugas untuk mengerjakan sesuatu secara berkelompok. Alangkah bahagianya ketika kita dapat berkontribusi dalam kelompok tersebut. Jikalau kelompok tersebut berhasil, bahagia terasa karena kita juga telah turut andil dalam keberhasilan tersebut. Terasa sangat berbeda tatkala saya sama sekali tidak turut berkontribusi, atau dalam kata lain: “numpang nama”. Meskipun hasil yang diperoleh sama-sama baik, saya pun juga memperoleh nilai yang baik, namun apa yang ada di dalam jiwa itu terasa tidak sreg. Seperti makan gaji buta, hasil jerih payah orang lain.

Berbeda rasanya jika saya turut berkontribusi dalam kontribusi yang sekecil apapun itu. Rasanya apa yang diperoleh menjadi nikmat. Seringkali kenikmatan tersebut mendapat bonus dengan kepercayaan. Senangnya tatkala suatu proyek kelompok telah selesai dengan baik, dengan kita turut berkontribusi di dalamnya, lalu rekan-rekan sekelompok berkata “Terima kasih atas kerja samanya ya, senang bekerja bersamamu.” Atau dengan “Senang bekerja denganmu, semoga kita dapat bekerja sama lagi di lain waktu ya.” Atau dengan “Jangan bosan-bosan bekerja sama denganku ya..” Atau ucapan-ucapan lain yang semisal. Bandingkan jika kita tidak berkontribusi lantas seperti parasit yang menggerogoti dan membuat orang jadi enggan untuk bekerja sama lagi dengan kita. Tentu sangatlah sedih rasa hati ini menanggungnya.

Pun demikan dalam bermua’amalah dengan manusia. Wahai, kawan sekalian.. alangkah sedihnya jika diri ini membuat kalian merasa tak nyaman dengan kehadiran diri ini di tengah-tengah kalian. Alangkah tak beruntungnya diri ini jika manusia merasa tak aman dengan kehadiran diri ini. Janganlah, jangan.. sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Maafkanlah saya jikalau ada keluputan-keluputan yang saya tak sengaja melakukannya, atau saya melakukannya karena kejahilan (kebodohan) saya.

Dan sungguh Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah uswatun hasanah, suri tauladan yang terbaik.

Teruntuk Saudara dan Saudariku :)

26 Nov 2009 Ada Aja yang Ditulis

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah

Subhanallohu walhamdulillahi wa la ilaha illallohu allohu akbar

La haula wa la quwwata illa billah

Jazakumullohu khoiron katsiron

Segala puji dan syukur aku panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala

Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya milik Allah

Terima kasih, terima kasih, terima kasih

Kepada saudara, saudari, sekalian

Yang  kiranya telah mendoakan yang terbaik untuk kami

Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang banyak

Dan aku berharap semoga hati-hati yang mulai direkatkan kembali ini

Hati-hati yang telah disatukan kembali ini

Tak akan pernah lagi retak, tak akan pernah lagi bercerai

Tak akan pernah lagi dipisahkan oleh amarah dan nafsu

Selama iman masih melekat dalam jiwa

Selama iman masih melingkupi kami

Selama masih berjalanlah kami di atas manhajul haq

Dan harapan yang sama juga aku tujukan

Kepada saudara, saudari, sekalian

Semoga kita semua dikumpulkan dalam kasih sayang

Kasih sayang yang tulus, kasih sayang yang abadi

Yang tak akan luntur dimakan waktu

Ialah kasih sayangnya orang-orang yang saling mencintai  dan membenci

Hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala

Semoga kita semua dikumpulkan dalam tempat-tempat yang terpuji

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung

Semoga kita menjadi al-ghurobaa’

Insya Allah, insya Allah, insya Allah..

*laporan KP dah selesai, saatnya menghajar seminar+skripsi+tugas2 akhir semester :D. Semangat yaa!!!

Oatmeal

23 Nov 2009 Masak-Masak

Salah satu hal yang kurang baik dari diri saya adalah nafsu makan menjadi sangat berkurang bila sedang merasa tertekan. Yang perlu digarisbawahi, tertekan bukan berarti stress ya. Kalau stress positif sih, nafsu makan tetap saja banyak atau malah tambah banyak. Nah, kalau tertekan, saya bisa ga nafsu makan. Terutama makan nasi.

Walaupun saya ga merasa nafsu makan, tapi saya sebenarnya merasa lapar. Pada awalnya, roti dan kentang masih bisa menggantikan kebutuhan energy saya. Namun lambat laun, kebutuhan saya akan nutrisi yang seimbang memanggil saya. Tapi bagaimana ya, saya ga mau makan nasi (gaya betul yah..). akhirnya saya membeli oatmeal yang rasa original. Yang rasanya datar-datar aja itu… tapi saya memang lebih suka yang itu daripada yang diberi rasa macam-macam (rasa ayam, ikan, dll) walaupun yang diberi rasa itu juga enak. Ditambah lagi, saya coba untuk beli yang kemasan warna biru bukan merah. Artinya, untuk menyajikan oatmeal ini, harus dimasak terlebih dahulu. Bukan hanya dituangi air panas. Harapan saya, saya bisa berkreasi menggunakan oatmeal ini.

Oia, saat saya membeli sebungkus besar oatmeal biru ini, mata saya tertarik pada produk-produk oatmeal yang baru. Ternyata, ada campuran-campuran baru selain yang telah saya sebutkan tadi (ayam, ikan, dll). Campuran kali ini adalah energen+pisang dan energen+berry. Yang membuat saya tertarik adalah keterangan “with real bananas” dan “with real berries”. Wah, saya tertarik juga untuk membelinya. Saat saya coba seduh di rumah, ternyata rasanya enak lho. Menurut saya, lebih enak daripada yang rasa ayam, kaldu, ikan, dll. Di dalam oatmeal buah itu, benar-benar ada pisang dan strawberry-nya. Untuk yang energen+berry, ternyata bukan hanya ada strawberry yang ada di dalamnya. Ada juga sesuatu yang berbentuk bulat hitam sebesar kerikil dan rasanya manis agak asam. Apa coba? Yak, ada kismisnya juga. Hmmm, enak deh. Tapi saya lebih suka yang pisang.

OK, sedikit pengalaman waktu mengolah oatmeal di atas api. Saat oatmeal telah matang, segera angkat dari perapian. Mengapa? Terlepas dari kandungan nilai gizi atau lain-lainnya bila kita menambahkan susu, ada kejadian berbahaya kalau tidak segera diangkat. Seperti halnya air yang mendidih, oatmeal+susu yang mendidih akan membentuk gelembung-gelembung udara. Nah, rupanya gelembung yang terbentuk ini sangat bertenaga lho! Bisa melompat sampai keluar panci. Gelembungnya tidak hanya terdiri atas udara dan air, tetapi udara+susu+oatmeal. Jadi seperti ada bola-bola oatmeal keluar dari panci. Dan bola-bola oatmeal ini dapat mengenai tangan Anda.  Terasa sangat panas.

Selain dapat melukai tubuh, bola-bola oatmeal tadi akan mendarat di luar panci. Jadi, hal lain yang akan terjadi adalah ruangan Anda menjadi kotor. Untuk lebih amannya, sebaiknya kita gunakan tutup panci saat memasak oatmeal. Bahkan setelah oatmeal masak, saya tidak membuka tutup sampai beberapa saat. Alasannya 1. Menghindari bahaya yang dapat terjadi (gelembung tadi atau masuknya benda-benda asing ke dalam makanan yang akan kita makan); 2. Menunggu agar tidak terlalu panas; 3. Oatmeal bisa lebih tanak seperti bubur bayi.

OK, selamat ber-oatmeal ria!

Depok, 30 Juni 2009

Alhamdulillah, Update Lagi…

13 Nov 2009 1

Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Alhamdulillah, blog kelimuanku sekarang sudah di-update lagi. Silakan dikunjungi ya… Sekedar berbagi ilmu atas apa yang dipelajari di bangku sekolah agar ilmunya tak sia-sia. Insya Allah update setiap 4 hari sekali. Moga-moga bacanya juga ga pusing. Hihihi…

Wassalamu’ alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Remuk Redam

11 Nov 2009 Ada Aja yang Ditulis

Wahai shahabat, kita ini sama-sama orang yang terasing
Mengapalah kita mesti lebih mengasingkan diri lagi?
Tidakkah cukup keterasingan ini menyatukan hati-hati kita?
Dan aku sangat menyayangimu dalam keterasingan ini

Marilah kita lebur ego-ego kita, wahai shahabat
Bukalah pintu maaf di hati-hati kita
Saling memaafkan serta memberikan kesempatan
Untuk saling memperbaiki diri

Sungguh diri ini bukanlah manusia yang sempurna
Yang tak luput dari khilaf dan kesalahanan
Yang seringkali tak kuat pula menahan gundahnya beban hati
Yang sering tak kuat menahan mata agar tak menangis

Kuyakin engkaupun bukan manusia yang sempurna
Lantas mengapakah kesombongan muncul di hati-hati kita, wahai shahabat?
Bagian diri yang manakah yang patut untuk kita sombongkan?

Tersenyumlah, wahai shahabat
Sambutlah uluran tangan yang terbuka
Saling menebar salam di antara kita
Saling mengingatkan dan mendoakan
Semoga cinta ini bersemi karena cinta kepada Allah

by me
Depok, 11 November 2009

(bagian akhir dari sebuah torehan utuh)

Menjadi yang Terasing

6 Nov 2009 Merenung, Pengalaman, Perjalanan

(Maaf ga diupload di FB, karena tadi tiba2 gagal masuk FB lagi walau dah pake ultrasurf. Jadi, di sini saja ya. Maaf)

Sebenarnya aku sempat merasa ragu-ragu untuk publish notes ini. Aku takut tulisan ini malah jadi boomerang bagiku. Tapi yah,, karena mungkin penting, karena kawan-kawan ingin mengetahuinya, yah.. Maafkan aku sebelumnya ya..

*             *             *

Baru kini aku merasakan keterasingan itu, kini saat aku memutuskan untuk mencoba bersabar meninggalkan hal-hal yang aku cintai. Kemarin dulu, orang-orang masih membiarkanku dengan penampilanku asalkan aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang masih tersenyum manis padaku karena aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang menyanjungku karena aku bersama-sama mereka dan berjuang bersama mereka. Kemarin dulu, aku menikmatinya dan bersama-sama mereka berjuang serta melakukan hal-hal yang kami cintai.

Sekarang, sungguh aku masih mencintai hal itu wahai kawan-kawan seperjuanganku. Aku juga masih menyukai kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Bagaimanapun, kalian adalah salah satu kenangan terindah yang pernah tertoreh dalam hidupku. Eratnya rasa kebersamaan dan seperjuangan. Pengertian dan komunikasi walaupun tidak terucap melalui kata-kata. Just understanding and do it. Do the best for the team. Aku pun masih ingin bermain-main dengan kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Namun tak lagi seperti dulu, tak lagi di depan khalayak. Aku malu wahai kawan. Tak patutlah diri ini beraksi di tengah khalayak seperti itu. Tak patut, wahai kawan. Mungkin aku masih mau untuk bermain jikalau kita bermain di tempat tertutup yang tak seorangpun lelaki melihat kita, wahai kawan.

Salahku memang karena tak dapat mengkomunikasikan hal tersebut jauh-jauh hari. Mungkin memang salahku pula aku belum berhasil melatih seseorang yang diharapkan dapat menggantikanku, dengan kemampuan yang setara pula denganku. Di masa-masa lalu pun tak sanggup aku keluar meski hanya untuk menonton saja, bukan bermain langsung. Mempersilahkan calon penggantiku untuk tampil. “Jangan, Fa! Memang dia akan jadi penggantimu, tapi jangan sekarang! Mumpung masih ada kamu, kamu yang harus main Fa! Ini pertandingan penting,” demikian selalu kalian katakan. Sekarang pun, kalian masih mengharapkanku. “Terakhir, Fa! Tahun terakhir! Kamu satu-satunya andalan kami. Pemain lain memang banyak, tapi tak ada untuk posisimu! Kalaupun ada, dia tidak jago!” begitu kalian membujukku. Tapi aku tak ingin lagi menunda untuk meninggalkannya wahai kawan. Karena aku tak tau kapan hidupku akan dihentikan. Sudah cukup beberapa tahun aku menundanya, pantang kutunda lagi. Bersyukur Allah masih memberikanku kesempatan untuk berbenah diri.

Berkali-kali kalian mencoba mengajakku melalui seseorang yang aku segani. Aku takut hatiku luluh ketika aku mencoba meladeni. Oleh Karenanya, maafkan aku yang memutuskan untuk tidak bicara wahai kawan. Aku tahu kalian tentu akan sedih, kesal, dan menyesalkan ketiadaanku di sana (maaf kalau ternyata aku Cuma GR). Dan akupun sedih jika melihat kalian dalam keadaan tidak bersemangat, sedih, dan kesal. Lebih-lebih jika aku yang membuat kalian seperti itu. Namun sekali lagi maaf ya, kawan.. aku tidak akan tampil lagi selama persyaratan tadi belum terpenuhi. Dan aku masih menyayangi kalian, kawan-kawanku.

Pun di saat-saat seperti ini, aku disibukkan oleh suatu pertanggungjawaban yang begitu menyita konsentrasi, waktu, tenaga, pikiran, kesabaran.. Lalu hal tersebut terasa begitu menekan karena kerumitan prosedural negara kita dan banyaknya gangguan yang mengajak kita pada ketidakjujuran. Demikian tidak jujurnya. Tidak wahai penasihat-penasihat kami. Walaupun apa yang akan kita tuntut adalah hak kita, tapi tidaklah kita dihalalkan untuk mengambilnya dengan jalan yang tidak haq. Biarlah, biar.. jika pada akhirnya tidak kami peroleh hak tersebut asalkan kami tidak terjerumus dalam lubang ketidakjujuran, kecurangan, dan kelicikan. Namun kami berdoa agar dapatlah hak tersebut kami peroleh dengan jalan-jalan yang diridhoi oleh sang Pencipta langit, bumi, dan apa-apa yang ada di dalamnya.

Di saat-saat seperti ini, aku merasa memerlukan suatu dukungan. Tapi aku tak bisa mengharapkan hal tersebut dari manusia. Memang sedih rasanya ketika seseorang yang kauharap akan memahami kondisimu dan mendukungmu malah meninggalkanmu. Aku juga merasakannya. Oleh karena itu, dalam keterasingan ini, hanya Allah sajalah tempatku bernaung. Dia yang tak akan pernah membuatku kecewa.

Ya hayyu, ya qoyyum.. birohmatika astaghits, ashlihli sya’ni kullah. Wa la takilni ila nafsi, thorfata ‘ain…

Calendar

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728