Tuesday | April 29, 2008

TMII (bagian 2): Museum Keprajuritan Indonesia



Puas menikmati berbagai kerajinan, aku keluar dari Pusat Industri Seni dan Kriya. Shalat Jumat masih belum usai, aku pun memutuskan untuk mengelilingi bagian depan Taman Mini yang tadinya hanya kami lewati. Aku memasuki sasana-sasana yang tadi terlihat oleh kami. Di dalam sasana-sasana tersebut, dijual beberapa makanan khas daerah tertentu. Ada pula potongan-potongan kayu yang dijual. Unik, potongan-potongan kayu! Saat kulihat dengan lebih teliti, ternya potongan-potongan kayu tersebut adalah kayu-kayu dari pohon yang berbeda. Ada pohon jati, mahoni, cendana, dan lain-lain. Kayu-kayu tadi di-pack dalam sebuah wadah yang cantik. Aku membayangkan, berapa banyakkah souvenir-souvenir tadi diproduksi? Bila ternyata souvenir tersebut diproduksi secara massal, tentulah nyata perbuatan manusia yang membuat kerusakan di muka bumi.

Berkeliling dengan berjala kaki ternyata cukup melelahkan. Aku memutuskan untuk menuju ke "Mini Borobudur" yang terletak di depan masjid mini "Pangeran Diponegoro", tempat di mana Ansyah dan Daus menunaikan shalat jumat. Melihat miniatur dan membaca sejarah candi itu membuat anganku akan masa lalu melambung. Hal itu membuatku semakin bangga menjadi orang Indonesia. Karya itu menunjukkan betapa tingginya peradaban manusia Indonesia di masa lalu. Betapa cerdas, kreatif, dan tingginya jiwa sen mereka (sayangnya, mengapa mereka menyembah selain kepada Allah???). Bila nenek moyang bangsa Indonesia saja bisa sehebat itu, mestinya kita bisa menjadi bangsa yang hebat pula. Andaikan saja kita mau sadar untuk terus menggali dan mengoptimalkan potensi diri kita.

Hmmm, shalat Jumat telah usai. Kini tiba giliranku untuk menunaikan shalat Dzuhur. Ansyah dan Daus akan menungguku di Pusat Industri Seni dan Kriya.


* * *

Aku kembali bergabung dengan Ansyah dan Daus. Kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Keprajuritan. Dengan tiket masuk seharga Rp1500,00, kami dapat menikmati berbagai diorama dan miniatur senjata-senjta yang pernah digunakan bangsa Indonesia untuk mengusir penjjah. Museum ini sangatlah gagah karena wujudnya merupakan sebuah miniatur benteng pertahanan berbentuk segi lima. Nuansa militer dapat sangat kita rasakan dalam museum tersebut.

Museum Keprajuritan teletak di dekat Museum Transportasi Indonesia. Oleh karenanya, kami sempat pula memasuki dua buah kapal. Suasana di dalam kapal mengingatkan kami akan film-film bajak laut. Untuk sesaat, kami berkhayal menjadi segerombolan bajak laut yang gagah.




Satu hal yang unik adalah kedua kapal tadi dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung. Kami iseng meloncat-loncat sejenak sehinga jembatan pun bergoyang bergelombang. Kami harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh ke dalam air. Kemudian saat kami tiba di tempat yang baku, kami masih merasakan senssasi bergoyang-goyang sampai-sampai kami berbikir bahwa tempat kami berpijak memang bergoyang - tapi tentu saja tidak :D.

Puas bermain menjadi bajak laut, kami menuruni kapal menuju halaman Museum Keprajuritan. Di depan musemum yang gagah itu, berkibar Sang Merah Putih dengan penuh wibawa. Kibarannya anggun mencerminkan kemenangan yang kita raih sehingga ia dapat berkibar dengan tenang. Didukung suasana sekitar museum yang sepi, dihembus angin yang sepoi-sepoi, kami semua terdiam. Termenung kami melihat jayanya sang Merah Putih berkibar. Refleks, aku mengangkat tangan melakukan posisi hormat. Tindakan yang juga diikuti oleh Ansyah dan Daus.






"Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela

Sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah slama-lamanya...."


---to be continued

Posted by re_here at 16:09:51 | Permanent Link | Comments (6) |

Thursday | April 10, 2008

TMII (Bagian 1): "Kereta Api Mini" dan "Pusat Industri Seni dan Kriya"

  Pada hari Jumat (5/4) yang lalu, aku berjalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama dua orang temanku, Ansyah dan daus. Senangnya.... Perjalanan (atau lebih tepatnya tamasya) ini tidak menjadi perjalanan yang sia-sia belaka. Aku merasa mendapatkan banyak wawasan. Apalagi kedua temanku adalah teman-teman yang mengasyikkan untuk diajak diskusi.

Kami tiba di TMII sekitar pukul 10.30 WIB. Kami masuk melalui gerbang utama dengan dibebankan bea Rp9.000,00. Bingung hendak menentukan bagian mana dulu yang ingin dikunjungi, kami pun berjalan tak tentu arah. Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti di dekat kami.

"Mas-mas dan mbak! Naik yuk, kita keliling-keliling dulu," demikian kata kedua penumpang mobil tersebut. Tampaknya mereka berdua adalah petugas khusus TMII yang memang bertugas memandu para pengunjung.

Ansyah, Daus, dan aku saling pandang. Setelah sedikit mempertimbangkan, kami memutuskan untuk naik. Ternyata mobil tersebut menuju Stasiun Kereta Api Mini. Di atas mobil, kami ditarik uang sebesar Rp5.000,00 untuk memperoleh tiket kereta.

Kami tiba di stasiun tak lama kemudian. Kami segera naik ke atas kereta yang berjalan tak lama kemudian. Kereta itu perlahan-lahan membawa kami berkeliling TMII. Saat itulah kami melihat, menyaksikan, karya-karya yang mengagumkan.

Kami menyaksikan miniatur berbaghai macam kebudayaan yang ada di Indesia, teknologi-teknologi yang dikembangkan di Indonesia, sejarah Indonesia, serta kekayaan alam yang ada di Indonesia (untuk yang satu ini, bukan miniatur yah! Lebih tepat dikatakan sebagai sampel). Ada Museum Keprajuritan, Taman Burung, Taman Bunga, Rumah-Rumah Adat Daerah, Insektarium, dan masih banyak yang lainnya. Seluruh miniatur tersebut sangatlah menakjubkan. Meskipun namanya miniatur, jangan dibayangkan seperti maket rumah-rumahan kecil di dalam kotak kaca. Miniatur ini cukup besar sehingga lekuk setiap miniatur sangat merepresentasikan benda aslinya. Bahkan untuk miniatur-miniatur bangunan dan alat transportasi, Anda dapat memasukinya. Satu hal yang terlintas dalam pikiran kami saat berkeliling adalah, "Wow! Ini tempat rekreasi yang edukatif sekali!"

Usai bekeliiling naik kereta api, kami kembali diturunkan di satasiun. Di stasiun, mbak-mbak yang tadi mengantar kami segera menyambut. Salah satu dari mereka kembali mengantar kami berkeliling, naik mobil, ke tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh kereta api. Kali ini kami tidak ditarik bayaran.

Apa yang kami lihat dari dalam mobil tidak kalah menakjubkan dengan apa yang telah kami lihat sebelumnya. Bahkan aku menemukan sebuah tempat yang tampaknya akan kukunjungi suatu hari nanti: Pasar Buku Langka (dasar kutu buku Tongue out).

Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Telah dekat waktunya untuk menunaikan shalat Jumat. Kami pun minta diturunkan di sebuah miniatur masjid yang uniknya benar-benar difungsikan selayaknya masjid. Sementara menunggu Ansyah dan Daus menunaikan shalat Jumat, aku berjalan-jalan ke Pusat Industri Seni dan Kriya Indonesia. Menakjubkan! Berbagai karya budaya dari berbagai daerah di Indonesia dapat ditemui di sana. Dari bali, Jawa Tengah, Sulawesi, Kalimantan, Andalas, bahkan Papua, dapat diperoleh di tempat tersebut. Jadi, bila Anda ingin menipu (Tongue out) teman Anda dengan mengatakan pernah berkunjung ke suatu daerah di Indonesia, Anda dapat datang ke tempat ini. Dengan membelikan kerajinan khas daerah tersebut, teman Anda pasti akan percaya Cool.

---to be continued

Posted by re_here at 22:47:56 | Permanent Link | Comments (0) |

Sunday | March 23, 2008

Bila Harus Memilih

Dua tahun hidup di perantauan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan sehari-hari. Di kota besar, banyak tawaran yang menarik untuk diambil. Saking banyaknya, pengennya diambil semuanya. Tapi tidak bisa demikian, pilihan harus ditetapkan. Aku butuh banyak share dengan yang lebih senior tentang menentukan suatu pilihan. Dari banyaknya saran, ada beberapa yang sangat mengena di hatiku.
Pertama, dari seorang kakak yang telah lama kukagumi (6 tahun sebelum aku kenal betulan ma dia, bo! Tongue out). Beliau menyarankan agar aku membuat analisis SWOT (strenghts, weaknessess, oportunities, threats). Dari situ, kita bisa melihat, kita tuh cocok buat pilihan yang mana.



Bila masih bingung, masih dari kakak yang sama, kita harus memilih di mana kita dapat memberikan manfaat lebih banyak. Jadi dalam menentukan suatu pilihan, tidak melulu kita memikirkan manfaat yang akan kita peroleh. Kita juga harus memikirkan, apakah manfaat yang dapat kita berikan dengan menetapkan pilihan tersebut? Memang benar sih, bukankah manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain?

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah di tanya oleh seseorang : “Ya Rasulullah manusia yang bagaimana yang paling di cintai oleh Allah ? “Lalu beliau menjawab : “Manusia yang paling di cintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling di cintai Allah Azza Wa Jalla adalah kebahagian yang kamu masukkan pada seorang muslim, kamu hilangkan darinya kesusahannya, atau kamu bayarkan utangnya, atau kamu tangkal kelaparan darinya. Dan aku berjalan bersama seseorang dalam suatu kebutuhan itu lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid ini yaitu madjid madinah, selama satu bulan. ..... "
( Shahih At-Targhib wa At-Tarhib No. 2623)

Terakhir, dari seorang kakak kelas (dua angkatan di atasku). Dalam menentukan suatu pilihan, niatkan seluruhnya hanya karena Allah. Jadikanlah setiap langkahmu dalam kebaikan itu sebagai dakwah di jalan Allah.  Jangan pernah takut akan rintangan yang akan kauhadapi. Yakinlah, karena Allah telah menjanjikan dalam firmanNYA:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
(QS. Muhammad: 7)



Posted by re_here at 16:07:17 | Permanent Link | Comments (3) |

Monday | March 10, 2008

Saat Kulihat Bintang

Aku masih tak bisa menghilangkan kekagumanku tiap kali memandang ke langit malam. Gugusan bintang selalu membuat hatiku tergetar. Betapa indah ciptaan-Nya yang berkelip di malam hari. Betapa mereka yang bertebaran di langit selalu menjadi misteri bagi manusia di bumi. Dari langit, dapat kaulihat betapa terbatasnya pikiran manusia. Manusia yang tak kan pernah tuntas mengupas rahasia langit. Tapi mengapa manusia sering menjadi sombong akan pengetahuannya?



Dari bintang-bintang nan cantik itu, dapat kautemukan berbagai informasi yang sangat mengagumkan. Menunjukkan betapa bergunanya bintang-bintang itu bagi kehidupan manusia. Tapi mengapa manusia sering bersikap egois? Tak jarang hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya, tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain? Pernahkah kita berpikir untuk menjadi orang yang bermanfaat? Apa langkah yang telah kita tempuh untuk mewujudkannya? Kemudian seberapa lurus dan tulus niat kita?



Lihatlah bintang-bintang itu memberikan petunjuk tentang arah, musim, waktu, dan sebagainya. Tidakkah kaulihat kebesaran-Nya dalam gugus bintang itu? Betapa Dia Maha Pandai mengatur posisi bintang-bintang itu sehingga membuat mereka berguna bagi kita? Tidakkah kaulihat betapa rumit penciptaan-Nya? Mungkinkah semua itu berasal dari ketidaksengajaan?

Siapakah yang menjaga mereka tetap pada formasinya? Siapakah yang menahan mereka agar tak berjatuhan dan menghancurkan dunia? Apa jadinya bila mereka semua bertabrakan dan meledak? Apa yang terjadi bila semuanya diredupkan sinarnya dan kau berada dalam kegelapan? Akankah kita bisa hidup tanpa penciptaan bintang? Siapakah yang berkuasa untuk menciptakan bintang?

Lalu masihkah kita menyangkal keberadaan-Nya? Bukankah masih banyak ayat-ayatNya yang bertebaran di muka bumi? Mengapa kita masih meragukan-Nya? Betapa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Posted by re_here at 17:27:14 | Permanent Link | Comments (7) |

Thursday | March 06, 2008

Apa Kata Orang Tuamu?


Hhhh... kenapa ya akhir-akhir ini aku rajin banget belajar? (hueee... narsis Tongue out) Ga tahu juga ya, rasanya kalo' ga belajar itu aneh banget. Bab demi bab "Intel Microprosessor" yang pada awalnya bikin aku mabok (karena full teori), akhirnya kulalap juga. Begitu juga "Electric Circuit Analysis" yang dulunya paling enak buat bantal, sekarang jadi rajin kubaca. "Engineering Electromagnetics"? Ga ketinggalan juga. Ada apa gerangan ini? Ya, mudah-mudahan ini adalah sesuatu yang baik.




Sekarang aku ga pengen nyeritain tentang buku-buku yang akhir-akhir ini rajin kubaca itu. Aku cuma pengen cerita tentang sebuah pengalaman masa kecilku yang sangat menyentuh si Aku Kecil. Kiranya pengalaman itu turut membentuk kepribadianku juga.

======


Pernah suatu ketika, di masa aku kecil, aku mengambil sepotong roti dan menggigitnya sedikit. Sebelum roti itu habis, aku melemparnya ke lantai. Tentu saja si Aku Kecil tidak berniat untuk memakannya lagi.

Pernah juga, aku mengambil sebuah kroket kentang. Dasar deh, anak kecil ga tahu makanan enak. Dilemparlah sang kroket ke kebun. Tapi sekarang, membuang makanan adalah hal yang sangat kuhindari. Makan pun harus habis sampai butir-butir terakhir. Malah, kalau lagi baik hati, aku juga ikut membantu kalau temanku ga mampu menghabiskan makanannya. Laughing

Apa yang membuatku berubah sedemikan rupa?

Saat aku kecil, ketika melihatku melakukan aksi buang itu, ibuku berkata "Aduuuh, jangan dibuang begitu. Kasihan. Coba kalau kamu bisa mengerti bahasa roti. Waktu kamu membuangnya, dia menangis lho! Katanya 'Huuu...huu.. kenapa aku dibuang? Aku kan ga salah apa-apa..'."

Si Aku Kecil jadi terharu. Menangis dan mengambil kembali makanan yang dibuangnya.

Bukan cuma masalah makanan. Ibu juga mengatakan hal yang serupa bila aku melempar-lempar buku ke lantai. Sampai sekarang, aku jadi sangat mencintai buku.

======


Ternyata, ucapan sederhana orang tua yang dapat merebut perasaan anak, dapat membentuk kepribadian yang sangat kuat terkait dengan konteks ucapannya. Ada juga nih, cerita temanku tentang temannya. Sebut saja si A.

Pada saat si A masih kecil, dia selalu enggan merapikan kembali mainannya. Saat itu ibunya berkata "Ayo, diberesin mainannya kalau sudah selesai!"

Apa kata si A?

"Ah, ga usah Bu! Buat apa diberesin, nanti juga bakal berantakan lagi."

Ibunya tak berkata apa-apa hingga tiba saatnya si A untuk makan.

"Bu, lapar nih. Mau makan..."

Sebelum sang Ibu menyiapkan makanan, sang Ayah berkata "Ga usah dikasih makan, Bu! Buat apa dikasih makan, nanti juga bakal lapar lagi."

Si A terhentak. Perasaannya yang masih bersih tentu saja dapat mengambil pesan moral dari kejadian itu. Dia pun segera membersihkan mainannya. Sejak saat itu, ia juga tak pernah meninggalkan mainannya dalam keadaan berantakan
Posted by re_here at 18:28:41 | Permanent Link | Comments (2) |

Tuesday | February 05, 2008

Waspada!!!

Hmm... tempat ibadah aja ga aman ya. Hari ini tas sobatku ilang beserta isinya di tempat ibadah. Waktu liburan, laptop temanku ilang di tempat ibadah juga. Yang kebangetan, waktu temenku tidur di tempat ibadah, kacamata yang lagi dipakainya ilang! (Kalo' yang terakhir ni mau kasihan tapi pengen ketawa. Kacamata gitu loh.....Cool)

Ga semua tempat ibadah sich. Lebih tepatnya tempat ibadah di lingkungan perkuliahanku yang tercinta. Sebenernya yang ditekanin bukan di tempat ibadahnya, di kantin juga rawan kok. Cuma yang  bisa diambil hikmahnya, waspada donk! "Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat jahat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan," gitu kata Bang Napi. Perkecillah kesempatan bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan. Dalam kasus tadi, mbok ya bila ingin meninggalkan barang, titipkanlah pada orang yang dapat dipercaya. Bila ternyata tak ada orang yang dapat dipercaya, bawalah barangmu ke manapun kamu pergi. Gituuu..... (Kalau mau ninggalin, biasanya itu kaus kaki. Terserah deh kalau ada yang berminat ma kaus kakiku. Tongue out).

Posted by re_here at 20:26:45 | Permanent Link | Comments (6) |

Sunday | February 18, 2007

Akhirnya.....!!!!

Hueee.... setelah berminggu-minggu *ato berbulan-bulan ya*, berhasil juga buka blog.com n sukses nge-klik new post! Berarti emang waktu itu servernya lagi bermasalah, jadinya ya ga bisa posting. Nich, di sini aku mau bayar utang. Kan pada pengen tahu tentang Salatiga... makanya aku nulis tentang Salatiga. Yuk, bacabacabaca...

*    *    * 

Salatiga? Apa yang menarik dari Salatiga? Entahlah.. bagiku, yang menarik dari kota ini adalah kesejukan dan keasrian alamnya. Meski sekarang pembanguan telah merebak di segala penjuru, pemandangan gunung di balik sekolah masih saja nampak. Bila aku bersepeda melepas rinduku pada kota ini, sejuk dan bersihnya udara serta gunung-gunung dan sawah selalu menyejukkan mata dan hati. Kebanyakan orang-orang sukses yang telah pensiun pun memilih kembali ke Salatiga untuk menikmati masa senjanya. Tak heran bila Salatiga dijuluki sebagai "kota pensiun".

Salatiga memang kota indah yang dikelilingi oleh berbagai macam gunung, dari yang aktif hingga yang telah mati. Dari Merapi, Merbabu, Gajah Mungkur, hingga Telomoyo. Bagi orang-orang yang suka mendaki gunung, Salatiga bisa jadi salah satu tempat strategis yang memudahkan kita untuk mendaki gunung manapun.

 

Selain udaranya yang sejuk, warga dan harga-harga barang di Salatiga sangatlah ramah. Di kota ini, kemungkinan warganya untuk saling kenal sangatlah besar. Hal ini terutama disebabkan oleh sekolah-sekolah favorit yang berada di tengah kota. Memungkinkan anak-anak dari daerah terpencilpun di Salatiga, asalkan berprestasi, berkumpul di sekolah-sekolah ini. Tak jarang, anak-anak luar kota memilih sekolah di Salatiga meskipun kualitas sekolah di kotanya juga bagus.

Harga-harga barang di Salatiga yang relatif murah sangat kusadari setelah selama kurang lebih empat bulan aku hidup di Depok dan Jakarta. Saat aku pindah dari Salatiga ke Depok, perbedaan harga tak terlalu terasa. Mungkin hal ini disebabkan karena kebutuhan yang harus dipenuhi, yang secara tak sadar memang harus dikeluarkan. Menurutku, hidup di Depok pun tak terlalu mahal. Masih wajarlah... tidak terlalu njegleg dengan hidup di daerah.

Tapi begitu aku kemarin pulang ke Salatiga... weeew... aku baru sadar kalau hidup di Salatiga memang murah meriah. Tarif angkot untuk umum, jauh dekat Rp2000,00. Itu pun masih bisa Rp1000,00 saja bila jaraknya masih relatif dekat. Sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa, jauh dekat Rp1000,00. Pelajar dan mahasiswa ini maksudnya bila si pelajar atau si mahasiswa akan berangkat/pulang sekolah/kampus. Atau bisa juga bila si pelajar masih memakai seragam. Selain itu, tarif yang berlaku adalah tarif umum.

Berikut sedikit daftar harga makanan di Salatiga:

French Fries di Indonet (enak banget lho!)...........................................       Rp3000,00

Indomie ga pake telur..........................................................................       Rp1000,00

Indomie pake telur...............................................................................       Rp1800,00

Es teh gelas besar ...............................................................................       Rp 800,00

Soto Bu Doe (ini mah favoritku!)..........................................................       Rp1750,00

Gudeg Mbak Tun porsi mahasiswa......................................................       Rp3000,00

Mie Ayam...........................................................................................       Rp2000,00

(apa 2500 ya? Aku lupa. Pokoknya murah lah!)

Yach.. murah kan? Makanya, mainlah ke Salatiga. Kalo' tarif kolam renang Kalitaman aku belum survei. Dulu pas jaman baheula sich Rp400,00. Sekarang berapa ya? Rp2000,00 kali ya? Ga tahu dech.  Belum survei ke sana...

Bioskop... ada kok di Salatiga. Dulu sich ada 3-4 bioskop: Salatiga Theatre, Atrium, Madya, dan Reksa (???!!??!@@?@!!). Sekarang dah tutup semua, tinggal Reksa doang! ‘N aku kalo mau nonton bioskop mending ke Semarang aja ketimbang nonton di Reksa. Soalnya... glek.. Reksa itu... film-filmnya... ***** thiiiitttt**** disensor ajah yah!

Yach, pokoknya Salatiga tuh paling asik kalo dibikin buat jalan-jalan, goes pake sepeda (bagi yang niat ky b2w-ers), n buat jajan-jajan.

So, ditunggu semuanya di Salatiga...

NB: sapa yang nunggu ya? Orang akunya di Depok. Hehehe....

Posted by re_here at 21:09:17 | Permanent Link | Comments (7) |

Monday | January 15, 2007

Pulang Kampung

Hwe...hwe..hwe... dah lama ga nulis di blog nich. Hampir 1 bulanan lebih kali ya. Ya, maklumlah. Desember kemarin sibuk buaaanget. Dari yang namanya MAKRO (Malam Keakraban Elektro) sampe Ujian Akhir Semester. Alhamdulillah dah kelar dengan hasil yang cukup bagus. Nach, sekarang aku dah pulang kampung!!!

Seneng dech pulang kampung. Ternyata banyak yang merindukan kepulanganku nich. Kebanyakan teman-teman satu angkatan dan adik-adik kelas. Kebanyakan pula cowo'. Hehehe... bukannya laris, tapi kebanyakan temen-temenku dulu cowo' sich *sampe sekarang juga sichTongue out* .

Sebenernya ni hari pertama aku keluar rumah, ke warnet. Jadi belum ada banyak cerita. Paling tadi pagi ada SMS dari temen satu ekskul waktu SMA. Katanya kangen, pengen ketemu. Jadinya kita ketemuan di warnet dech. Kata dia, dia dikasih tahu ma temen dekatku yang tadi malam kutelpon kalo' aku dah balik ke Salatiga. Katanya, temen dekatku tadi ngasih tahunya sambil heboh, teriak-teriak di lapangan kampus! Smile

Trus di warnet ketemu dech aku ma adik kelas, tapi  aku lupa namanyaLaughing. Dia yang nyapa duluan. Karena penasaran, aku tanyain ke temanku. Jadi inget lagi, dach. Dan......... di warnet aku juga ketemu ma temenku nge-game! Asik dah pokoknya. Sayangnya SMA baru libur. Tapi ga papa, masih banyak yang bisa dilakukan. Makan di Gudeng Mbak Tun, Soto Ceria, Mie Ayam SMA, Mie  Ayam Pak Ndhut, Batagor Stella, Siomay Kampus, dll. *Makanan mulu, nich Laughing*.

Kesan pertama pulang kampung... dingin. Hehehe, namanya aja gunung. Alhasil airnya juga sejuk, bersih, alami, bagus untuk kesehatan kulit. Dijamin nggak mandi berhari-hari pun nggak bakal sakit kulit. Tapi jorok ah, nggak mandi berhari-hari. Yasudahlah, aku mau liburan dulu yach... Ni ada sajak bikinan Rio anak Mesin:

Ada kayu, ada jablay 

See you, goodbye

Hehehe.....Wink

Posted by re_here at 10:21:10 | Permanent Link | Comments (12) |

Thursday | November 30, 2006

Buku-Buku......

Hehe... hari ini aku dapet kritik. Katanya tulisanku terlalu berat.. "Aku ga ngerti!" katanya. Yawdah, kali ini yang ringan aja dech. Critanya ni tentang buku.

Minat baca di keluargaku bisa dibilang cukup tinggi. Semuanya jadi ngiler, lupa diri dan waktu kalau udah megang buku bagus. Kenapa begitu? Mungkin saja semua itu terkait dengan pola pendidikan dan keadaan di keluargaku.

Dulu itu ya, waktu aku masih kecil dan belum sekolah, di rumahku ada yang namanya TV. Hehe.. tapi TV itu enggak banget dech! Kalo' ga salah, antara tahun '93 - '94 kan udah ada RCTI, ANTV, dan lain-lain. Soalnya waktu aku ke rumah temenku, di sana udah ada saluran-saluran itu. Nah, TV di rumahku itu channelnya cuma satu. Kalo' dah nyalain TV dan keluar gambar, ya udah, yang ditonton ya itu. Nah, gambarnya itu kalo' nggak TPI ya TVRI. Pindah ke channel lain? Dipastikan bahwa kami akan menemukan acara ‘semut-semut masuk TV'. Heheh.. dengan demikian kawan-kawan, hingga anak-anak di keluargaku besar kayak gini, kami semua ga hobi nonton TV. Ada aja yang bisa dikerjakan selain nonton TV.

Pola pendidikan? Hehe.. ga tau juga nich. Yang jelas, seingatku ya.. kalo' kami ulang tahun, hadiahnya pasti buku. Ga sembarang buku, bahkan kadang-kadang bisa dikatakan terlalu berat untuk anak-anak seumuran kami. Trus, ayahku kan sering pergi tuch... naaa... baliknya juga bawa buku. Dan aturan tak tertulis yang dengan sendirinya dipatuhi: bila seseorang dapet buku, maka anggota keluarga yang lain boleh membacanya. Jadinya, aku kelas 2 SD dah baca Sherlock Holmes, STOP, Malory Towers, dll. Kelas 4 SD, baca-baca petualangan-petualangan para pelaut macam Vasco da Gama, Amundsen, Christopher Colombus, dll. Kelas 6 SD bacaannya Tom Sawyer sampe' Max Havelaar. Hehehe.... Satu lagi yang ditekanin, KOMIK adalah barang TERLARANG di rumah kami!!! Wah, ga pernah baca komik donk? Ga usah munafik dech, aku pernah baca komik juga kok. Minjemnya diam-diam, bacanya diam-diam juga. Caranya? Buka buku pelajaran, masukkan komik di dalamnya, dan nikmati. Wekeke... dan jika lupa dengan trik itu, kemudian terderngar pintu kamar terbuka, aku bakal cepet-cepet nyimpen itu komik di bawah bantal dan pura-pura tidur.Tongue out Hehehe..

Apa lagi? Oia, dulu kami langganan koran dan majalah banyak banget.

Koran              : Republika

Tabloid             : Adil, Tekad

Majalah            : Intisari, Hidayatullah, Amanah, Mentari Putra Harapan

Kekeke.. dan semuanya tuntas terbaca. Malah rebutan mbacanya.. tapi saat terjadi krisis moneter, satu per satu kami mengeliminasi bacaan-bacaan tersebutFrown. Hingga kini, Republika dan Hidayatullah lah yang masih bertahan.

Ngomong-ngomong tentang buku, aku ada pengalaman lucu (kalo ga jayus sich..Tongue out) tentang majalah Intisari.

*          *          *

Bulan itu, awal bulan... terdengar suara motor yang khas. Aku segera ceria, karena kutahu itu adalah tukang koran langganan keluarga kami. Dia pasti membawakan Intisari. Segeralah kusambut tukang koran itu. Yak benar..!! Setelah mengucapkan terima kasih dan menunggunya berlalu, aku segera masuk rumah dan membacanya. Mumpung lagi nggak ada orang, jadinya ga' usah rebutan.

Tiba-tiba aku merasa sakit perut. Waduh, pengen boker nich! Padahal bacanya belum selesai. Gimana nich? Ntar kalo' kutinggal majalahnya, trus kakakku pulang gimana? Pasti diambil tuch majalah n' susah ngrebutnya kalo kakak belum selesai.  Disembunyikan? Ach! Penasaran ma artikel berikutnya nich. Yawdah, akhirnya kuputuskan untuk kubawa ke kamar mandi sekalian aja lah! Heheh..

Krik..krik.. asik nech, biar lagi boker tetep aja masih bisa baca. Sekalian aja abisin baca tuch majalah di dalam sono. Fiuh.. akhirnya selesai juga majalahnya.. hajatnya juga dah terpenuhi. Lalu kutaruh majalahnya di rak di kamar mandi yang sering buat naruh buku juga.. lalu beristinja' dulu dech.

Tiba-tiba, terdengar suara bel berbunyi. "Ting.. tong.. ting.. tong... Assalamu ‘alaikum!!!"

SurprisedAku terkejut dan segera kusambar majalah dari rak yang letaknya tepat di atas bak mandi. Dan.. "Byuuur!!!" jatuh dech ke dalam bak...Sealed

Segera kuselamatkan majalahnya dan kubawa keluar. Huh.... kubuka pintu. Och, ternyata kakakku. Dia melihat majalah yang kubawa. Segera direbutnya majalah itu, "Majalah baru ini, dek?"

"Undecided Iya," jawabku cuek.

Lalu saat kakakku menyentuh halaman belakangnya.."Baru kok kriting gini?!!Yell Apa tadi hujan?" tanyanya..

"Kecebur bak mandi!!! Innocent" jawabku cuek sambil ngabur ke kamar.

*          *          *

Heheh.... yach, moga-moga tulisan ini cukup ringan yach! Meskipun panjangnya juga cukup (panjang). Makasih ya dah baca sampe' selesai...Smile

Posted by re_here at 21:25:41 | Permanent Link | Comments (14) |

Sunday | November 19, 2006

Hidup Bagai Air Mengalir

Orang sering salah kaprah tentang ungkapan itu. Dikiranya hidup bagai air mengalir itu hidup tanpa usaha? Berjalan begitu saja, seiring berlalunya waktu? BukaanYell.. bukan itu maksudnya. Perumpamaan hidup ini adalah seperti air yang mengalir.

Sesuai dengan hukum alam yang berlaku, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah (kecuali kalau ditarik pake' pompa airTongue out). Dalam perjalanan itu, air telah melewati tempat-tempat yang berbeda. Artinya, semakin rendah tempat yang dicapai air itu, semakin banyak tempat yang telah dilaluinya. Apa maknanya dalam kehidupan? Dalam hidup ini, semakin kita berilmu, kita harus lebih rendah hati. Jangan sombonglah... karena semakin kita tahu, semakin banyak pula yang tidak kita ketahui.

Air mengalir dari hulu ke hilir. Tujuan akhir dari si air adalah laut. Dia bercita-cita untuk mencapai laut. Tapi di tengah-tengah perjalanannya menuju laut, banyak halangan rintangan menghadang. Ada yang membendung alirannya untuk persediaan air, ada yang membuat jalur baru untuknya ke sawah, ada yang mengarahkannya ke perumahan, ada yang menggunakannya untuk pembangkit listrik, dan lain sebagainya. Bila air ini tidak memiliki tenaga yang kuat, dia tak akan bisa mencapai tujuannya: laut. Tapi ada kalanya air yang berkecepatan tinggi tidak mencapai laut karena dibendung untuk keperluan tertentu. Begitu pula dengan hidup ini. Kita memiliki cita-cita dalam hidup yang berusaha kita raih. Namun di dalam perjalanan kita dalam meraih cita-cita, banyak halangan melintang. Ada yang berusaha membendung cita-cita kita, ada suatu hal yang membelokkan cita-cita semula, ada yang memanfaatkan cita-cita kita untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, manusia yang tidak memiliki tekad yang kuat akan berhenti di tengah-tengah perjalanannya meraih cita-cita. Kita harus memiliki tekad yang kuat dan berusaha semaksimal mungkin dalam meraih suatu tujuan. Tapi ada kalanya dengan tekad yang kuat masih belum bisa meraih cita-cita. Itulah, ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan kita. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam meraih suatu tujuan, namun berhasil atau tidaknya berada di tangan Allah. Namun jangan lupa, Allah memberikan sesuatu kepada kita sesuai dengan usaha kita. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha.

Begitulah..Hidup bagai air yang mengalir, bukan berarti kita mau saja dibelokkan kemana-mana, tak mau berusaha. Tapi kehidupan ini bagaikan perjalan air yang mengalir, penuh rintangan. Namun semakin banyak hal yang kita ketahui, semestinya kita semakin rendah hati. Tak perlu sombong.. begitulah alam memberikan hukumnya. Smile

Posted by re_here at 21:53:33 | Permanent Link | Comments (13) |