(Maaf ga diupload di FB, karena tadi tiba2 gagal masuk FB lagi walau dah pake ultrasurf. Jadi, di sini saja ya. Maaf)
Sebenarnya aku sempat merasa ragu-ragu untuk publish notes ini. Aku takut tulisan ini malah jadi boomerang bagiku. Tapi yah,, karena mungkin penting, karena kawan-kawan ingin mengetahuinya, yah.. Maafkan aku sebelumnya ya..
* * *
Baru kini aku merasakan keterasingan itu, kini saat aku memutuskan untuk mencoba bersabar meninggalkan hal-hal yang aku cintai. Kemarin dulu, orang-orang masih membiarkanku dengan penampilanku asalkan aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang masih tersenyum manis padaku karena aku masih bersama-sama mereka. Kemarin dulu, orang-orang menyanjungku karena aku bersama-sama mereka dan berjuang bersama mereka. Kemarin dulu, aku menikmatinya dan bersama-sama mereka berjuang serta melakukan hal-hal yang kami cintai.
Sekarang, sungguh aku masih mencintai hal itu wahai kawan-kawan seperjuanganku. Aku juga masih menyukai kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Bagaimanapun, kalian adalah salah satu kenangan terindah yang pernah tertoreh dalam hidupku. Eratnya rasa kebersamaan dan seperjuangan. Pengertian dan komunikasi walaupun tidak terucap melalui kata-kata. Just understanding and do it. Do the best for the team. Aku pun masih ingin bermain-main dengan kalian wahai kawan-kawan seperjuanganku. Namun tak lagi seperti dulu, tak lagi di depan khalayak. Aku malu wahai kawan. Tak patutlah diri ini beraksi di tengah khalayak seperti itu. Tak patut, wahai kawan. Mungkin aku masih mau untuk bermain jikalau kita bermain di tempat tertutup yang tak seorangpun lelaki melihat kita, wahai kawan.
Salahku memang karena tak dapat mengkomunikasikan hal tersebut jauh-jauh hari. Mungkin memang salahku pula aku belum berhasil melatih seseorang yang diharapkan dapat menggantikanku, dengan kemampuan yang setara pula denganku. Di masa-masa lalu pun tak sanggup aku keluar meski hanya untuk menonton saja, bukan bermain langsung. Mempersilahkan calon penggantiku untuk tampil. “Jangan, Fa! Memang dia akan jadi penggantimu, tapi jangan sekarang! Mumpung masih ada kamu, kamu yang harus main Fa! Ini pertandingan penting,” demikian selalu kalian katakan. Sekarang pun, kalian masih mengharapkanku. “Terakhir, Fa! Tahun terakhir! Kamu satu-satunya andalan kami. Pemain lain memang banyak, tapi tak ada untuk posisimu! Kalaupun ada, dia tidak jago!” begitu kalian membujukku. Tapi aku tak ingin lagi menunda untuk meninggalkannya wahai kawan. Karena aku tak tau kapan hidupku akan dihentikan. Sudah cukup beberapa tahun aku menundanya, pantang kutunda lagi. Bersyukur Allah masih memberikanku kesempatan untuk berbenah diri.
Berkali-kali kalian mencoba mengajakku melalui seseorang yang aku segani. Aku takut hatiku luluh ketika aku mencoba meladeni. Oleh Karenanya, maafkan aku yang memutuskan untuk tidak bicara wahai kawan. Aku tahu kalian tentu akan sedih, kesal, dan menyesalkan ketiadaanku di sana (maaf kalau ternyata aku Cuma GR). Dan akupun sedih jika melihat kalian dalam keadaan tidak bersemangat, sedih, dan kesal. Lebih-lebih jika aku yang membuat kalian seperti itu. Namun sekali lagi maaf ya, kawan.. aku tidak akan tampil lagi selama persyaratan tadi belum terpenuhi. Dan aku masih menyayangi kalian, kawan-kawanku.
Pun di saat-saat seperti ini, aku disibukkan oleh suatu pertanggungjawaban yang begitu menyita konsentrasi, waktu, tenaga, pikiran, kesabaran.. Lalu hal tersebut terasa begitu menekan karena kerumitan prosedural negara kita dan banyaknya gangguan yang mengajak kita pada ketidakjujuran. Demikian tidak jujurnya. Tidak wahai penasihat-penasihat kami. Walaupun apa yang akan kita tuntut adalah hak kita, tapi tidaklah kita dihalalkan untuk mengambilnya dengan jalan yang tidak haq. Biarlah, biar.. jika pada akhirnya tidak kami peroleh hak tersebut asalkan kami tidak terjerumus dalam lubang ketidakjujuran, kecurangan, dan kelicikan. Namun kami berdoa agar dapatlah hak tersebut kami peroleh dengan jalan-jalan yang diridhoi oleh sang Pencipta langit, bumi, dan apa-apa yang ada di dalamnya.
Di saat-saat seperti ini, aku merasa memerlukan suatu dukungan. Tapi aku tak bisa mengharapkan hal tersebut dari manusia. Memang sedih rasanya ketika seseorang yang kauharap akan memahami kondisimu dan mendukungmu malah meninggalkanmu. Aku juga merasakannya. Oleh karena itu, dalam keterasingan ini, hanya Allah sajalah tempatku bernaung. Dia yang tak akan pernah membuatku kecewa.
Ya hayyu, ya qoyyum.. birohmatika astaghits, ashlihli sya’ni kullah. Wa la takilni ila nafsi, thorfata ‘ain…